Bantul, KabaTterkiniNews.co.id – Berwisata, tak melulu harus ke pantai, Gunung, atau Hutan. Melihat dari dekat bagaimana gula, alcohol, dan spiritus dibuat di Pabrik ula Madukismo, Kasihan, Bantul, rupanya kini menjadi paket wisata unik, yang memberikan pengalaman baru bagi masyarakat.
Apalagi, pengunjung juga diantar dengan menaiki kereta Lori, atau kereta pengangkut tebu kuno, menuju kedalam lokasi pabrik.
Bosan dengan nuansa alam?, mungkin destinasi wisata edukatif di Kasihan, Bantul ini, patut kalian coba. Yakni, wisata tour Pabrik Gula Madukismo, yang memberikan kesempatan menikmati suasana pabrik gula tua sekaligus menelusuri sejarah industri gula di Yogyakarta.
Untuk memasuki pabrik, pengunjung akan diajak merasakan menaiki kereta Lori tua buatan Jerman Timur, yang usianya kini sudah 71 tahun. Sebuah kereta uap yang dahulu menjadi sarana angkut tebu, namun kini disulap menjadi kereta angkut wisata, dan menjadi daya Tarik tersendiri bagi wisatawan.
Berjalan pelan diantara lalu Lalang kereta pengangkut tebu lainnya, yang tengah sibuk beraktivitas keluar masuk pabrik, karena memang dalam dua bulan terkahir ini sedang memasuki masa giling dan suling.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudin, menyampaikan saat musim Giling Suling tiba, pihak pengelola membuka paket wisata keliling Pabrik Gula. Pengunjung bebas berkeliling seluruh area dalam pabrik tua itu, yang dibangun sejak tahun 1955, dan hingga kini masih aktif berproduksi.
Sebuah momen yang memberikan kesempatan bagi masyarakat, melihat dari dekat proses produksi tebu menjadi gula pasir.
“Paket wisata ini kita buka sejak tahun 1995 lalu, tujuannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang sejarah dan produksi gula,”jelasnya.
Mahmud juga menjelaskan, bahwa dalam sehari kapasitas tebu yang diproduksi tak kurang dari 3500 ton, yang menghasilkan gula kristal sebanyak 2500 ton, dan 25.000 liter alkohol berkadar 95 persen, serta spiritus.
Sebelum diproduksi, ada proses panjang yang harus dilewati. Batang tebu yang hendak digiling harus berkadar gula tinggi, sehingga nantinya saat digiling hasilnya juga maksimal.
“Hingga kini, Madukismo tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi gula, tetapi juga mengoperasikan pabrik spiritus dan alkohol yang memanfaatkan tetes tebu sebagai bahan baku, sehingga menjadi salah satu agroindustri terintegrasi di Indonesia,”imbuhnya.
Konsep wisata ini diharapkan menjadi sarana rekreasi sekaligus mengenalkan sejarah perkembangan industri gula di Indonesia. Dalam sehari, tak kurang dari 800 orang berkunjung untuk menikmati sensasi wisata edukatif ini. Salah satu pengunjung, Singgih mengatakan, dirinya menyambut baik adanya wisata edukasi tersebut.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi alternatif wisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah wawasan sejarah.
“Pabrik ini menyimpan Sejarah panjang tentang produksi Gula di Yogyakarta, adanya paket wisata ini seolah membuka wawasan baru bagi masyarakat, utamanya generasi muda, pelajar, agar tahu bagaimana Sejarah dan proses pembutaan gula,”ungkapnya.
Singgih juga berharap, wisata edukasi berbasis sejarah industri seperti di Madukismo terus dikembangkan agar generasi muda semakin mengenal warisan industry, yang masih bertahan dan memiliki nilai historis tinggi di Yogyakarta.
“Kehadiran PT Madubaru PG-PS Madukismo, menjadi simbol kebangkitan industri gula nasional setelah kemerdekaan sekaligus menggantikan Pabrik Gula Padokan yang hancur akibat perang,”pungkasnya
Joko Pramono





