Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana baru yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, berdasarkan hasil pemantauan Pusdalops BNPB periode penghujung tahun pada tanggal 30 Desember 2025 pukul 07.00 WIB hingga 31 Desember 2025 pukul 07.00 WIB. Kejadian-kejadian ini umumnya dipicu oleh curah hujan tinggi dan kondisi cuaca ekstrem yang melanda berbagai daerah.
Di Provinsi Bengkulu, banjir dilaporkan terjadi di Kabupaten Rejang Lebong pada Selasa (30/12). Sebanyak 81 kepala keluarga terdampak dengan jumlah rumah terdampak mencapai 81 unit. Berdasarkan laporan terakhir, banjir telah surut dan kondisi wilayah berangsur pulih, sementara BPBD setempat terus melakukan pemantauan pascakejadian.
Sementara itu di Provinsi Lampung, banjir melanda Kabupaten Pesawaran pada Selasa (30/12), dan berdampak pada sekitar 50 kepala keluarga dengan jumlah rumah terdampak sementara sebanyak 50 unit dan masih dalam proses pendataan.
Hingga laporan diterima, banjir belum sepenuhnya surut dan hujan masih berlangsung. Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat guna mendukung langkah kesiapsiagaan dan penanganan lanjutan.
Di Provinsi Gorontalo, banjir terjadi di Kabupaten Pohuwato pada hari Selasa (30/12), dan mengakibatkan 43 kepala keluarga atau 144 jiwa terdampak. Selain itu, dua unit rumah mengalami kerusakan dan sekitar 36 rumah lainnya terdampak. Kondisi mutakhir dilaporkan banjir telah surut total dan situasi berangsur kondusif.
Kejadian banjir juga dilaporkan di Provinsi Banten, tepatnya di Kota Cilegon pada Selasa (30/12). Sebanyak 74 kepala keluarga terdampak dengan jumlah rumah terdampak mencapai 74 unit. Pada malam hari dilaporkan air mulai surut dan kondisi dinyatakan aman serta terkendali, meskipun status siaga darurat masih diberlakukan oleh pemerintah daerah.
Di Provinsi Jawa Tengah, beberapa kejadian bencana baru tercatat. Pada hari Selasa (30/12), banjir melanda Kota Tegal dan berdampak pada 135 kepala keluarga atau 498 jiwa, dengan sebagian warga terpaksa mengungsi. Hingga malam hari, genangan air masih ditemukan di beberapa titik.
Selain itu, banjir juga terjadi di Kabupaten Tegal yang berdampak pada sedikitnya 779 jiwa, meskipun hujan telah reda. Di Kabupaten Temanggung, angin puting beliung menerjang permukiman warga dan mengakibatkan kerusakan pada sekitar 20 rumah serta memaksa beberapa keluarga mengungsi. Seluruh kejadian tersebut saat ini dalam penanganan BPBD dan unsur terkait.
Di Provinsi Jawa Barat, BNPB mencatat beberapa kejadian baru pada hari Selasa (30/12), antara lain banjir di Kabupaten Bogor yang berdampak pada 77 kepala keluarga atau 244 jiwa. Air telah surut dan pembersihan material banjir dilakukan secara mandiri dengan dukungan tim gabungan.
Selain itu, banjir dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Sukabumi yang menyebabkan puluhan kepala keluarga terdampak dan ratusan jiwa mengungsi. Kondisi terkini menunjukkan banjir telah surut, namun proses pembersihan lumpur masih terus berlangsung. Kejadian lain berupa angin kencang juga dilaporkan di Kabupaten Bogor yang mengakibatkan kerusakan rumah warga dan masih memerlukan penanganan lanjutan.
BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD provinsi dan kabupaten/kota untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal, sekaligus mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.
Waspada Cuaca Ekstrem Momentum Tahun Baru
BNPB mengimbau kepada seluruh pemerintah daerah untuk waspada dengan potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi basah pada momentum tahun baru 2026.
Sesuai arahan Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah melalui daring pada hari ini, Senin (29/12), diharapkan bahwa BPBD memiliki kewenangan penuh untuk melakukan upaya berbasis mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Kepala BNPB juga merekomendasikan agar pemerintah daerah tidak ragu menetapkan status siaga dan tanggap darurat bencana, agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan maka seluruh komponen bangsa, baik pemerintah pusat maupun stakeholder lain dapat memberikan dukungan, baik personel, sarana hingga logistik dan peralatan.
Berikutnya, Kepala BNPB juga meminta pemda agar melengkapi insfrastruktur yang merujuk kepada peringatan dini seperti pemasangan dan pemeliharaan rambu bencana, sirine peringatan dini serta perkembangan informasi terkini kondisi cuaca yang dapat diakses secara mudah oleh masyarakat.
Lebih lanjut, apel kesiapsiagaan menjadi hal yang dapat dilakukan untuk menyatukan frekuensi antar lembaga, sehingga fungsi koordinasi, komando hingga pelaksanaan di lapangan dapat terwujud dengan baik.
Monitoring di lapangan untuk melihat kondisi hingga pengambilan keputusan untuk mencegah atau meminimalisir dampak bencana juga harus menjadi atensi bersama. Kepala BNPB mengharap agar apa yang terjadi di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh dapat dijadikan pembelajaran bersama demi mewujudkan ketangguhan bangsa.
BNPB.go.id & KabarTerkiniNews.co.id







