Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Gelak tawa berpadu dengan aroma kopi segar yang semerbak memenuhi halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, Kamis (5/2/2026). Suasana hangat ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian pelatihan kemandirian yang telah berlangsung sejak Senin (2/2/2026).
Selama empat hari, ratusan santri dan pengurus pondok tak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mengasah keterampilan praktis. Mulai dari mengoperasikan mesin espresso, teknik tata rambut, hingga praktik pertanian modern. Kegiatan bertajuk Seminar dan Peningkatan Kemampuan Menuju Ponpes Darusy Syahadah Berkelanjutan ini merupakan hasil kolaborasi antara Densus 88 Antiteror Polri, Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Kabupaten Boyolali.
Dari Tidak Tahu Menjadi Terampil
Amin, salah satu peserta pelatihan barista, mengaku merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dari yang sebelumnya tidak mengenal dunia kopi, kini ia mampu meracik berbagai minuman kekinian.
“Instruktur mengajarkan kami dengan sabar dari dasar. Dari tidak tahu apa itu kopi, sekarang kami paham roasting, manual brew, sampai penggunaan mesin. Kami bahkan sudah bisa membuat Aren Latte, atau kopi susu gula aren,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Amin dan rekan-rekannya, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bekal nyata untuk masa depan.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa terus ada, agar ekonomi masyarakat kecil seperti kami bisa semakin berkembang,” tambahnya.
Menyiapkan Generasi Pelatih Baru
Perwakilan panitia dari Ponpes, Ustadz Mukorobin, menjelaskan pelatihan mencakup empat sektor utama, yakni pertanian, barbershop, barista, dan pengolahan susu. Pihak pondok menargetkan para santri yang telah mengikuti pelatihan dapat menjadi pelatih bagi generasi berikutnya.
“Dulu santri hanya menerima apa adanya. Sekarang mereka memiliki keterampilan yang terstandar. Harapannya, ilmu ini bisa terus ditularkan ke adik-adik kelasnya,” jelasnya.
Meski demikian, pihak pondok berharap ada pendampingan lanjutan, khususnya dalam hal pemasaran produk hasil pelatihan.
“Khusus olahan susu dan hasil pertanian, kami berharap ada dukungan dalam membuka jalur pemasaran. Kami juga berharap ada monitoring rutin agar semangat anak-anak tetap terjaga,” tuturnya.
Membuka Ruang, Menghapus Stigma
Di balik pelatihan keterampilan ini, terdapat misi sosial yang lebih luas. Perwakilan Densus 88 menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari pendekatan humanis untuk membangun keterbukaan dan kepercayaan.
“Kegiatan ini bertujuan membuka ruang interaksi. Kami ingin memastikan Ponpes Darusy Syahadah tidak lagi dipandang eksklusif atau dikaitkan dengan masa lalu. Dengan melibatkan banyak pihak, masyarakat bisa melihat bahwa pondok ini terbuka dan siap bersinergi,” ujarnya.
Pendekatan kesejahteraan ini diharapkan mampu memperkuat integrasi pesantren dalam ekosistem ekonomi nasional, sekaligus menumbuhkan lingkungan sosial yang lebih produktif.
Menambah semarak suasana, dalam acara penutupan ini juga digelar bazar yang menampilkan beragam produk usaha hasil pelatihan dan kreativitas para santri serta peserta seminar.
Kemandirian untuk Menguatkan Umat
Pimpinan Ponpes Darusy Syahadah, Ustadz Qosdi Ridwanullah, sebelumnya menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi bagi keberlangsungan pesantren. Dengan kebutuhan operasional mencapai sekitar Rp150 juta per bulan untuk menghidupi lebih dari 300 anak asuh yatim dan dhuafa, pondok terus berupaya mengembangkan unit usaha mandiri.
Selain usaha yang telah berjalan seperti toko bangunan dan travel umrah, keterampilan baru hasil pelatihan ini diharapkan menjadi sumber ekonomi tambahan.
Kasatgaswil Jateng Densus 88 Polri, Kombes Pol Khoirul Anam, juga menegaskan bahwa kehadiran negara tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.
“Ini bukti bahwa pendekatan keamanan tidak selalu melalui penindakan. Kami ingin santri memiliki kemandirian, baik dalam ilmu agama maupun ekonomi,” tegasnya.
Berakhirnya pelatihan ini menjadi awal langkah baru bagi Ponpes Darusy Syahadah untuk terus tumbuh sebagai pesantren yang kuat dalam nilai keagamaan, mandiri secara ekonomi, serta terbuka dan inklusif di tengah masyarakat.
Taufik Irvani







