Sumber Foto : Pinterest
Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Di tengah berbagai upaya mendorong pola makan sehat di Indonesia, sebuah studi berjudul ‘Healthy diets are affordable but often displaced by other foods in Indonesia’ yang dipublikasikan dalam jurnal Food Policy menghadirkan perspektif baru yang patut dicermati.
Penelitian ini menunjukkan bahwa secara ekonomi, sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya mampu mengakses pola makan sehat sesuai pedoman gizi. Namun, realitas konsumsi sehari-hari justru memperlihatkan kecenderungan berbeda, di mana pilihan makanan bergeser ke arah yang kurang seimbang.
Kini, pola makan masyarakat lebih banyak diwarnai oleh konsumsi makanan olahan, tinggi gula, garam, dan lemak. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD, pemilihan makanan pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi dalam kehidupan individu.
Ia menjelaskan bahwa faktor internal seperti kondisi fisiologis, preferensi rasa, hingga kebiasaan memiliki peran penting dalam menentukan pilihan makanan.
Selain itu, faktor eksternal seperti ketersediaan pangan, interaksi sosial, serta budaya juga turut membentuk pola konsumsi seseorang. Dalam konteks saat ini, kemudahan akses terhadap berbagai jenis makanan membuat pilihan menjadi semakin beragam.
“Jadi memang ketika seseorang memilih untuk memakan atau tidak memakan suatu jenis makanan itu tidak semata soal kemampuan untuk membeli makanan tersebut,” ujar Dini, Senin (20/4).
Ia menuturkan bahwa dalam masyarakat modern, faktor preferensi, kebiasaan makan, dan gaya hidup justru cenderung lebih dominan dibandingkan faktor ekonomi. Kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil akan terus terbawa hingga dewasa dan memengaruhi preferensi individu dalam memilih makanan.
Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama seseorang mengenal pola makan, termasuk jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Menurut Dini, ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak sejak dini, kebiasaan tersebut akan sulit diubah di kemudian hari.
“Apabila individu sejak kecil terbiasa dengan pola makan tertentu, maka preferensi itu akan terus terbentuk dan terbawa hingga dewasa,” jelasnya.
Gaya hidup yang serba praktis juga turut mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Banyak individu lebih memilih membeli makanan jadi atau jajan dibandingkan memasak sendiri di rumah. Pilihan makanan yang tersedia di luar rumah umumnya didominasi oleh makanan yang digoreng, tinggi gula, serta rendah serat.
Hal ini membuat konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah semakin terpinggirkan dalam menu harian. “Kebiasaan hidup yang praktis menjadikan opsi membeli makanan jadi lebih banyak dilakukan, sementara pilihan yang tersedia sering kali kurang sehat,” ungkap Dini.
Rendahnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan juga menjadi sorotan penting dalam persoalan gizi masyarakat. Dini menjelaskan bahwa kebiasaan ini sering kali berakar dari pola makan yang tidak dibiasakan sejak masa kanak-kanak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan konsumsi sayur dan buah yang minim cenderung tidak menyukai makanan tersebut saat dewasa. Selain itu, kurangnya pengetahuan mengenai manfaat pangan bergizi turut memengaruhi keputusan konsumsi.
“Pemahaman yang kurang mengenai pentingnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan membuat pilihan makanan menjadi tidak optimal,” ujarnya.
Faktor rasa dan tekstur juga memainkan peran dalam menentukan preferensi makanan seseorang. Dini menjelaskan memang ada individu yang tidak menyukai buah karena teksturnya yang berair, atau tidak menyukai sayur karena dianggap berserat dan kurang menarik.
Preferensi ini sering kali terbentuk akibat kebiasaan konsumsi makanan olahan sejak usia dini. Paparan terhadap makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, dan lemak turut memperkuat kecenderungan tersebut.
“Biasanya ini terjadi karena sudah terbiasa dengan makanan olahan, sehingga pilihan terhadap makanan alami menjadi lebih rendah,” kata Dini.
Dini juga menyoroti dampak konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Pola makan seperti ini berkaitan erat dengan meningkatnya kasus penyakit tidak menular. Beberapa di antaranya adalah obesitas, hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia.
Tren ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. “Saat ini bahkan kasus penyakit tidak menular tersebut sudah banyak ditemukan pada individu berusia di bawah 40 tahun,” jelasnya.
Dalam upaya mengubah perilaku makan masyarakat, edukasi gizi dinilai memiliki peran penting, meskipun efektivitasnya masih perlu diperkuat. Ia melihat bahwa generasi milenial dan Gen Z mulai menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap pola hidup sehat.
Namun, perubahan tersebut belum merata di seluruh lapisan masyarakat. Pendekatan edukasi melalui media digital dinilai memiliki potensi besar untuk menjangkau kelompok usia muda.
“Edukasi melalui media sosial dengan pendekatan visual yang menarik dan melibatkan influencer bisa menjadi salah satu cara yang cukup efektif,” tutur Dini.
Selain edukasi digital, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas tetap menjadi kunci dalam membentuk kebiasaan makan yang lebih baik. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk pola konsumsi seseorang sejak usia dini.
Dini menekankan, intervensi yang menyasar keluarga dinilai lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Edukasi di sekolah juga menjadi langkah strategis untuk menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini.
“Keluarga adalah tempat awal seseorang belajar tentang pola makan, sehingga pendekatan ini tetap penting untuk dilakukan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perubahan perilaku makan masyarakat memerlukan keterlibatan berbagai pihak dengan pendekatan yang terintegrasi.
Edukasi saja tidak cukup tanpa didukung kebijakan yang mengatur lingkungan pangan. Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan informasi gizi tersedia secara jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Regulasi terkait iklan makanan dan pelabelan produk dapat membantu konsumen dalam membuat pilihan yang lebih sehat. “Misalnya melalui pencantuman label gizi yang lebih sederhana seperti traffic light food, sehingga masyarakat lebih mudah menentukan pilihan makanan,” pungkas Dini.
Triya Andriyani & KabarTerkiniNews.co.id







