Sleman, KabarTerkniNews.co.id – Program School-based Mental Health Indonesia (SBMH)mempresentasikan urgensi peningkatan kesehatan mental bagi remaja. Program ini berjalan selama dua tahun dan kini memasuki tahun ketiga. Untuk keperluan sosialisasi, pelaporan,serta diseminasi program,
Tim Program School-based Mental Health Indonesia (SBMH)melaksanakan Stakeholder Meeting bertema “Connect to Care:Sinergi Peningkatan Kesehatan Mental di Sekolah dan Masyarakat”.
Kegiatan Stakeholder Meeting yang dilaksanakan di Kolektif Co-working space ini mempertemukan pegiat kesehatan mental lintas sektor. Mulai dari perwakilan NGO yaitu YAKKUM,Central Public of Mental Health, SehatJiwa, dll.
Akademisi juga turut hadir untuk memberikan perspektif dalam sudut pandang riset. Pemerintah yang diwakili oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, DP3AP2, dan BAPPERIDA juga ikut serta hadir dalam kegiatan. Serta guru-guru SMA/SMK/SMP se-DIY yang harapannya menjadi ujung tombak untuk penegakan kesehatan mental di sekolah jumlah peserta yang hadir 40orang
Program School-based Mental Health Indonesia (SBMH) diinisiasi oleh Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia (LAKI) dan Yayasan Rumpun Nurani telah berjalan di dua sekolah menengah yang menjadi sekolah percontohan yakni SMA BIAS dan SMA Negeri 1 Sleman.Proses yang dilakukan oleh Tim SBMH adalah melakukan screening awal, intervensi, serta monitoring dan evaluasi.
Menurut Rennta Chrisdiana, M.Sc project leader Rumpun Nurani ” Membuat program ini bisa berjalan sebaik ini dan juga inisiatif-inisiatifnya bisa diterima, karena memang dilakukan oleh anak muda untuk anak-anak sendiri.
Rennta juga menyebutkan bahwa mungkin yang perlu banyak kita highlight, karena salah satu permasalahan kita sebagai tekanan pada mental health anak muda itu adalah : ” Intergenerational Communication, trauma, cara berinteraksi antara orang tua dengan anak itu sangat berjarak Bahkan mungkin kita punya satu film diorama itu yang disebut dengan asing dalam satu atap”
Jumlah siswa yang diintervensi adalah 825 siswa beserta dengan orang tua dan 60 guru di kedua sekolah. Pada screening awal, ditemnukan bahwa siswa terindikasi mengalami kecemasan dan depresi pada tingkat sedang hingga tinggi. Permasalahan terbesar yang dihadapi oleh siswa meliputi masalah keluarga, personal, hingga akademik. Guru dan orang tua merasa sudah memberikan dukungan yang cukup untuk anak. Namun, siswa merasa bahwa mereka belum mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.
Setelah mendapatkan hasil screening awal, Tim SBMH melakukan intervensi dengan pendekatan multi-tiered yaitu universal intervention, targeted intervention, dan risk intervention.Universal intervention ialah intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan awareness atau kesadaran terhadap kesehatan mental.
Intervensi ini diberikan untuk seluruh siswa yang meliputi psikoedukasi melalui guru BK dan dialog bermakna melalui film.Targeted intervention merupakan intervensi yang menyasar beberapa siswa untuk diberikan pelatihan menjadi konselor sebaya. Pelatihan ini dilaksanakan untuk memberikan dukungan awal psikologis bagi siswa lain yang membutuhkan.
Risk intervention merupakan intervensi khusus bagi siswa yang rentan untuk dirujuk ke profesional. Intervensi-intervensi tersebut merupakan upaya untuk membangun sistem rujukan kesehatan mental (referral pathways) yang mudah diakses oleh sekolah.
Intervensi-intervensi yang telah dilakukan menghasilkan peningkatan dalam penanganan siswa.Kedua sekolah telah beralih dari pendekatan hukuman menuju dialog, empati, dan dukungan proaktif. Guru juga semakin aktif mengidentifikasi potensi masalah sejak dini dan mengintegrasikan dukungan emosional dalam interaksi harian. Selain itu, ada peningkatan pula pada sistem dukungan sebaya seperti adanya revitalisasi PIK-R atau divisi kesehatan di OSIS masing-masing sekolah.
selain itu kita juga ada campaign kesehatan mental dengan hastag #connecttocare, di dalam campaign itu kita ada 4 film yg dengan program berlayar, kegiatan ini adalah bercerita lewat layar,ruang teduh Support grup, berisi kegiatan grup support yg terbatas 10-15 orang, podcast ruang teduh yang membahas seputar kesehatan mental, book talk sharing buku dan bercerita lewat buku, kita akan melaksanakan festival kesehatan mental yang harapannya bisa menggandeng banyak stakeholder holder untuk menyuarakan kepedulian terhadap kesehatan mental.
Campaign berfokus pada kesehatan mental secara general untuk meningkatkan awaeness masyarakat. #connecttocare harapannya bisa benar-benar sama bergabung dengan banyak stakeholder
Pelaksanaan Stakeholder Meeting ini merupakan upaya SBMH untuk membangun komunikasi lintas sektor sehingga tercipta sistem dan kolaborasi lanjutan sebagai upaya peningkatan dan promosi kesehatan mental remaja. Kesehatan mental merupakan hal yang penting untuk menjadi perhatian, terutama di Yogyakarta yang mana memiliki kasus gangguan kejiwaan tertinggi di indonesia.
Kesehatan mental sudah masuk di RJP. Namun tentu saja perlu adanya kolaborasi antar pemangku kepentingan sehingga dapat menciptakan sistem kesehatan mental yang terintegrasi.
Pada Akhirnya, yang perlu diperhatikan sebagai anak terhadap orang tua adalah ” bagaimana anak perlu punya kesadaran berharga Tentang bagaimana orang tua sesungguhnya berkomunikasi dan bagaimana mereka wujud cintanya orang tua itu seperti apa.”
“Pada saat yang sama, ini tantangan saya yang menurut saya agak-agak berat itu juga adalah Orang tua mulai menyadari tanggung jawabnya dan kebutuhannya untuk berubah, belajar dan berubah Karena kondisi sekarang bukan seperti kondisi ketika kita, tadi dibesarkan dulu, pungkas project leader Rumpun Nurani .
Tim KabarTerkiniNews.co.id
.