Bantul, KabarTerkiniNews.co.id – Hari raya Idul Fitri, bukan hanya identik soal mudik, opor ayam, dan momen sungkeman. Lebaran di Yogyakarta, juga diramaikan dengan tradisi-tradisi unik, yang sarat makna budaya dan nilai kebersamaan. Salah satunya, Grebeg Bakdho Ketupat, yang digelar oleh warga Deresan, Ringinharjo, Bantul. Sebuah tradisi turun temurun, yang sarat makna kebersamaan, dan suka cita merayakan lebaran.
Suasana berebut gunungan ketupat
Hanya dalam hitungan detik, satu buah gunungan berisi ketupat dan hasil bumi, ludes jadi rebutan warga. Meski harus berdesakan, warga nampak antusias, demi mendapatkan ketupat berisi nasi dan uang pecahan dua ribuan tersebut.
Inilah, salah satu kemeriahan yang tampak, saat tradisi Grebeg Bakdho Kupat (ketupat) digelar, oleh warga Pedukuhan Deresan, Kalurahan Ringinharjo, Kabupaten Bantul, sabtu (21/03) malam.
Ribuan warga, tumpah ruah memenuhi area grebegh, larut dalam suka cita, merayakan hari raya idul fitri dengan penuh semarak.
Sebelumnya, gunungan ketupat diarak berkeliling desa, oleh puluhan warga dengan pakaian adat jawa. Alunan ritmis tabuhan musik dan terompet, mengiringi langkah prajurit bregodo, sebagai cucuk lampah.
Sulistya Atmaji, selaku Lurah Ringinharjo menuturkan, Bakdho kupat, atau lebaran ketupat, merupakan tradisi peninggalan leluhur, pada masa Sunan Kalijaga menyebarkan agama islam di wilayah tersebut, yang hingga kini tradisi tersebut masih terus dilestarikan.
Perayaan ini biasanya dilakukan saat memasuki bulan syawal, atau perayaan Idul Fitri, setelah umat islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan.
“ini tak sekedar suka cita merayakan lebaran, namun juga menumbuhkan Sejarah di masyarakat, tentang asal usul grebegh ketupat ini ada.” Ujar Lurah Ringinharjo.
Ketupat sendiri, berupa rangkaian anyaman janur, yang memiliki makna perlambang kesucian hati. Sedangkan isi ketupat, yang berisi nasi padat maupun uang, mencerminkan kesempurnaan dalam beribadah dan bersedekah.
“tradsi ini kita harapkan tetap terus digelar setiap tahun, agar masyarakt tertanam jiwa saling berbagi dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima.” Imbuhnya.
Sementara itu, menurut Ketua Grebeg Bakdo Ketupat Deresan, Mas Bekel Atmo Yasinto, tradisi berbalut religi dan budaya ini digelar, selain sebagai ajang silaturahim guyub rukun warga, juga menjadi pendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.
“ini sebagai media silaturahim warga disini khususnya, yang secara langsung juga berdampak pada sendi-sendi ekonomi UMKM lokal, yang turut terdongkrak.” Tuturnya abdi dalem keraton Yogyakarta Hadinigrat tersebut.
Joko Pramono







