Nobar “Pesta Babi”, Aktivis Lingkungan Soroti Ledakan Wisata dan Rencana Geotermal di Gunung Lawu

Foto Suasana nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Parkiran Masjid Besar Al-Mukarromah Karanganyar, Jumat (5/6/2026) malam. Istimewa

KARANGANYAR – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kabupaten Karanganyar menjadi momentum refleksi atas berbagai ancaman terhadap kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Gunung Lawu.

Hal itu mengemuka dalam kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang dilanjutkan dengan diskusi lingkungan hidup di Parkiran Masjid Besar Al-Mukarromah Karanganyar, Jumat (5/6/2026) malam.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pegiat lingkungan, akademisi, serta masyarakat umum. Hadir sebagai pemantik diskusi di antaranya David Efendi, S.IP., M.A., Sekretaris Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP Muhammadiyah, Aan Shopuanuddin selaku Koordinator Forum Rembug Pegunungan Lawu (FRPGL), serta Wishnu Try Utomo, Director of Mining Advocacy CELIOS.

Selain membahas berbagai persoalan pengelolaan sumber daya alam yang diangkat dalam film dokumenter Pesta Babi, peserta diskusi juga menyoroti kondisi terkini kawasan Gunung Lawu yang dinilai menghadapi tekanan pembangunan yang semakin besar.

Salah satu isu yang mendapat perhatian peserta adalah maraknya pengembangan destinasi wisata di kawasan lereng Gunung Lawu. Menurut peserta diskusi, sektor pariwisata memang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, namun pengembangan yang tidak terkendali berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi dan ekosistem hutan.

Peserta menilai diperlukan regulasi yang jelas sebagai batas pemanfaatan kawasan agar pengembangan wisata tidak mengorbankan fungsi konservasi, sumber mata air, serta keberlanjutan lingkungan hidup.

Selain sektor pariwisata, rencana pengembangan proyek panas bumi atau geotermal di wilayah Jenawi dan Ngargoyoso juga menjadi sorotan. Sejumlah aktivis lingkungan menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi dampak yang dapat ditimbulkan terhadap kawasan hutan dan sumber daya air di sekitar Gunung Lawu.

Isu geotermal sendiri sebelumnya telah memicu berbagai diskusi dan aksi penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat dan komunitas pecinta Gunung Lawu di Karanganyar. Mereka meminta pemerintah mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap rencana pemanfaatan kawasan pegunungan yang memiliki fungsi ekologis penting.

Diskusi yang digelar dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam mengawal kebijakan pembangunan agar tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sendiri menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat aksi nyata menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Peserta berharap pembangunan ekonomi, pengembangan pariwisata, maupun pemanfaatan energi di kawasan Gunung Lawu dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam bagi generasi mendatang. ( Her/ KTN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *