Ajmir Akmal, Pemuda Asal Aceh yang Turun Tangani Korban Banjir Bersama Mata Garuda

Aceh Utara, KabarTerkiniNews.co.id – Hujan deras yang mengguyur Aceh pada akhir November 2025 bukan hanya membawa banjir dan longsor. Ia juga memadamkan listrik, memutus jaringan komunikasi, serta melumpuhkan akses ekonomi di banyak wilayah. Mesin ATM tidak berfungsi, sinyal internet menghilang, dan ribuan warga terpaksa bertahan di pengungsian dalam ketidakpastian. Namun, di tengah situasi yang nyaris melumpuhkan semua aktivitas itu, ada satu hal yang justru bergerak cepat yaitu solidaritas.

Dari Beasiswa ke Garis Depan Bencana

Bacaan Lainnya

Di balik koordinasi bantuan yang mengalir ke berbagai daerah terdampak, ada sosok Ajmir Akmal, awardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) asal Aceh Utara. Alumni Magister Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memilih tidak hanya menjadi penonton bencana. Ia justru turun langsung, menggerakkan jejaring alumni LPDP yang tergabung dalam Komunitas Mata Garuda Aceh untuk memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke tangan para penyintas.

“Di situ saya merasa, ilmu dan jejaring yang kami punya harus benar-benar digunakan. Kalau bukan saat seperti ini, lalu kapan?” kata Ajmir saat berbincang dengan redaksi majalah Media Keuangan.

Dari Keluarga Sederhana ke Pendidikan Tinggi Ruang-Ruang Perubahan

Ajmir lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana di Aceh Utara. Orang tuanya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak menentu. Bersekolah hingga memiliki pendidikan tinggi pernah terasa seperti mimpi yang terlalu jauh baginya. Namun, sejak muda Ajmir menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling masuk akal untuk mengubah nasib keluarga.

“Kalau bukan lewat sekolah, kami tidak punya banyak pilihan,” ujarnya ketika berbincang dengan redaksi Majalah Media Keuangan.

Tekad itu membawanya mengikuti seleksi beasiswa LPDP pada 2015. Ia menempuh perjalanan darat hampir sembilan jam ke Medan dengan bekal seadanya dan tanpa jaminan kelulusan. Percobaan pertama gagal. Namun, Ajmir tidak berhenti. Ia kembali mencoba untuk kedua kalinya hingga akhirnya dinyatakan lolos. Menurutnya, beasiswa LPDP ini menjadi pembuka jalan yang selama ini terasa tertutup baginya.

Di IPB, Ajmir tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya kurang dari dua tahun, namun ia juga mencari rekan dan jejaring sebanyak-banyaknya. Dalam program Persiapan Keberangkatan (PK), sebenarnya ia pun juga mulai banyak berjejaring dan sudah menyerap nilai-nilai pengabdian yang kelak membentuk cara pandangnya. Ia menyadari bahwa memiliki jejaring yang luas itu adalah suatu keistimewaan.

Alih-alih mengejar karier di kota besar, Ajmir memilih pulang ke Aceh. Ia menjadi dosen di Universitas Al-Muslim sekaligus aktif melakukan pendampingan kepada petani dan kelompok masyarakat desa. Ia juga terlibat dalam pengembangan pestisida alami bersama warga sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan pertanian lokal.

Baginya, keputusan pulang bukan sekadar konsekuensi moral sebagai penerima beasiswa negara, melainkan bentuk komitmen personal untuk berkontribusi langsung di daerah asal. “Ilmu itu bukan untuk ditinggikan, tapi untuk diturunkan ke masyarakat,” katanya.

Jejaring alumni LPDP kemudian memperluas ruang geraknya. Lewat Mata Garuda Aceh, Ajmir terlibat aktif dalam sosialisasi beasiswa, kegiatan pendidikan, dan kolaborasi lintas daerah. Semua itu ternyata menjadi fondasi penting baginya ketika ia harus bergerak cepat untuk ikut dalam penanganan bencana Aceh di akhir November 2025.

Saat Aceh Gelap Total

Banjir besar mulai melanda Aceh pada 26 November 2025 yang kemudian mengakibatkan bencana. Sehari setelahnya, Mata Garuda Aceh membuka donasi. Ajmir dipercaya menjadi koordinator. Donasi pertama yang masuk hanya ratusan ribu rupiah. Namun di lapangan, kebutuhan sudah mendesak. Desa-desa terisolasi, pengungsi kehabisan makanan, dan akses logistik nyaris lumpuh.

“Kondisinya seperti kembali ke masa ketika uang tidak lagi berarti,” kenang Ajmir.

Selama hampir dua pekan, sebagian wilayah Aceh hidup tanpa listrik dan jaringan komunikasi memadai. Informasi datang terputus-putus. Bahkan kabar tentang keluarganya sendiri baru diterima Ajmir empat hari setelah bencana.

Namun, jejaring alumni LPDP menjadi kunci. Awardee LPDP tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Aceh. Ada yang menembus lokasi terdampak dengan perahu, ada yang memfasilitasi bantuan lewat helikopter, ada yang mengoordinasikan distribusi dari Medan dan Banda Aceh. Donasi yang masuk tidak dibiarkan mengendap. Begitu terkumpul, bantuan langsung disalurkan.

