Sarasehan Budaya Soroti Kearifan Leluhur Menjaga Alam Di Tegal

Sleman, KabarTerkinINews.co.id – Sebagai kawasan ‘mangku pancuran sewu’, Kabupaten Tegal menjadi tempat berlabuhnya banyak kebudayaan. Mereka berdatangan dari sejumlah penjuru nusantara bahkan hingga dunia.

Tak heran jika kondisi itu menjadi sebuah identitas yang menjadikan Kabupaten Tegal sebagai ruang pertemuan berbagai tradisi, ras manusia, dan jejak peradaban yang sejak lama berada di kawasan lereng Gunung Slamet hingga pesisir utara Pulau Jawa. Meski demikian, Kawasan Tegal menghadapi berbagai persoalan lingkungan dan bencana alam.

Bacaan Lainnya

Hal inilah yang menjadi topik bahasan sarasehan budaya bertajuk ‘mangku pancuran sewu: telaah atas relasi budaya tegal terhadap tatanan besar kebudayaan nuswantara’ yang digelar di sebuah kafe 7 maret 2026 di Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Dalam kegiatannya kali ini menghadirkan sejumlah narasumber dari tokoh budayawan hingga ahli geologi, seperti, dewan pengarah dewan kebudayaan kabupaten tegal teguh puji hartono sebagai pemantik diskusi. Turut hadir budayawan Yogyakarta Ki Herman Sinung Janutama, Alumnus UGM Dr Mohammad Eka Yulianto, S.T M.Phil, dan Dosen Teknik geologi universitas mulawarman, Dr Ir Retno Anjarwati S.T, M.T.

Disebutkan dari historisnya, kawasan lereng Gunung Slamet merupakan wilayah yang sudah sejak menjadi penyangga berbagai kebudayaan dari timur maupun barat nusantara. Jejak pelabuhan besar pada masa lalu itu menjadikan kawasan ini terbuka bagi kedatangan berbagai suku bangsa dan tradisi yang kemudian membentuk keragama atau kemajemukan budaya di wilayah tersebut. Disebutkan Teguh Puji Hartono, sejarah di kawasan ini memangku berbagai macam kebudayaan dari bang wetan maupun bang kulon, bahkan dunia..

Diiskusi yang berlangsung menyinggung pesan leluhur Kabupaten Tegal yang menempatkan air sebagai simbol penting kehidupan masyarakat. Salah seorang Tokoh Pendiri sekaligus pemimpin Pertama dan penyebar agama Islam di Tegal, Ki Gede Sebayu, pernah menekankan bahwa pemimpin Tegal harus mampu menata jalannya air, baik dalam arti pengelolaan sumber daya alam maupun sebagai filosofi kehidupan masyarakat. “pemimpin tegal itu harus bisa menata jalannya air,” ujarnya.

Sementara itu Dr Mohammad Eka Yulianto menilai masyarakat modern saat ini mulai berjarak dengan pengetahuan leluhur yang sebenarnya memiliki nilai penting dalam memahami relasi manusia dengan alam. dominasi cara pandang barat dalam ilmu pengetahuan, menurutnya, kerap membuat kearifan lokal nusantara dipandang sekadar tradisi tanpa dasar pengetahuan yang kuat. “kita ini sudah berjarak pada pengetahuan, khususnya pengetahuan leluhur,” katanya.

Sementara itu secara geologis kawasan lereng Gunung Slamet memiliki karakteristik batuan vulkanik yang membuat wilayah tersebut subur namun juga rentan terhadap longsor. Keseimbangan alam yang dahulu dijaga melalui berbagai tradisi dan kearifan lokal kini mulai terabaikan seiring maraknya pembukaan lahan dan eksploitasi kawasan.

“budaya memang perlu dihidupkan kembali karena kearifan lokal itu bisa sangat efektif menyadarkan masyarakat untuk menjaga kawasan-kawasan yang harus dilindungi,” kata Retno Anjarwati.

Disisi lain, budayawan terkemuka Ki Herman Sinung Janutama juga menegaskan bahwa Tegal memiliki posisi penting dalam peta kebudayaan nusantara karena berada di tengah Pulau Jawa yang termasuk kawasan cincin api dunia.

Keunikan itu tercermin dalam berbagai identitas budaya, seperti bahasa, artefak, hingga jejak peradaban yang ditemukan di wilayah tersebut. “berbicara tegal identitasnya berbeda dengan yang lain karena posisinya berada di tengah Pulau Jawa”, ujarnya.

Mengakhiri diskusi, Teguh Puji Harsono menekankan pentingnya membangun kembali infrastruktur kebudayaan yang dapat menghidupkan pengetahuan tradisi dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, penguatan lembaga adat serta ruang-ruang budaya di wilayah rawan bencana dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih seimbang antara manusia dan lingkungan.

“jika kearifan budaya ini dihidupkan kembali, maka kebijakan pembangunan akan lebih bijak, karena tidak hanya melihat alam sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.

Dhani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *