Sleman, KabarTerkiniNews.co.id – Jangan bersedih para pemburu kuliner enak saat berkunjung ke Sleman utara, terutama bagi para penggemar olahan berbahan dasar daging sapi. Sudah hampir sebulan ini, resto sop iga kaldu telah hadir. Berbekal resep rahasia keluarga usaha sejenis selama 30 tahun di Riau, sop iga sapi di Ngaldu Iga siap manjakan lidah anda.
Sop iga sapi di Resto Ngaldu Iga Jogja bukan hanya menu pendamping, tapi menjadi menu utama dengan beragam varian porsi. Ada iga gondrong barbar sebagai porsi jumbo, dan sop kaldu iga yang paling disukai pelanggan.
Irisan daging yang tebal, gurih istimewa, dan juicy, menjadi kelebihan sop kaldu iga yang menjadi menu best seller di Resto Ngaldu Iga Jogja ini.
Berbeda dengan sop iga lainnya, sop kaldu iga yang kaya rempah di resto dengan view persawahan ini menjadi menu utama, sehingga rasanya lebih mantap.
Pemilik Resto Ngaldu Jogja Erwin Setiyawan, mengatakan sop kaldu iga menjadi menu utama sehingga rasanya lebih mantap dan istimewa dibanding lainnya.
“Kalau umumnya sop iga itu hanya jadi menu pendamping, sehingga rasanya mungkin standar. Tapi dengan menjadi menu utama, rasanya kita buat lebih kuat dan mantap,” katanya, Sabtu (29/11/2025).
Dia mengungkapkan, sop kaldu iga sapi buatannya menjadi istimewa karena dibuat dari tulang iga yang banyak dan dimasak dalam waktu lama, sehingga kaldunya lebih kuat.
“Jadi tidak perlu lagi penyedap rasa, karena dari kaldunya sendiri sudah gurih,” kata Erwin Setyawan.
Untuk menjaga kualitas rasa yang konsisten, Erwin Setyawan sengaja menggunakan daging sapi impor.
Bukan hanya karena alasan ketersediaan stok yang stabil, namun juga karakteristik daging sapi impor yang dinilai lebih cocok.
“Rasa daging sapi impor lebih terjaga, karena berasal dari sapi yang cara pembudidayaannya yang selalu sama. Kemudian, juga tekstur dagingnya lebih lembut,” kata pria keturunan Riau dan Jawa Timur ini.
Menurutnya, daging sapi lokal selain stok yang kadang terbatas di pasaran, juga tulangnya lebih keras dan aromanya terlalu kuat.
Erwin Setyawan menyebut, dengan tekstur daging yang lembut, kuah kaldu yang kaya rempah seperti kayu manis, biji pala, merica, cengkih, dan sebagainya, membuat sop iga sapi buatannya berasa gurih mantap dan menghangatkan badan.
“Tekstur daging yang empuk namun tetap terasa berserat, membuat sop kaldu iga ini bisa dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang tua,” katanya.
Menghabiskan sekitar 20 kilogram daging sapi impor setiap hari, Resto Ngaldu Iga Jogja menjadi favorit menu makan bagi orang dewasa dan orang tua.
“Kita juga menyasar segmen pasar dari kalangan pekerja yang ingin makan siang tanpa menghabiskan waktu lama hanya untuk menunggu menu disajikan,” kata Erwin Setyawan.
Dengan teknik penyajian yang terukur, pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit hingga menu pilihannya siap disajikan.
“Kita memang ingin menghadirkan sop iga sapi ini sebagai menu makan yang bisa disantap setiap hari, dan tidak membosankan,” cetusnya.
Berada di kawasan jalur wisata Kaliurang, Erwin Setyawan mengaku juga ingij menghadirkan alternatif menu kuliner yang berbeda dari yang sudah ada.
Jika selama ini iga bakar, dan sop iga sebagai menu pendamping lebih populer, Erwin Setyawan justru ingin menonjolkan sop iga sapi sebagai menu utama yang bisa dinikmati setiap saat.
“Itulah mengapa nama resto kami, Ngaldu Iga. Artinya, kita ingin menonjolkan bahwa daging iga sapi itu ketika dibuat sop akan mengeluarkan kaldu yang banyak, dan super gurih,” katanya.
Meski belum lama buka, Resto Ngaldu Jogja sudah menjadi salah satu buruan bagi pecinta kuliner dari banyak daerah karena gencar promosi lewat media sosial.
Hal tersebut seperti yang diakui oleh salah seorang pengunjung dari Temanggung, Jawa Tengah, bernama Hanifa.
Bersama sang ibu dan seorang kerabatnya, dia yang sedang mencari bunga anggrek di Kaliurang mengaku sengaja menyempatkan waktu untuk merasakan gurihnya sop kaldu iga buatan Resto Ngaldu Jogja.
“Sebelumnya saya tahu dari instagram, jadi ketika lewat saya mampir. Rasanya memang mantap, gurih, asin, dagingnya empuk, pas buat saya,” katanya.
Dhani