Hingga beberapa pekan setelah bencana, lebih dari 300 titik lokasi telah menerima bantuan yang dikoordinasikan Ajmir bersama tim Mata Garuda Aceh. Bantuan tidak hanya berupa sembako, tetapi juga air bersih, sumur bor, perlengkapan sekolah, kitab suci, hingga pembersihan sekolah-sekolah yang sempat tertimbun lumpur setinggi pinggang.

Lebih dari Sekadar Tanggap Darurat

Bagi Ajmir, pemberian bantuan kepada korban bencana tidak boleh berhenti di fase darurat. Pemulihan harus terus dilakukan. Ekonomi dan pendidikan harus menjadi perhatian utama. Sebagai akademisi, ia menaruh perhatian besar pada upaya memastikan sekolah-sekolah bisa kembali berfungsi dan anak-anak dapat melanjutkan proses belajar.

“Kalau sekolah tidak segera pulih, dampaknya bisa panjang. Anak-anak bisa kehilangan momentum belajar,” ujarnya.

Di sisi lain, alumni LPDP yang berlatar belakang medis juga turun langsung memberikan layanan kesehatan di lokasi pengungsian. Obat-obatan hasil donasi didistribusikan, layanan pemeriksaan kesehatan dibuka, dan pendampingan psikososial diberikan bagi warga yang terdampak.

Di tengah segala keterbatasan, Mata Garuda Aceh memilih fokus pada satu misi kecil namun bermakna. Mereka fokus untuk membantu satu keluarga janda dengan lima anak yatim agar bisa memiliki tempat tinggal tetap setidaknya sebelum Idulfitri.

“Kami tahu semua butuh bantuan. Tapi kami memilih memastikan satu keluarga ini benar-benar tertolong,” kata Ajmir.

Baginya, tindakan kecil yang konkret seringkali memiliki dampak psikologis besar bagi para penyintas. “Mental korban itu sebenarnya sudah sangat terpukul. Kehadiran kita saja di sana sudah bisa memberi semangat,” ujarnya.

Kontribusi Awardee LPDP Tak Boleh Berhenti

Ajmir menegaskan bahwa peran awardee LPDP seharusnya tidak berhenti pada fase tanggap darurat saja, melainkan berlanjut pada pendampingan jangka panjang pascabencana. Ia mengingatkan kembali nilai yang tertanam dalam proses seleksi LPDP, khususnya saat para calon awardee diminta menuliskan rencana kontribusi mereka bagi bangsa.

“LPDP meminta kita menulis kontribusi yang ingin kita lakukan. Harapan saya, ketika sudah menjadi awardee, lakukanlah seperti yang kita tulis,” katanya.

Menurut Ajmir, pengalaman di lapangan mengajarkannya bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk proyek besar. Kadang, kehadiran, pendampingan, dan konsistensi justru menjadi bentuk kontribusi yang paling dibutuhkan masyarakat.

Koordinasi Lintas Unit Menjadi Kunci

Ajmir juga menekankan pentingnya koordinasi lintas unit dan Kementerian/Lembaga agar penanganan bencana tidak berjalan sendiri-sendiri, terutama pada fase pemulihan. Menurutnya, sektor yang paling terdampak seperti pertanian dan ekonomi membutuhkan kolaborasi yang lebih terstruktur.

“Mungkin pemerintah bisa membantu penyediaan alat berat, kemudian bagaimana petani ini (bisa) mendapat permodalan khusus,” ujarnya menambahkan bahwa pemulihan bencana seperti ini tidak cukup dilakukan hanya sesaat saja.

Ia juga menyoroti perlunya sinergi antar instansi teknis. Menurut Ajmir, koordinasi lintas unit bukan hanya bisa mempercepat pemulihan infrastruktur, tetapi juga memastikan agar masyarakat terdampak benar-benar bisa kembali memiliki penghidupan yang berkelanjutan.

Beasiswa yang Menumbuhkan Karakter

Bagi Ajmir, beasiswa LPDP bukan hanya soal akses pendidikan, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Nilai kepemimpinan, empati, dan tanggung jawab sosial yang ditanamkan sejak proses seleksi hingga masa studi membentuk cara pandangnya dalam memaknai pengabdian.

Apa yang ia tulis dalam rencana kontribusi saat seleksi kini ia wujudkan melalui kerja-kerja nyata di lapangan. Dari ruang kelas hingga lokasi bencana, dari pendampingan petani hingga koordinasi bantuan kemanusiaan, Ajmir memilih untuk terus hadir di tengah masyarakat Aceh.

Dari Aceh yang perlahan bangkit dari lumpur dan gelap, kisah Ajmir Akmal menjadi pengingat bahwa investasi negara di bidang pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah. Ia tumbuh menjadi energi sosial yang menggerakkan perubahan nyata. Dalam keputusan untuk pulang, bergerak, dan hadir saat sesama membutuhkan, Ajmir menunjukkan bahwa makna beasiswa sejati bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi tentang kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Nur Wahyu Nugroho

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *