Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. mengatakan bahwa pengelolaan arus kendaraan pada saat Operasi Ketupat 2026 tidak hanya berdasarkan prediksi melainkan dengan parameter yang ada.
Hal itu ia sampaikan dalam Program Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV, Jumat (10/4/2026) bersama dengan Analis Kebijakan Transportasi Azis Tigor Nainggolan.
Kakorlantas menyebut bahwa penerapan predictive traffic policing hingga adaptive driver management menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan arus mudik dan balik 2026.
“Dengan predictive traffic policing, kami bisa menentukan kapan harus menerapkan contraflow, one way, hingga one way nasional. Semua berdasarkan parameter yang terukur, sehingga pergerakan kendaraan bisa diprioritaskan dengan baik,” kata Kakorlantas.
“Kita sudah menggunakan adaptive driver management termasuk juga kolaborasi dalam rangka kita bagaimana mengamankan di salah satu sektor contohnya di pelabuhan penyeberangan. Bagaimana kita merencanakan pengamanan di jalan tol dengan parameter-parameter keputusan manajemen rekayasa lalu lintas baik itu arus mudik dan arus balik,” sambungnya.
Irjen Pol. Agus menambahkan, pelaksanaan mudik tahun ini tercatat terjadi peningkatan signifikan jumlah pemudik. Namun, berkat strategi tersebut, arus lalu lintas tetap terjaga lancar. Bahkan, angka kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan.
“Alhamdulillah, angka fatalitas korban meninggal dunia secara nasional turun hingga 31 persen, dan peristiwa kecelakaan juga menurun. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan lalu lintas berjalan efektif,” ungkap dia.
Selain teknologi dan manajemen lalu lintas, keberhasilan Operasi Ketupat 2026 juga didukung oleh kolaborasi lintas sektor. Korlantas Polri bekerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, serta berbagai stakeholder dalam memastikan perjalanan masyarakat berjalan aman dan nyaman.
Kebijakan pendukung seperti pembatasan kendaraan sumbu tiga melalui Surat Keputusan Bersama (SKB), penerapan Work From Anywhere atau WFA, hingga program mudik gratis turut membantu mengurai kepadatan arus sejak awal.
“Kebijakan pemerintah yang tegas ini sangat mempengaruhi Operasi Ketupat. Yang pertama itu Work From Anywhere, dan yang kedua adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mengatur pembatasan kendaraan sumbu tiga. Ini tata kelola di jalan tol dan arteri ini bisa seimbang. Maka dari itu peristiwa kecelakaan bisa kita kurangi,” ungkapnya.
Pendekatan humanis juga menjadi bagian penting dalam operasi ini. Petugas di lapangan tidak hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga memberikan pelayanan, informasi, serta bantuan kepada pemudik di berbagai titik, seperti rest area, jalan tol, hingga pelabuhan penyeberangan.
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Negara hadir untuk memastikan masyarakat bisa mudik dengan aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan,” pungkasnya.
KabarTerkiniNews.co.id







