Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id – Program Pascasarjana UIN KH Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan menggelar International Conference on Islamic Studies (ICIS) ke-8 tahun 2025 dengan tema “Islam, Environment, and Sustainability: An Eco-theological Perspective” selama dua hari, Sabtu (22/11) hingga Minggu (23/11) di Hotel Howard Johson Pekalongan. Acara yang menghadirkan sekitar 270 presenter dari Indonesia, Malaysia, dan Nigeria ini bertujuan mengeksplorasi peran ajaran Islam dalam memecahkan tantangan keberlanjutan bumi.
Konferensi dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Gus Dur Prof Zaenal Mustakim , yang diwakili Wakil Rektor Dr Nur Kholis . Hadir juga Direktur Pascasarjana Prof Ade Dedi Rohayana , para dekan, lembaga dalam lingkungan kampus, dan mahasiswa. Pada acara pembukaan juga dilakukan penandatanganan nota kerjasama dengan INSIP, STAIBN, UNISS, STIE, dan IBN Tegal.
Dalam sambutannya, Nur Kholis menegaskan krisis lingkungan bukan hanya persoalan ilmiah, melainkan juga moral dan spiritual.
“Islam memandang manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keberlanjutan bumi,” ujarnya.
Tema tahun ini menyoroti kontribusi ajaran Islam dalam kelestarian lingkungan, dengan pembahasan mengenai perubahan iklim, etika ekologi menurut Al-Qur’an, energi terbarukan di negara Muslim, dan keberlanjutan berbasis pesantren. Para peserta juga membahas peran lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan kesadaran ekologi melalui integrasi ilmu lingkungan dengan nilai-nilai keislaman.
Ketua pelaksana ICIS 2025 Dr Ali Gufron menjelaskan bahwa konferensi tahunan ini selaras dengan visi Menteri Agama dan kebutuhan lokal Pekalongan yang menghadapi isu lingkungan yang mendesak.
“Untuk speaker-nya atau narasumbernya ada dari Malaysia dan juga dari Indonesia sendiri. Dari Malaysia kita ada tiga narasumber yang kita undang: dua dari Universiti Teknologi Mara Tammuz Malacca , Dr Halim dan Dr Rizwan, dan satu dari Universiti Sains Islam Malaysia ,Prof Rusdan,” terangnya.
Output konferensi ditujukan untuk pengembangan keilmuan, dengan hasil kajian akan dipublikasikan dalam bentuk proceeding. Beberapa rekomendasi penting juga dihasilkan, antara lain: memperkuat riset ekoteologi di perguruan tinggi Islam, mendorong kebijakan kampus hijau, meningkatkan literasi lingkungan dalam pendidikan Islam, dan memperluas kolaborasi internasional.
“Melalui konferensi ini, kita berharap muncul gagasan-gagasan baru yang mampu memperkuat ekoteologi Islam dalam menghadapi tantangan global,” tutup Nur Kholis.
Kermit







