KARANGANYAR Kabarterkininews.co.id – Keluhan pedagang di Pasar Jungke kian memuncak seiring penumpukan sampah yang tak kunjung teratasi. Kondisi ini diperparah dengan minimnya armada pengangkut milik dinas pasar yang dinilai tidak memadai dan tidak bisa diandalkan.
Tumpukan sampah yang menggunung di area pasar, khususnya di sisi utara, menimbulkan bau menyengat, dipenuhi belatung, serta mengundang lalat. Situasi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan jumlah pengunjung dan omzet pedagang, terutama saat momentum Lebaran.
Perwakilan pedagang pakaian, Wiyatmo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Ia menyebut, momen Lebaran yang biasanya menjadi puncak penjualan justru berbalik merugi.
“Pengunjung banyak yang tidak jadi belanja karena tidak tahan bau sampah. Bahkan ada yang langsung pulang. Ini sangat berpengaruh ke omzet kami,” ujarnya.
Menurutnya, pedagang yang berdekatan dengan titik pembuangan sampah menjadi pihak yang paling terdampak. Selain bau tidak sedap, banyaknya lalat dan munculnya belatung juga memicu kekhawatiran akan gangguan kesehatan.
Tak hanya itu, kondisi sampah yang menumpuk juga memicu warga luar pasar ikut membuang sampah di lokasi tersebut, sehingga memperparah keadaan dan menjadikan area itu seperti tempat pembuangan sementara (TPS) liar.
Armada Tak Layak, Pengangkutan Tersendat
Permasalahan utama terletak pada keterbatasan armada pengangkut sampah. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Karanganyar, Nugroho, mengakui kondisi tersebut.
Ia menyebut, dari total lima truk pengangkut sampah yang dimiliki, hanya satu unit yang benar-benar bisa diandalkan. Sementara empat lainnya dalam kondisi tua dan tidak layak operasional.
“Sebagian besar armada produksi tahun 1997–1998. Secara teknis sudah tidak optimal, sehingga pengangkutan sampah tidak bisa maksimal,” jelasnya.
Kondisi ini membuat proses pengangkutan sampah dari pasar sering terlambat, sehingga terjadi penumpukan. Padahal, idealnya satu truk didukung dua kontainer agar sirkulasi pembuangan berjalan lancar.
Namun, keterbatasan tidak hanya pada armada. Jumlah kontainer yang tersedia juga minim dan banyak yang rusak, sehingga memperparah kondisi di lapangan.
Selain itu, tingginya biaya pembuangan ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang mencapai Rp1,25 juta hingga Rp1,5 juta per rit turut menjadi kendala dalam optimalisasi pengangkutan.
DPRD Turun Tangan
Keluhan pedagang ini akhirnya mendorong Komisi B DPRD Karanganyar melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi. Dipimpin Ketua Komisi B, Latri Listyowati, sidak dilakukan bersama dinas terkait dan pengelola pasar.
Dalam sidak tersebut, DPRD menyoroti serius persoalan armada yang tidak memadai dan meminta langkah cepat dari pemerintah daerah.
“Kami minta ini segera ditangani. Tidak boleh ada lagi penumpukan sampah yang mengganggu aktivitas ekonomi pedagang,” tegas Latri.
Ia juga menekankan perlunya penambahan armada pengangkut serta pembenahan sistem pengelolaan sampah agar lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Harapan Pedagang
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan sementara, tetapi menghadirkan solusi jangka panjang, terutama dengan menambah armada yang layak dan memastikan pengangkutan sampah dilakukan secara rutin.
“Kami hanya ingin kondisi pasar bersih, nyaman, dan pembeli kembali datang. Kalau seperti ini terus, kami yang rugi,” pungkas Wiyatmo.
Dengan kondisi armada yang saat ini jauh dari ideal, perbaikan sistem pengelolaan sampah menjadi pekerjaan rumah mendesak bagi pemerintah daerah agar roda ekonomi di Pasar Jungke dapat kembali berjalan normal. ( Red/Her)







