Bantul, KabarTerkiniNews.co.id – Timbulan sampah yang sudah tidak terkendali di kabupaten Mimika, Papua Tengah, saat ini telah memasuki fase kritis. Tak ingin persoalan itu berlanjut, Dinas LIngkungan Hidup (DLH) Mimika, bersama perwakilan kalurahan Inauga, belajar langsung pengelolaan sampah, di Yogyakarta.
Selama tiga hari, rombongan berjumlah 18 orang itu, mendalami manajemen pengelolaan sampah melalui bank sampah, hingga Teknik poengolahan limbah organic dapur, bersama KSM PIlah Berkah, di Kabupaten Bantul, Rabu (29/10/2025).
Keberhasilan Kelompok Swadaya Mandiri Pilah Berkah, di Kabupaten Bantul, dalam mengmbina dan mengembangkan konsep pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan, melalui bank sampah, rupanya menarik perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Rabu,(29/10/2025) siang, rombongan berjumlah 18 orang ini, berkesempatan meninjau dan belajar langsung konsep manajemen bank sampah, yang dijalankan di salah satu binaan KSM Pilah Berkah, di pedukuhan Karangasem, Wukirsari, Imogiri, Bantul.
Mulai dari proses penyetoran sampah terpilah rumah tangga, digitalisasi pendataan, Teknik composting limbah organik dapur rumah tangga, hingga proses akhir pengelolaan sampah daur ulang.
Algertho Reno Asmuruf, selaku PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) DLH Mimika, sekaligus sebagai ketua rombongan menuturkan, persoalan sampah di Kota Timika saat ini sudah masuk pada fase kritis, dimana produksi sampah rumah tangga telah mencapai 100 ton setiap harinya, sehingga, kami ingin belajar pengelolaan sampah disini, melalui konsep bank sampah, yang nantinya juga akan dikembangkan di Mimika, di setiap RT.
“kedatangan kami jauh-jauh hingga ke Yogyakarta, sebagai bukti keseriusan pemerintah kami, dalam upaya penanganan sampah di Mimika, terutama di Kota Timika, melalui kelembagaan bank sampah, yang akan segera dirintis di 22 titik, dengan istilah Kios Sampah.” Tutur Algerto.
Sekretaris DLH ini menambahkan, konsep Kios Sampah tersebut, warga menukarkan sampah yang bisa didaur ulang dengan sembako atau kebutuhan masyarakat Selain melihat langsung dilapangan, selama dua hari sebelumnya, mereka juga diberikan materi penguatan teknis pemilahan sampah rumah tangga, serta praktek pengelolaan sampah organik rumah tangga.
“Maka kami belajar di Jogja ini karena sudah terkenal dalam kemampuan mengubah sampah menjadi nilai ekonomi. Ketika kami terapkan di Mimika harapannya volume sampah ke TPA Itu bisa kami tekan. Pasalnya saat ini TPA di Mimika sedang diberikan sanksi administrasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup ” katanya.
Seluruh peserta Bimtek ini, nampak antusias mengikuti seluruh kegiatan, yang digelar di salah hotel di Yogyakarta, melalui Lembaga Pelatihan Pembangunan dan Manajemen (LPPM), bersama KSM PIlah Berkah. Salah satunya, mengolah limbah organic dapur, menjadi eco enzyme, media tanam dan pakan seketika.
Salah satu peserta, Kepala Kelurahan Inauga, Distrik Wania, Gerson Rumbarar menjelaskan bahwa pihaknya menjadi bersemangat mengikuti kegiatan Bimtek untuk merubah pola kebiasaan warga, untuk membudayakan pilah sampah dari rumah, yang selama ini menjadi tantangan terbesar bagi Kalurahan.
“selama ini tantangan kami sangat berat,karena masyarakt hanya buang saja, setiap hari kita angkut terus, hanya numpuk di tempat pembuangan sampah. Dengan bimbingan ini nanti, disetiap rumah mulai memilah sampah, mana yang organaik dan an-organik, jadi tidak ada lagi warga buang sampah sembarangan.” Ungkap Gerson.
Sementara itu, Arif Solikhin, yang menjadi pemateri sekaligus Konsultan KSM PIlah Berkah menegaskan, pihaknya cukup optimistis setelah belajar sampah ini, jajaran DLH Mimika bisa menerapkan di Timika dalam pengelolaan sampah. Khususnya mengubah sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Sehingga, tidak ada lagi timbulan sampah yang dibuang di TPA, karena persoalan sampah, dapat terselesaikan di Tingkat rumah tangga.
“kami sudah memiliki binaan lebih dari 40 bank sampah, dan itu membuktikan di setiap RT itu tidak lagi membuang sampah di TPA, karena semua selesai di rumah tangga, ini yang kita harapkan nantinya bisa diterapkan di Mimika.” Ujar Arif.
Joko Pramono







