Sleman, KabarTerkiniNews.co.id – Prof Din Syamsudin MA, mantan ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 2005 – 2015 sekaligus inteletual muslim terkemuka meresmikan Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) MBS Al Badar Prambanan, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Kamis (22/1/2026).
Ikut hadir dalam peresmian, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Drs Susmiarto MM, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, S.Sos, MM, serta Panewu Prambanan, Purwati, SH MM. Munurut Din Syamsudin, keberadaan sekolah MBS dalam dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta pada khususnya telah memberi inspirasi bagi sistem pendidikan yang mampu memadukan nilai nilai religusitas serta pendidikan karakter dengan kemampuan akademik secara baik. Keberadaannya telah memberi inspirasi bagi banyak wilayah di Indonesia untuk menirunya.
Apalagi menurut Din MBS Yogyakarta telah memperoleh muadalah dari Universitas Al-Azhar, Mesir, dan banyak mencetak alumni yang studi ke luar negeri serta menempuh program doktor.
“Keberadaan MBS Yogyakarta ini telah menjadi role model yang banyak jumlahnya pesantren yang ada di lingkungan Muhammadiyah yang berjumlah 446, dan banyak diantara mereka yang menggunakan istilah MBS ( Muhammadiyah Boarding School ) karena mengikuti MBS di Prambanan ini.”
Din juga mengapresiasi kemampuan MBS Yogyakarta ini untuk menopang operasional sekolah dengan cara membuat badan usaha yang jumlahnya hingga saat ini mencapai 22 badan usaha.
“ Dan yang perlu diapresiasi dan belum bisa diikuti lainnya ternyata MBS Yogyakarta ini mempunyai badan usaha yang jumlahnya sampai 22 ini sesuatu yang berat dan tidak mudah tetapi ternyata mampu dilakukan.”
Menurut Kepala Sekolah SMP MBS Al Badar Prambanan, Wahyu Hidayat, SPd,Si sekolah ini berbasis pesantren dengan pembelajaran bersifat full day dan mengajarkan nilai nilai kepesantrenan dari tahfidz, Bahasa Arab dan etika santri.
“ Nanti anak anak SMP akan pembelajaran full day pulang sore dan tidak mengesampingkan pembelajaran nilai nilai kepesantrenan yang meliputi tahfidz, Bahasa Arab dan etika etika pesantren walaupun satrinya tidak nyantri atau mondok seperti itu.”
Acara peresmian yang dikemas dalam tajuk Tabligh Akbar ini, secara resmi juga meluncurkan satu unit usaha baru dari MBS Yogyakarta yaitu Kafana yang bergerak dalam usaha konveksi pengadaan baju Muslim dan Muslimah. Segala keuntungan unit unit usaha ini akan digunakan untuk menopang biaya operasional dari sekolah/pesantren .
Kemandirian yang dibangun ini berhasil menjadikan MBS dikenal sebagai pesantren mandiri yang mampu memberdayakan segala potensi ekonominya.
Diusia pesantren saat ini inovasi dan langkah strategis dibidang ekonomi dijalankan oleh MBS, dengan lahirnya Kafana ini total telah dimiliki 22 unit usaha pesantren yang kini tumbuh dan berkembang pesat.
Dhani Irawan







