Memprihatinkan, SDN 04 Seloromo Hanya Miliki 14 Siswa, KBM Dengan Ruang Belajar Disekat Partisi

KARANGANYAR, kabarterkininews.co.id

SD Negeri 04 Seloromo, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, menjadi salah satu sekolah dasar dengan jumlah peserta didik paling sedikit di wilayah tersebut. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah ini hanya memiliki 14 siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI.

Guru kelas VI SDN 04 Seloromo, Suyono, mengatakan minimnya jumlah siswa sudah berlangsung sejak sekolah tersebut berdiri. Kondisi itu dipengaruhi letak sekolah yang berada di wilayah dengan jumlah penduduk sedikit.

“Di sini hanya terdiri dari dua RT. Penduduknya sedikit dan kebanyakan sudah lanjut usia. Memang ada anak-anak usia balita, tetapi belum cukup umur untuk masuk SD,” kata Suyono, Selasa (21/7/2026).

Suyono menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir sekolah sempat menerapkan kebijakan pembagian kelas dengan SDN 03 Seloromo. Saat itu siswa kelas bawah belajar di SDN 04 Seloromo, sedangkan kelas atas dipindahkan ke SDN 03 Seloromo. Namun, kebijakan tersebut kemudian dihentikan agar seluruh siswa kembali bersekolah dan lulus dari SDN 04 Seloromo.

Saat ini, jumlah siswa terdiri atas satu siswa kelas I, satu siswa kelas II, tiga siswa kelas III, empat siswa kelas IV, empat siswa kelas V, dan dua siswa kelas VI.

Meski hanya memiliki 14 siswa, sekolah didukung enam tenaga pendidik, termasuk seorang guru wiyata bakti yang mengajar Pendidikan Agama karena sebelumnya sekolah belum memiliki guru mata pelajaran tersebut.

Minimnya jumlah siswa membuat proses belajar mengajar dilakukan di ruang kelas yang disekat menggunakan partisi. Menurut Suyono, kondisi tersebut mengharuskan para guru menyesuaikan cara mengajar agar tidak saling mengganggu.

“Kalau mengajar kami saling memahami. Saat menerangkan suaranya dipelankan karena antar ruang masih saling terdengar,”ungkapnya.

Kepala SDN 04 Seloromo, Karsini, mengaku jumlah siswa yang sedikit sudah terjadi sejak lama. Sejak mulai bertugas pada 25 Mei 2026, ia telah berupaya melakukan pendekatan kepada pemerintah desa dan para ketua RT agar warga menyekolahkan anaknya di SD tersebut.

“Saya sudah meminta kerja sama kepada Kepala Desa dan para ketua RT. Namun memang jumlah anak usia sekolah di sini sangat sedikit. Data Posyandu hanya ada sembilan balita, dua di antaranya merupakan anak pendatang sehingga warga setempat hanya memiliki tujuh balita,”jelasnya.

Menurut Karsini, kondisi ruang kelas yang disekat memang kurang ideal karena suara dari ruang lain masih terdengar saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Meski demikian, proses pembelajaran tetap berjalan.

“Memang agak mengganggu, tetapi dengan kondisi yang ada tetap kami laksanakan pembelajaran,”katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar, Hendro Prayitno, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung kondisi SDN 04 Seloromo bersama Korwil Pendidikan Kecamatan Jenawi dan kepala sekolah.

Ia menyebut, secara sarana maupun tenaga pendidik, sekolah tersebut tidak mengalami persoalan. Kendala utama justru terletak pada minimnya jumlah siswa akibat rendahnya angka kelahiran di wilayah setempat.

“Guru lengkap dari kelas I sampai kelas VI. Yang menjadi kendala memang jumlah siswanya hanya 14 anak karena secara demografi angka kelahiran di wilayah ini rendah,”ujar Hendro.

Terkait kemungkinan regrouping atau penggabungan sekolah, Hendro mengatakan Dinas Pendidikan masih melakukan kajian. Keputusan tersebut tidak bisa diambil secara sepihak karena harus mempertimbangkan aspirasi masyarakat dan akses siswa ke sekolah.

“Kami masih melakukan evaluasi dan koordinasi dengan Korwil, kepala sekolah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga ketua RT. Jangan sampai keputusan regrouping justru menimbulkan persoalan baru karena siswa yang bersekolah di sini merupakan warga yang tinggal paling dekat dengan sekolah,” jelasnya.

Untuk sementara, Dinas Pendidikan akan terus memberikan pendampingan kepada sekolah serta mendorong pendekatan kepada masyarakat agar minat menyekolahkan anak di SDN 04 Seloromo dapat meningkat. Menurut Hendro, kondisi bangunan sekolah masih tergolong baik dan tetap layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

(Iwan).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *