Kupang, KabarTerkiniNews.co.id – Kasus kekerasan yang menimpa 9 siswa kelas IX C UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang yang dilakukan oleh Kepsek Warmansyah, Selasa (19/8/2025) lalu membuat lingkungan sekolah kini tak lagi nyaman untuk anak- anak korban melaksanakan kegiatan belajar mengajar ( KBM) seperti hari – hari sebelumnya.
Hal inilah yang dirasakan ET siswi kelas IX C yang harus menerima intimidasi verbal dari guru yang entah kenapa seperti mempersalahkan dirinya karena melapor pada orang tuanya ketika dipukul kepsek Warmansyah sehingga berujung laporan polisi dan viral di berbagai pemberitaan media lokal dan nasional.
Keluarga korban yakni paman kandung ET yang tak mau disebutkan namanya mengaku pada media Jumat (29/8/2025), kalau keponakannya kini sudah tidak lagi nyaman belajar seperti saat sebelum kejadian pemukulan ini viral, ia menceritakan jika ET menceritakan kepadanya bahwa ia sering mendapat intimidasi verbal dari guru yang tidak suka karena ia melapor pada orang tuanya jika ia dipukul oleh kepsek Warmansyah, sehingga sang kepsek terancam dinonaktifkan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo.
” Keponakan saya mengalami tekanan mental di sekolah karena ada intimidasi dari guru, ET bilang gurunya bilang begini ke dia ” kau ini cuma dapat pukul begitu saja sudah lapor orang tua, dan polisi” mereka anggap remeh kejadian ini, coba kalau anak mereka dipukul begitu kira- kira mereka terima tidak?, dan masih ada bahasa intimidasi lainnya sehingga anak ini tidak seceria biasanya, ia kini lebih banyak mengurung diri dalam kelas akibat kejadian ini,” ujar sang paman.
Sang paman juga merasa heran dengan surat damai yang dibuat bahwa ada kata ” damai secara adat dan kedinasan” jika damai secara adat semua orang pasti memahami namun kata ” damai secara kedinasan” pihak keluarga tidak memahami karena mereka bukan ASN dan tidak ada urusannya dengan kedinasan.
” Orang tua anak ET sudah menyerahkan semua proses ini mengalir seperti seharusnya, karena ada kesepakatan damai secara adat, tapi damai secara kedinasan ini aneh, kami ini bukan PNS, jadi maksud damai secara kedinasan ini apa? hemat saya mereka ingin supaya pak Wali tidak mencopot kepseknya saja, bukan karena niat tulus damai dari hati,” tambahnya.
Sang paman juga membantah pernyataan Kadis Pendidikan Kota Kupang, Dumul Djami yang mengatakan ia sudah menghubungi pihak keluarga untuk bertemu tapi keluarga tidak mau bertemu, ia juga menyoroti peran tak terlihat Okto Naitboho yang mengirim nomor salah seorang ajudan Wali Kota Kupang dan memperalat ayah ET, untuk menghubungi ajudan tersebut dan mengatakan bahwa orang tua serta kepsek Warmansyah sudah berdamai dan laporan polisi sudah dicabut, denga harapan Wali Kota tak mencopot Warmansyah namun sang ajudan sangat bijaksana dengan mengatakan semua keputusan ada di tangan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo.
” Kadis tidak pernah hubungi kami, tapi dia bilang di media, kami yang tidak mau, yang datang bukan orang dinas tapi mantan kepala sekolah SMP 11, Cristian Taek, hubungannya apa coba? belum lagi Kabid Okto Naitboho yang coba manfaatkan kebaikan hati ayah ET, Okto kirim nomor ajudan Wali Kota dengan harapan orang tua kasih tahu sudah damai dan kursi Warmansyah aman, tapi ajudan sangat bijak dan paham situasinya sehingga bilang semua keputusan ada di tangan Pak Wali Kota,” pungkasnya.
Rudy