Tantangan Komunikasi di Balik Longsor dan Banjir Sumatera

Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Kenangan pahit akibat Siklon Senyar terjadi di tiga provinsi pada Pulau Sumatera di penghujung tahun 2025 yang masih menyisakan duka mendalam bagi kita semua. Badai tersebut melumpuhkan puluhan kabupaten/kota di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang memicu kepanikan massal akibat terputusnya total akses komunikasi di wilayah terdampak.

Kondisi blank spot mendadak tersebut tidak hanya menghambat koordinasi evakuasi, tetapi juga menciptakan kegelisahan mendalam bagi para perantau yang kehilangan kontak dengan keluarga mereka di zona bencana.

Bacaan Lainnya

Menanggapi fenomena tersebut, BNPB bersama ADEXCO menyelenggarakan diskusi Ngopi Bareng BNPB edisi perdana di tahun 2026 bertajuk Bukan Sekedar Sinyal: Tantangan Komunikasi di Balik Longsor dan Banjir Sumatera.

Diskusi ini menghadirkan tiga ahli yang menekankan bahwa komunikasi yang efektif adalah kunci keselamatan masyarakat dan keberhasilan operasi darurat.

Diskusi yang dipandu oleh Andrian Cader (Direktur Operasional ADEXCO) dan Nur’aini Sabilussalami (BNPB) ini menghadirkan perspektif dari regulator, pelaksana lapangan, hingga akademisi untuk membedah urgensi sistem komunikasi yang tangguh saat krisis terjadi.

Satu Data untuk Redam Kepanikan

Teguh Harjito dari Pusdatinkomben BNPB menerangkan bahwa dalam setiap kejadian bencana di Sumatera, BNPB segera mengaktifkan Pos Pendamping Nasional untuk memperkuat posko provinsi, melalui Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom). Fokus utamanya adalah validasi data sehingga menghasilkan data dan informasi yang akurat dan terdepan.

Data dari lapangan diverifikasi ketat sebelum disebarluaskan. Ini merupakan tahap krusial sebagai satu-satunya sumber informasi resmi publik guna meminimalisir hoaks yang sering memicu kepanikan di tengah situasi genting.

Teguh mengakui bahwa rusaknya akses jalan dan padamnya listrik menjadi hambatan utama. Sebagai solusi praktis, BNPB kini mulai mengandalkan teknologi Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink.

Akademisi dari Universitas Moestopo, Danny K. Wibisono, menyoroti keunggulan teknologi satelit LEO ini. Menurutnya, perangkat komunikasi konvensional seringkali gagal saat bencana besar, namun satelit LEO menawarkan mobilitas tinggi. Perangkat seperti Starlink sangat ringan, mudah dibawa ke medan sulit, dan memiliki bandwidth besar. Ini memungkinkan pengiriman data real-time yang sangat membantu distribusi bantuan lebih tepat sasaran. Danny juga menambahkan bahwa telepon satelit tetap menjadi instrumen wajib untuk komunikasi dua arah antara petugas lapangan dan pusat komando.

Dari sisi infrastruktur digital, Agung Setio Utomo dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memaparkan langkah pemerintah dalam memperkuat resiliensi jaringan. Selain koordinasi dengan operator seluler untuk pemulihan transmisi, Komdigi terus mengoptimalkan sistem peringatan dini.

Dua program andalan dari Komdigi sebagai dukungan membangun kesiapsiagaan masyarakat yaitu berupa SMS Blasting dan Cell Broadcast System (CBS). SMS Blasting akan muncul pada televisi sebagai tulisan berjalan maupun tulisan peringatan menutup layar televisi tergantung pada jenis bencananya.

Selain itu, alat komunikasi yang tak kalah strategis adalah telepon genggam, teknologi terbaru yang memungkinkan pesan peringatan muncul otomatis di layar ponsel disertai notifikasi suara, bahkan tanpa perlu membuka aplikasi pesan.

Pada diskusi ini, ketiga narasumber sepaham bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan maksimal tanpa kolaborasi. Kesiapsiagaan komunikasi harus dipandang sebagai bagian integral dari penanggulangan bencana, setara dengan persiapan logistik dan personel.

Sinergi antara pemerintah, penyedia layanan, dan akademisi menjadi pondasi utama dalam menjaga konektivitas di saat-saat paling kritis.

Bulan September mendatang, BNPB bersama dengan Adexco akan kembali menggelar pameran kebencanaan tahunan The Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference (ADEXCO) tahun 2026 yang akan diselenggarakan pada 9 – 12 September 2026 di JIExpo, Kemayoran Jakarta. Pameran ini menampilkan teknologi-teknologi kebencanaan termasuk teknologi komunikasi kebencanaan.

KabarTerkiniNews

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *