Perang AS–Iran Meluas, Rubio Sebut Operasi Militer Bisa Selesai dalam Hitungan Pekan

Sejumlah kendaraan terbakar dan bangunan hancur akibat serangan di kawasan konflik Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan sekutunya dengan Amerika Serikat dan Israel. (Foto: Reuters)

KABARTERKINI – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalami eskalasi dan meluas ke berbagai kawasan di Timur Tengah. Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat memperkirakan operasi militernya dapat segera berakhir dalam waktu relatif singkat.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran diperkirakan akan selesai dalam “hitungan pekan, bukan bulan”, meskipun serangan udara masih terus berlangsung di sejumlah wilayah strategis.

Mengutip Reuters, konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026 itu kini telah berkembang menjadi krisis regional, dengan keterlibatan berbagai pihak serta dampak luas terhadap stabilitas global.

Konflik Meluas Libatkan Banyak Pihak

Perang tidak lagi terbatas antara AS dan Iran, tetapi juga melibatkan kelompok sekutu di kawasan. Milisi Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan mulai melancarkan serangan ke wilayah Israel, menandai terbukanya front baru dalam konflik tersebut.

Selain itu, Iran juga melancarkan serangan balasan yang menyasar berbagai target, termasuk pangkalan militer dan fasilitas di negara-negara Teluk. Situasi ini memperburuk kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.

AS Tambah Kekuatan Militer, Hindari Perang Darat

Amerika Serikat telah mengerahkan tambahan pasukan, termasuk marinir, ke kawasan Timur Tengah. Namun, Rubio menegaskan bahwa pengerahan tersebut bukan untuk invasi darat, melainkan untuk memberikan fleksibilitas dalam merespons kemungkinan eskalasi lebih lanjut.

Pemerintah AS menyebut target utama operasi ini adalah melemahkan kemampuan militer Iran, termasuk sistem rudal, drone, serta kekuatan angkatan laut dan udara.

Dampak Global: Energi dan Ekonomi

Konflik ini juga berdampak terhadap ekonomi global. Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz menyebabkan terganggunya distribusi energi dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menurut laporan Reuters, kondisi ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi dan ketidakstabilan pasar global.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turki berupaya mendorong jalur diplomasi. Namun hingga kini, belum ada pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Tekanan Politik di Dalam Negeri AS

Konflik tersebut juga memicu tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Aksi protes terhadap perang mulai bermunculan, seiring meningkatnya dampak ekonomi dan mendekatnya agenda politik domestik.

Meski pemerintah AS optimistis operasi militer dapat segera berakhir, perkembangan di lapangan menunjukkan konflik masih berpotensi meluas dan terus menjadi perhatian dunia.
(Sumber: Reuters)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *