Wali Kota Kupang: Renstra UNWIRA 2026-2030 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Kupang, KabarTerkiniNews.co.id — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, berharap Rencana Strategis (Renstra) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang periode 2026-2030 tidak sekadar menjadi dokumen perencanaan lima tahunan, tetapi mampu melahirkan program dan kebijakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Harapan tersebut disampaikan Asisten I Setda Kota Kupang, Hengky Malelak, saat membacakan sambutan Wali Kota Kupang dalam pembukaan Penyusunan Renstra Unwira 2026-2030 yang berlangsung di Sotis Hotel Kupang, Kamis (20/8/2026).

Bacaan Lainnya

Hadir dalam kegiatan ini, Rektor UNWIRA, Pater Dr. Stefanus Lio,SVD, S.Fil., M.A, pimpinan Yayasan Pendidikan Katholik Arnoldus, Pater Dr. Ubaldus Djonda, SVD M.A, para guru besar serta dosen UNWIRA.

Dalam sambutannya, Christian menegaskan bahwa penyusunan Renstra harus menjadi momentum bagi Unwira untuk menentukan arah pengembangan institusi sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan daerah.

“Bagi saya, Renstra bukan sekadar dokumen lima tahunan. Renstra adalah kesempatan untuk menjawab tiga hal sederhana: Unwira ingin menjadi apa, hadir untuk siapa, dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat,” demikian disampaikan Hengky saat membacakan sambutan Wali Kota.

Menurut Christian, tema “Unggul, Beridentitas dan Berdampak” sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini.

Unggul, kata dia, berarti memiliki kualitas. Beridentitas berarti kuat dalam nilai dan jati diri. Sementara berdampak berarti ilmu pengetahuan dan kehadiran kampus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menambahkan, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia beberapa hari lalu menjadi momentum untuk kembali memahami bahwa pembangunan tidak semata-mata berbicara tentang pembangunan jalan, gedung dan infrastruktur.

“Pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang membangun jalan, gedung dan infrastruktur, tetapi juga membangun manusia, manusia yang sehat, terdidik, terampil dan berkarakter,” ujarnya.

Christian melihat adanya titik temu yang kuat antara Unwira dan Pemerintah Kota Kupang. Pemerintah memiliki masyarakat serta berbagai persoalan pembangunan, sementara perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan, riset, inovasi, akademisi dan generasi muda.

Menurutnya, apabila kedua kekuatan tersebut berjalan sendiri-sendiri, hasil yang dicapai akan terbatas. Sebaliknya, kolaborasi akan memungkinkan ilmu pengetahuan bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat dan memperkuat kebijakan pemerintah berbasis pengetahuan.

Karena itu, Christian berharap Unwira ke depan tidak hanya menjadi “menara ilmu”, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai persoalan masyarakat.

Ia menyebut sejumlah persoalan yang membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, antara lain kemiskinan, kesehatan, pendidikan, stunting, lingkungan, sampah, UMKM, ekonomi kreatif hingga transformasi digital.

“Ilmu jangan berhenti di ruang kelas. Riset jangan berhenti di perpustakaan. Inovasi harus turun ke lapangan dan masyarakat harus merasakan manfaatnya,” tegasnya.

Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, siap menjadi mitra Unwira dalam membangun kolaborasi yang konkret, khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia, riset, inovasi, pengabdian kepada masyarakat dan penguatan generasi muda.

Christian juga mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan Renstra untuk tidak hanya berorientasi pada lulusan seperti apa yang hendak dihasilkan, tetapi juga melihat kontribusi lulusan tersebut bagi masa depan Nusa Tenggara Timur.

“Bukan hanya lulusan seperti apa yang ingin kita hasilkan, tetapi NTT seperti apa yang ingin kita bangun melalui lulusan-lulusan tersebut,” katanya.

Ia menilai, pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari makna transformasi pendidikan. Transformasi, menurutnya, bukan berarti ilmu meninggalkan identitas, tetapi membawa nilai-nilai yang dimiliki untuk menjawab tantangan zaman.

Mengutip pemikiran John Dewey, Christian menyampaikan, “Education is not preparation for life; education is life itself.” Pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri.

Karena itu, ia berharap Renstra Unwira 2026-2030 mampu melahirkan arah yang jelas, keberanian untuk berubah serta kolaborasi yang nyata.

“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak yang kita bangun, tetapi seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena apa yang kita kerjakan,” pungkasnya.

Christian pun menyampaikan selamat kepada Unwira atas penyusunan Renstra 2026-2030 dan mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mewujudkan Unwira yang unggul dalam kualitas, kuat dalam identitas dan nyata dalam memberikan dampak bagi masyarakat.

Rudy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *