Sumber Foto : vivanews dan Dok. FT UGM
Sleman, KabarTerkiniNews.co.id – Fenomena munculnya api terjadi di sebuah rumah warga di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Yogyakarta.
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE), Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, memantau lokasi secara langsung guna meneliti faktor pemicu di kawasan rumah warga tersebut. Investigasi turut dibersamai oleh beberapa pihak, seperti pakar Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, dan aparat setempat.
Berbagai perabot yang terbakar di beberapa penjuru rumah menjadi bukti sebaran titik api yang tersebar tidak menentu. Mutfiana, pemilik rumah, kali pertama menemukan titik api pada Sabtu (23/5) lalu. Hari-hari berikutnya, titik kemunculan api terus bertambah dan telah mencapai 65 titik.
Sementara itu, api telah muncul sekitar 73 kali terhitung hingga observasi kedua dilakukan oleh tim pakar pada Senin (1/6) kemarin. Dalam satu hari, api diperkirakan dapat muncul hingga 7-9 kali di dalam rumah tersebut.
Sebelum pemantauan lebih lanjut, tim telah lebih dahulu melakukan observasi perdana pada Sabtu (30/5). Tim yang dipimpin oleh Prof. Alva Edy Tontowi tersebut memeriksa beberapa area yang pernah mengalami kebakaran, seperti jaringan pipa air, umur, saluran pembuangan limbah, dan titik-titik kemunculan api.
Alva menerangkan, kemunculan api erat kaitannya dengan unsur dalam segitiga api yang saling berinteraksi. Unsur-unsur tersebut meliputi panas, oksigen, dan bahan bakar atau berupa media.
“Segitiga api itu yang posisinya masing-masing kondisi optimum dan di situlah akan menyala. Nah, menyalanya memang di media-media. Tadi ada media kaos, kalau yang kejadiannya sebelumnya kan ada media-media yang lain dari plastik, dari yang lain-lain,” terang Alva.
Usai diidentifikasi, tim pakar turut menangkap informasi bahwa lokasi pemukiman tersebut merupakan bekas rawa yang lembab dan kaya akan material organik yang menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Dari sana, tim melakukan pengukuran lapangan menggunakan thermal gun.
Dr. Sardju Winardi, Dosen Departemen Teknik Geologi, menerangkan, secara teori, air yang terkontaminasi metana tidak serta merta terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah karena memerlukan konsentrasi tertentu.
“Terbakarnya adalah ketika air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar,” ungkapnya.
Selain air limbah dan gas metana, pakar turut mengamati medan elektromagnetik di sekitar area rumah. Penyebab titik api tersebut telah dipastikan bukan berasal dari unsur kelistrikan sebab dalam kondisi tertentu, api memang dapat muncul secara spontan tanpa ada listrik sebagai pemantik.
Dalam kasus ini, air limbah diduga sebagai pemicu utama, sehingga tim pakar mengambil sampel air limbah, air dari pipa, dan sumur warga untuk diidentifikasi.
Sumber Foto : vivanews dan Dok. FT UGM
Kedepannya, sampel akan diidentifikasi untuk mengetahui dan mengenali sumber dan mekanisme terbentuknya api secara komprehensif dan objektif berdasarkan hasil uji lab untuk menentukan langkah mitigasi.
Alva mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan uji laboratorium dari data observasi yang sudah dikumpulkan oleh tim. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menyampaikan hasil uji ilmiah untuk mengetahui penyebab kemunculan titik api dari rumah warga tersebut.
Ika Agustine, Naufal & KabarTerkiniNews.co.id







