76 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Tiongkok, Kontribusi Besar Apa yang diraih?

Sumber Foto : China Daily via Reuters 

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang bagi Indonesia yang semakin lama semakin menguat. Sebagai salah satu mitra dagang dan investor asing terbesar bagi Indonesia, Tiongkok memberikan kontribusi besar dalam sektor-sektor industri  strategis khususnya ekonomi digital, infrastruktur, dan nikel.

Bacaan Lainnya

Misalnya industri nikel, industri tambang seperti proyek hilirisasi mineral, hingga sektor transportasi seperti kereta cepat Whoosh Jakarta – Bandung.

Hubungan diplomatik Indonesia dan Tiongkok sudah terjalin selama 76 Tahun terhitung sejak 13 April 1950. Walau sempat mengalami gangguan pada tahun 1965, tetapi berhasil dipulihkan kembali dan berkembang hingga sekarang.

Namun, pada era Presiden Prabowo saat ini, Indonesia seperti lebih memfokuskan untuk memperkuat hubungannya dengan negara-negara barat.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Prof. Dr. Dafri Agussalim, M.A. Ia menyampaikan bahwa orientasi politik luar negeri saat ini lebih cenderung ke negara barat.

Bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace (BoP) dan Agreement on Reciprocal Trade (ART) menegaskan bahwa Indonesia cenderung memihak negara barat.

“Setelah Indonesia masuk BoP jadi perangkap untuk kita. Ada kesan bahwa orientasi politik luar negeri kita lebih ke barat, pada saat yang sama mencerminkan bahwa Indonesia berusaha menjaga jarak dengan timur termasuk Cina,” ucap Dafri, Senin (13/4).

Bagi Dafri, untuk tetap mempertahankan hubungan baik antara Indonesia dan Tiongkok saat ini dapat menjalankan strategi diplomasi balancing atau hedging. Indonesia tidak terlalu terlihat memihak salah satu pihak tetapi menyeimbangkan kepentingan negara barat dan timur.

“Idealnya menurut saya politik luar negeri kita terutama di bawah kepemimpinan Pak Prabowo harus di-review ulang melalui kajian mendalam yang orientasinya demi kepentingan nasional,” ungkapnya.

Dafri berharap bahwa dengan melihat dinamika geopolitik, geostrategis saat ini, politik luar negeri Indonesia dapat dikaji ulang dalam jangka panjang kedepan sehingga Indonesia tidak salah langkah. Sebenarnya, Indonesia punya modal yang cukup, bilamana dapat memanfaatkan perencanaan posisi Indonesia baik di kawasan ASEAN maupun dunia untuk mendapatkan kepercayaan hubungan antar negara.

“Harapannya kita tetap memiliki hubungan baik dengan Cina maupun dengan negara barat yang lain demi kepentingan Indonesia baik di bidang ekonomi, politik, hingga keamanan negara.” harapnya.

Jesi & KabarTerkiniNews.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *