Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Trauma bisa datang dari mana saja, termasuk dari lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi tempat untuk berlindung. Meskipun trauma tidak selalu berakhir dengan gangguan psikologis, masih terdapat resiko bagi seorang penyintas sering kali masih mengalami distress pascatrauma atau menampilkan ilusi pertumbuhan.
Hasil studi yang dilakukan oleh mahasiswa jenjang doktor di Fakultas Psikologi UGM, Amalia Rahmandani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, melakukan riset terkait dampak trauma pada usia emerging adult atau dewasa muda (18 – 25 tahun).
Menurutnya, trauma kompleks merujuk pada pengalaman traumatis yang berulang dan kronis, mayoritas bersifat relasional, sering kali terjadi dalam konteks keluarga atau sistem pengasuhan primer. “Tuntutan kepada anak untuk memberikan hal istimewa sering kali menjadi salah satu faktor timbulnya trauma kompleks, disamping kekerasan baik fisik, psikologis, maupun seksual,” kata Amalia dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung pada Jumat (6/3) di Fakultas Psikologi UGM.
Dalam ujian mempertahankan disertasinya, Amalia menjelaskan trauma yang timbul merupakan akumulasi tumpukan permasalahan yang tidak terselesaikan sehingga masih terdapat kemungkinan menjadi faktor adanya trauma kompleks. “Hubungan struktural antara penyintas trauma kompleks menyebabkan luka mendalam bagi penyintas dan berpengaruh terhadap pertumbuhan pascatrauma,” ujarnya.
Dikatakan Amalia, penyintas trauma kompleks justru memiliki kesadaran dan kecenderungan untuk memperbaiki. Pasalnya, penyintas trauma kompleks dalam keluarga berjuang untuk dirinya daripada bergantung pada orang lain, sehingga dukungan sosial sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan. “Diperlukan upaya penyembuhan trust issue terlebih dahulu. Dengan kata lain bahwa penyintas memiliki kesempatan untuk tumbuh,” ujarnya.
Dari hasil penelitiannya, kata Amalia, kondisi pertumbuhan pascatrauma pada penyintas trauma kompleks relasional merupakan sebuah proses dinamis, multidimensional, dan bersifat spiral progresif, dimana pertumbuhan dan distress termasuk gangguan stress pascatrauma kompleks dapat berkoeksistensi.
Namun pertumbuhan pascatrauma tidak muncul dari ketiadaan penderitaan, tetapi melalui refleksi mendalam, rekonstruksi makna diri dan relasi serta dukungan dari fleksibilitas koping (mengatasi masalah) yang bersifat proaktif, bersyukur, dan harapan realistis.
“Kemampuan individu mengelola tekanan melalui fleksibilitas koping terbukti memainkan peran penting dalam proses Posttraumatic Growth,” pungkasnya.
Jelita Agustine & KabarTerkiniNews.co.id







