Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id – Akibat robohnya atap SMA Negeri 1 Wiradesa yang terjadi Senin (29/12) siang dua pekerja bangunan terluka dan sudah di lakukan perawatan. Hal ini seperrti disampaikan Kapolsek Wiradesa Iptu Maman Sugiatro kepada waka media saat melakukan pengecekan ulang Selasa (30/12) kemarin.
“Saya mendapatkan informasi tentang robohnya atap sekolah SMA negeri 1 Wiradesa ini dari media sosial, dan saya bersama anggota langung mengecek ternyata kejadianya Senin Siang sekitar pukul 11:00, karna tidak ada laporan dari pihak sekolah. Informasi yang kami himpun ada dua pekerja bangunan yang mengalami luka dan sudah di lakukan perawatan dan hari ini masih istirahat di rumah.
Adapun yang atapnya roboh ada dua setengh kelas, tertimpa rohohan atap. Kami sudah melakukan pengecekan dan sudah melaoprkan kejadian ini ke Satreskrim Polres pekalongan untuk meindaklanjuti dengan oleh TKP, untuk mengetehaui penyebab robohnya atap sekolah yang sedang di bangun tersebut.
Dari data di lapangan proyek rahabilitasi ini menelan anggaran Rp 3.490.580.000 satu paket degan SMA Negeri 1 Kedungwuni dengan pelaksana pekerjaan CV Tunjung Steel Construction, yeng beralamtkan di Semarang.
Diwawancarai secara terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Tengah Wilayah XII, Sukamto. Mengatakan Insiden robohnya atap bangunan di SMA Negeri 1 Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, dipastikan merupakan murni kecelakaan kerja yang terjadi saat proses rehabilitasi gedung sekolah masih berlangsung.
Hal tersebut ditegaskan oleh Sukamto menjelaskan, bangunan yang mengalami kerusakan merupakan bagian dari proyek rehabilitasi yang hingga saat ini belum dilakukan serah terima pekerjaan, sehingga tanggung jawab perbaikan sepenuhnya masih berada pada pihak rekanan pelaksana.
“Ini adalah proyek rehabilitasi yang belum selesai dan belum diserahterimakan. Insiden yang terjadi merupakan kecelakaan kerja dalam proses pelaksanaan,” ujar Sukamto saat dikonfirmasi. Dia menyampaikan bahwa proyek rehabilitasi tersebut sejatinya ditargetkan rampung pada 31 Desember 2025.
Namun, akibat terjadinya insiden, pihak Cabang Dinas Pendidikan memberikan tambahan waktu kepada rekanan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai ketentuan yang berlaku. Menurut Sukamto, dalam aturan pengadaan barang dan jasa, rekanan masih dapat diberikan waktu tambahan maksimal hingga 50 hari kerja untuk menyelesaikan proyek yang belum rampung, termasuk melakukan perbaikan akibat insiden tersebut.
“Secara regulasi masih dimungkinkan adanya perpanjangan waktu. Selama belum ada serah terima, tanggung jawab teknis dan perbaikan tetap ada pada rekanan,” jelasnya.
Terkait penyebab robohnya atap, Sukamto menyebut bahwa kejadian tersebut diduga terjadi akibat faktor teknis dalam pelaksanaan pekerjaan, terutama saat proses pengerjaan struktur bangunan. Namun demikian, dia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak disengaja dan tidak dapat langsung disimpulkan sebagai pelanggaran, karena masih memerlukan evaluasi teknis lebih lanjut dari pihak terkait.
“Yang jelas, ini terjadi saat pekerjaan masih berjalan. Dari sisi kami, ini dikategorikan sebagai kecelakaan kerja,” tegasnya. Proyek rehabilitasi di SMA Negeri 1 Wiradesa sendiri dilaksanakan melalui mekanisme lelang resmi dan dikerjakan oleh rekanan asal Kota Semarang, yakni CV Tunjung Steel Construction.
Sukamto juga menjelaskan bahwa seluruh pekerjaan yang dilakukan merupakan rehabilitasi, bukan revitalisasi atau pembangunan gedung baru, sehingga dalam pelaksanaannya masih dimungkinkan penggunaan sebagian material lama.
“Dalam rehabilitasi memang diperbolehkan penggunaan material lama. Berdasarkan pengecekan, sekitar 20 persen material lama masih digunakan dan 80 persen menggunakan material baru,” terangnya.
Dia memastikan bahwa penggunaan material tersebut telah disesuaikan dengan ketentuan teknis yang berlaku dalam pekerjaan rehabilitasi bangunan sekolah.
Selain itu, pengawasan proyek disebut telah dilakukan oleh pihak terkait sesuai prosedur, baik dari unsur teknis maupun administratif. Terkait adanya pekerja yang mengalami luka akibat insiden robohnya atap, Sukamto menyatakan bahwa kondisi korban tidak mengalami luka serius dan telah mendapatkan penanganan medis.
“Memang ada pekerja yang sempat terluka, tetapi tidak parah dan sudah ditangani,” katanya. Pasca kejadian tersebut, aktivitas di lokasi proyek sempat dihentikan sementara guna memastikan keselamatan pekerja serta melakukan evaluasi terhadap struktur bangunan yang masih dalam proses pengerjaan.
Cabang Dinas Pendidikan Jawa Tengah Wilayah XII memastikan akan terus melakukan pemantauan agar proses penyelesaian proyek rehabilitasi di SMA Negeri 1 Wiradesa dapat berjalan sesuai standar keselamatan dan kualitas yang ditetapkan.
Pihaknya juga berharap insiden ini menjadi perhatian bersama agar pelaksanaan pekerjaan konstruksi di lingkungan pendidikan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja.
Kermit







