Kerjasama Pesantren Ramah Anak dan UNICEF, Targetkan 100 Pondok di Jateng

Semarang, KabarTerkiniNews.co.id – UNICEF menyatakan dukungan penuh terhadap paradigma baru perlindungan anak di lingkungan pesantren melalui kebijakan Pesantren Ramah Anak di Jawa Tengah. Dalam sambutannya pada kegiatan Halaqoh Pesantren Ramah Anak di Semarang, UNICEF menyampaikan apresiasi atas berbagai regulasi yang telah hadir, serta mengajak Provinsi Jawa Tengah untuk tampil sebagai pelopor nasional dalam mewujudkan pesantren yang inklusif, aman, dan ramah anak.

UNICEF memberikan penghargaan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia atas terbitnya Peraturan Menteri Agama tentang Pesantren Ramah Anak yang dianggap sebagai tonggak penting reformasi pendidikan pesantren berbasis perlindungan anak. UNICEF juga memuji Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah melahirkan Peraturan Daerah tentang Pesantren dan mengintegrasikan konsep Pesantren Ramah Anak dalam Rencana Aksi Daerah Kabupaten/Kota Layak Anak di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga

Apresiasi khusus diberikan kepada Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten yang dinilai konsisten dalam mengawal proses dari penyusunan regulasi di tingkat kementerian hingga lahirnya peraturan gubernur, sebuah bukti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan perlindungan anak di pesantren berjalan komprehensif.

UNICEF menilai langkah-langkah yang telah ditempuh tersebut layak mendapat dukungan luas, dan karena itu UNICEF mendorong agar Jawa Tengah mampu menargetkan minimal 100 pesantren setiap tahun berkomitmen menjadi Pesantren Ramah Anak dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Keberhasilan inisiatif ini akan tampak melalui hadirnya para santri sebagai agen perubahan yang mampu menyuarakan nilai perdamaian, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman di tengah masyarakat. UNICEF juga mengusulkan agar pesantren-pesantren yang telah menunjukkan komitmen tinggi terhadap prinsip Pesantren Ramah Anak diberikan apresiasi khusus, misalnya dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional.

“Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga rumah kedua bagi jutaan anak. Dengan memastikan pesantren menjadi ramah anak, kita sedang membangun fondasi bangsa yang lebih adil, damai, dan berkeadaban. UNICEF siap mendampingi Jawa Tengah untuk menjadi pionir nasional dalam mewujudkan seluruh pesantren ramah anak dan melahirkan santri dan santriwati Peacemaker dan anti-kekerasan,” ujar Tubagus Arie Rukmantara, Chief of Field Office UNICEF Indonesia.

Selain itu, UNICEF menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan ke-16 yang menekankan pentingnya perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh. UNICEF juga menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Satuan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Pesantren (P2KP) yang dilakukan hari ini di Jawa Tengah, seraya berharap inisiatif tersebut dapat menjadi model nasional dalam membangun lingkungan pendidikan berbasis pesantren yang aman, inklusif, dan ramah anak.

Menurut data terbaru Kementerian Agama per Mei 2025, terdapat lebih dari 5.231 pondok pesantren di Jawa Tengah dengan jumlah santri mencapai sekitar 520.000 orang. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan data tahun ajaran 2021/2022 yang mencatat 4.842 pesantren dengan 554.006 santri.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyambut baik dukungan UNICEF dan seluruh pemangku kepentingan. “Pesantren adalah benteng moral bangsa sekaligus ruang tumbuh bagi para santri. Dengan adanya program Pesantren Ramah Anak, kami ingin memastikan bahwa seluruh santri di Jawa Tengah terlindungi dari segala bentuk kekerasan, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, serta tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang dan penghargaan terhadap keberagaman,” tegasnya.

Dengan jumlah pondok pesantren dan santri yang besar tersebut, UNICEF percaya Jawa Tengah memiliki potensi kuat untuk menjadi pionir nasional dalam menciptakan ekosistem pendidikan berbasis pesantren yang aman dan ramah anak. UNICEF berharap komitmen pemerintah daerah, kyai, nyai, dan seluruh santri dapat bersinergi untuk mempercepat perjalanan menuju terwujudnya Pesantren Ramah Anak, sebagai langkah nyata membangun masa depan yang lebih inklusif, damai, dan berkeadilan bagi anak-anak Indonesia.

Yovi Nugroho

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *