Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Ajang mode terbesar di Yogyakarta, Jogja Fashion Week (JFW) akan kembali digelar pada tahun ini.
Menandai dua dekade lebih perjalanannya, Jogja Fashion Week (JFW) 2026 bersiap mentransformasi Jogja Expo Center (JEC) menjadi episentrum mode global pada 13-16 Agustus mendatang.
JFW 2026 mengusung tema ambisius “Roots of Resonance, Beyond”. Ajang ke-21 ini tidak sekadar menjadi peragaan busana, melainkan sebuah pernyataan bahwa akar budaya lokal mampu beresonansi menembus batas peradaban modern.
Gelaran yang diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY ini akan menampilkan lebih dari 1.000 karya mode dalam 10 sesi fashion show yang megah.
Tak kurang dari 96 desainer profesional, 12 desainer muda, hingga belasan desainer busana anak akan berkolaborasi di atas panggung, diperkuat dengan kehadiran desainer tamu setiap harinya untuk memberikan kejutan visual bagi para penikmat mode.
Ketua Panitia JFW 2026, Yuna Pancawati, menegaskan bahwa usia 21 tahun adalah momentum kematangan bagi JFW untuk menjadi pemimpin tren, bukan lagi sekadar pengikut.
Menurutnya, warisan budaya Yogyakarta yang adiluhung adalah energi utama yang dieksplorasi dalam setiap mahakarya yang akan ditampilkan.
“Perjalanan 21 tahun ini telah memberi kami pembelajaran besar untuk menjadikan Jogja Fashion Week sebagai ajang terkemuka di Indonesia.
Melalui tema tahun ini, kami ingin membuktikan bahwa tradisi yang dipadukan dengan teknologi dan kreativitas dapat menjadi produk mode yang relevan serta diterima oleh masyarakat dunia secara luas,” ujar Yuna Pancawati saat peluncuran JFW 2026 di GIK UGM, Kamis (12/2/2026).
Senada dengan hal tersebut, Ketua Harian Dekranasda DIY, GKBRAA Adipati Paku Alam, menyoroti aspek ekonomi dan kualitas produk yang akan hadir dalam pameran.
Ia menekankan bahwa JFW 2026 adalah destinasi belanja premium bagi kolektor dan pecinta mode karena melibatkan 150 tenant terpilih yang telah melewati proses kurasi ketat.
“Kami menciptakan ruang interaksi dan transaksi yang sangat efektif bagi para pelaku usaha fashion. Dengan partisipasi tenant dari berbagai daerah dan antrean waiting list desainer yang panjang, JFW 2026 adalah bukti nyata bahwa ekosistem ekonomi kreatif kita sedang berada di titik puncak. Ini adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan produk fashion dan aksesori terbaik dengan standar kualitas premium,” terang GKBRAA Adipati Paku Alam.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DIY memandang JFW sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mode internasional.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengapresiasi keberlanjutan acara ini yang terus berinovasi melalui program-program integratif seperti Business Matching dan kompetisi desainer muda.
“Pemerintah berkomitmen penuh mendukung pertumbuhan industri ini secara berkesinambungan. Melalui JFW 2026, kita tidak hanya merayakan keindahan visual, tetapi juga memperkuat komunikasi ekonomi yang berkelanjutan bagi para pelaku kreatif.
Kami ingin semangat dari Yogyakarta ini benar-benar bergema ke seantero dunia, membawa pesan bahwa fashion Indonesia adalah masa depan mode global,” kata Ni Made Dwipanti Indrayanti.
Selain fashion show, JFW 2026 akan memanjakan pengunjung dengan pengalaman edukasi yang lengkap, mulai dari seminar industri, shop talk, hingga presentasi produk. Dengan tren kunjungan dan omset yang konsisten merangkak naik setiap tahunnya, acara ini diprediksi akan menjadi magnet ekonomi baru di pertengahan tahun 2026.
Andri Tiyo







