Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Pelajaran matematika kerap menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah di Indonesia. Fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor numerasi Indonesia hanya berada di kisaran angka 366, jauh di bawah ukuran rata-rata Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang berada pada angka 472. Ironisnya, hanya sekitar 18% siswa Indonesia mampu mencapai tingkat kompetensi minimum level 2.
Padahal, disiplin ilmu tersebut memiliki peran krusial dalam memperkuat kapasitas intelektual dan kemampuan analitis pada siswa dengan membangun penalaran untuk memecahkan suatu masalah.
Guru Besar Departemen Matematika FMIPA UGM, Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti, mengatakan bahwa pengajar atau guru sangat mempengaruhi minat siswa terhadap pembelajaran matematika.
Menurutnya, kualitas pengajar matematika perlu diperhatikan dan ditingkatkan terlebih dahulu agar berdampak pada peningkatan kualitas proses belajar mengajar, sehingga kemampuan siswa akan terdongkrak seiring meningkatnya minat siswa dalam belajar matematika.
Indah menekankan pentingnya seorang guru atau pengajar menguasai strategi komunikasi klasik ala Aristoteles untuk menghidupkan suasana belajar di dalam kelas.
“Jika seorang guru mencintai matematika dan bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan prinsip-prinsip Aristoteles, yakni menjaga kredibilitas (ethos), membangun ikatan emosional (pathos), serta menyampaikan materi secara logis (logos), maka dia akan mempunyai kreativitas dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga siswa bisa belajar dengan baik dan menyenangkan,” ungkapnya,Senin (20/4).
Menurutnya, pembelajaran matematika di Indonesia saat ini memang masih berorientasi pada hafalan, sehingga proses belajar cenderung membosankan. Pendekatan tersebut tentu berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep matematika siswa.
Indah menjelaskan bahwa konsep matematis dapat dipahami dengan baik ketika logika dan berpikir kritis siswa cukup mumpuni. Hal ini menjadi sangat penting ketika para siswa tersebut kelak menempati posisi strategis di masyarakat.
“Jika kemampuan tersebut lemah, bisa dibayangkan dampaknya dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, hingga lingkungan. Pengambilan keputusan atau penerapan kebijakan memerlukan argumentasi atas dasar pemikiran yang logis,” terangnya.
Sejumlah orang tua telah memulai mengajarkan pembelajaran matematika sejak usia dini, sehingga peran dari keluarga berpengaruh pada kemampuan numerasi anak pada jenjang pendidikan selanjutnya.
Indah menerangkan bahwa keluarga merupakan “sekolah” pertama bagi anak. Ia menjelaskan bahwa pada saat masa golden age anak (umur 0-5 tahun), otak dan logika anak dapat distimulasi secara optimal melalui pembelajaran yang melatih cara berpikir logis dan kritis.
Menurutnya, pola asuh yang menghargai pendapat anak, mendengarkan argumentasinya, menjawab pertanyaan, memberi ruang eksplorasi, serta memberikan kebebasan berpendapat juga merupakan bentuk penguatan logika dan kemampuan berpikir kritis anak.
“Dari sini kita lihat bahwa antara pola asuh keluarga, lembaga pendidikan, serta lingkungan harus sejalan. Jadi, setelah memasuki usia sekolah dan bermasyarakat, lembaga pendidikan idealnya meneruskan kebiasaan tersebut agar potensi anak terus berkembang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Indah mengungkapkan sejumlah strategi yang dinilai paling efektif dan realistis untuk meningkatkan minat belajar matematika bagi siswa di Indonesia secara berkelanjutan. Pertama, perlu diadakan seleksi dengan baik bagi calon-calon guru atau pengajar matematika, bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi.
Kedua, memberikan jaminan kesejahteraan dan pekerjaan yang layak bagi lulusan hasil seleksi tersebut, agar para guru atau pengajar berkualitas dapat bekerja secara optimal. Ketiga, guru diberikan kebebasan dalam mengelola kelas secara kreatif. Terakhir, kurikulum matematika disusun secara realistis sesuai dengan perkembangan siswa oleh pihak yang berkompeten.
“Saya yakin, ketika ekosistem sudah ideal dan satu visi, maka dampak positifnya adalah kenaikan kemampuan siswa di bidang matematika. Sebaliknya, sebagus apapun metode pembelajaran yang diterapkan namun belum didukung ekosistem yang baik, maka hasilnya tidak akan sesuai” tutupnya.
Diyana Khairunnisa & KabarTerkiniNews.co.id







