Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id – Puluhan hektare lahan padi di Desa Siwalan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, terancam gagal panen. Kondisi tersebut diduga dipicu terganggunya sistem pengairan sawah akibat alih fungsi lahan yang kini digunakan untuk pembangunan pabrik.
Sejumlah petani penggarap mendatangi lokasi pembangunan pabrik untuk menyampaikan keluhan mereka. Kedatangan para petani ini bertujuan menuntut kejelasan terkait saluran irigasi sawah yang disebut-sebut ditutup oleh pihak proyek.
Para petani menyebut, saluran air yang sebelumnya berfungsi sebagai jalur pengairan sawah kini tidak lagi dapat digunakan. Akibatnya, aliran air menuju area persawahan menjadi tidak lancar, padahal saat ini telah memasuki musim tanam.
“Kami datang ke sini karena saluran air untuk sawah ditutup. Sekarang musim tanam, tapi air tidak bisa mengalir dengan normal,” ujar salah seorang petani kepada wartawan.
Menurut para petani, pihak proyek pabrik sempat menjanjikan akan membuatkan saluran pengganti agar pengairan kembali normal. Namun hingga saat ini, janji tersebut belum terealisasi.
“Katanya sudah dijanjikan sejak Oktober 2025, tapi sampai sekarang air belum juga normal,” kata petani lainnya.
Kondisi ini membuat para petani kebingungan untuk memulai masa tanam. Air hujan yang menggenangi sawah tidak dapat mengalir keluar, sehingga lahan menjadi terlalu basah dan sulit diolah.
Selain menghambat proses tanam, genangan air tersebut juga dikhawatirkan memicu munculnya hama, terutama keong sawah, yang berpotensi merusak tanaman padi sejak awal pertumbuhan.
Para petani juga mempertanyakan pihak yang akan bertanggung jawab atas kerugian yang mereka alami. Menurut mereka, kerugian sudah mulai terasa akibat tertundanya masa tanam.
Kepada wartawan, para petani merinci besaran kerugian yang dialami bervariasi, mulai dari Rp3 juta hingga Rp6 juta per orang, tergantung luas lahan yang digarap.
Mereka berharap ada solusi konkret dari pihak pabrik maupun pemerintah desa agar permasalahan pengairan dapat segera diselesaikan dan petani tidak semakin dirugikan.
“Kami hanya minta saluran air dikembalikan atau dibuatkan yang baru supaya sawah bisa dialiri air seperti semula,” ungkap salah seorang petani.
Menanggapi keluhan tersebut, Bambang, salah satu mandor proyek pembangunan pabrik, menyatakan bahwa pihaknya berencana membuat saluran air pengganti.
“Kita akan buatkan saluran penggantinya nanti,” ujar Bambang singkat.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Pemerintah Desa Siwalan belum membuahkan hasil. Saat wartawan mendatangi kantor desa, kepala desa tidak berada di tempat.
Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon juga belum mendapat respons. Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah desa belum memberikan keterangan resmi terkait permasalahan tersebut.
Redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah desa dan pengelola proyek pabrik, agar persoalan ini dapat dijelaskan secara menyeluruh dan solusi yang adil bagi para petani segera ditemukan.
Kermit







