Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, kembali menunjukkan respons cepat dan kepedulian nyata terhadap bencana banjir bandang yang melanda kawasan Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh Tamiang.
Dalam aksi kemanusiaan kali ini, pihak pesantren berhasil menghimpun dana tunai sebesar Rp470.400.000,00. Selain dukungan finansial, pesantren juga mengirimkan bantuan logistik dalam jumlah besar yang disalurkan melalui jaringan alumni di tiga provinsi terdampak.
Langkah ini diawali dengan kegiatan doa bersama yang dipusatkan di masjid pondok pesantren, pada senin pagi (15/12). Ustadz Dr. KH. Mustaqim Safar, M.Pd, selaku sesepuh dan perintis pondok, memimpin langsung ribuan santri putra dalam munajat tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan metode pendidikan karakter untuk menanamkan jiwa empati santri agar peka terhadap bencana nasional yang menimpa sesama anak bangsa.
Terkait mekanisme penyaluran bantuan, pihak pesantren menerapkan pemilahan alokasi yang ketat dan terstruktur. Dana tunai yang terkumpul sebesar lebih dari 470 juta rupiah tersebut sepenuhnya dialokasikan untuk pembelanjaan kebutuhan konsumsi dan kesehatan di lokasi bencana, seperti pengadaan sembako, obat-obatan, serta keperluan mendesak lainnya.
Di luar donasi uang tersebut, Darusy Syahadah juga mengirimkan bantuan fisik berupa 3.000 paket mushaf Al-Qur’an dan tiga truk berisi pakaian baru. Bantuan barang ini merupakan donasi terpisah yang dihimpun dari para aghniya dan wali santri untuk mengganti pakaian dan perlengkapan ibadah korban yang hanyut atau rusak terendam lumpur.
Dalam wawancara terpisah, tim kemanusiaan pondok menyoroti adanya pergeseran kebutuhan yang sangat mendesak di lapangan saat ini, terutama terkait krisis air bersih dan hunian. Dana bantuan kini juga diarahkan untuk pembuatan sumur-sumur air guna menjamin ketersediaan air minum dan sanitasi yang layak bagi para pengungsi.
Lebih jauh, Kiai Mustaqim yang juga pimpinan yayasan Yasmin menyoroti kondisi memprihatinkan terkait tempat tinggal korban. Saat ini, pengadaan terpal menjadi prioritas utama untuk mendirikan hunian sementara. Hal ini disebabkan karena selama masa tanggap darurat awal, para korban menumpang berteduh di toko-toko atau ruko milik warga yang tidak terdampak.
Namun, seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi, pemilik toko hendak mengoperasikan kembali usaha mereka, sehingga para pengungsi terpaksa harus meninggalkan lokasi tersebut. Situasi “terusir” dari pengungsian inilah yang membuat kebutuhan akan terpal dan hunian darurat mandiri menjadi sangat krusial agar para korban tidak terlantar tanpa atap.
Guna memastikan seluruh bantuan tersebut tepat sasaran dan efektif, Pondok Pesantren Darusy Syahadah melibatkan para alumninya yang berdomisili langsung di lokasi bencana. Para alumni ini bertindak sebagai ujung tombak penyaluran hingga tahap rehabilitasi pascabencana.
Pihak pondok juga menegaskan bahwa posko donasi kemanusiaan ini masih terus dibuka hingga momentum Hari Raya Idul Adha mendatang, dengan harapan dapat membantu para korban untuk segera bangkit dan menata kembali kehidupan mereka secara normal.
Taufik irvani







