Bola yang Dimainkan, Teknologi yang Berfestival

Sumber Foto : cnnindonesia.com

 

Bacaan Lainnya

Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Mexico menang 2-0 atas Afrika Selatan di laga pembuka Piala Dunia 2026, dinihari tadi, dan lagi. Sebagai mantan orang TV yang pernah mengurus siaran Liga Indonesia di ANTV (2007-2013), semalam saya merasa sedang menonton sesuatu yang lebih besar dari sepak bola.

Pertandingan itu terasa seperti gabungan antara olahraga, Hollywood, Silicon Valley, industri data, dan pertunjukan televisi paling mahal di muka bumi.

Penulis merasa, mungkin memang itulah wajah baru sepak bola modern dengan perkembangan teknologi siaran audio-visual yang makin tak berjarak.

Dulu orang datang ke stadion hanya untuk melihat pertandingan. Sekarang, FIFA ingin penonton makin “merasakan pengalaman”. Itu sebabnya tayangan semalam terasa makin berbeda sejak awal.

Kamera lebih sinematik. Audio stadion lebih hidup. Crowd ambience sengaja dibiarkan kasar dan mentah. Beberapa shot bahkan ditahan lebih lama seperti film dokumenter.

Bukan kebetulan. Piala Dunia 2026 memang menjadi eksperimen teknologi terbesar dalam sejarah FIFA. Karena setiap gelaran Piala Dunia Sepak Bola dan juga Olimpiade, disanalah kita melihat “pameran teknologi siaran” yang begitu cepat berubah dari tahun ke tahun.

Reuters dan FIFA menyebut turnamen kali ini menggunakan sistem offside generasi baru yang jauh lebih cepat dibanding Qatar 2022. Bahkan beberapa keputusan offside kini bisa langsung dikirim ke hakim garis melalui earpiece tanpa harus menunggu VAR terlalu lama. Teknologi itu dibantu sensor di bola, kamera optik, dan AI tracking pemain.

Itu bisa diartikan, sekarang bola bukan lagi sekadar bola. Di dalamnya ada sensor pintar yang membaca pergerakan hingga ratusan kali per detik.

Situs Wired.com menyebut bola pertandingan kini mampu mengirim data gerakan secara real-time ke sistem VAR untuk membaca momen sentuhan dan posisi pemain dengan presisi ekstrem.

Kalau dipikir-pikir, ini gila. Dulu perdebatan offside terjadi karena garis lapangan yang terlihat di kamera. Sekarang FIFA sudah memakai “digital twin” pemain. Semua pemain Piala Dunia 2026 di-scan tubuhnya menjadi avatar 3D agar sistem bisa membaca bentuk badan, panjang kaki, posisi bahu, sampai sudut tubuh secara akurat. Keterangan ini Selengkapnya ada di inside.fifa.com.

Jadi semalam, ketika kita melihat replay offside yang terlihat sangat realistis itu, sebenarnya kita sedang melihat gabungan sepak bola dan industri gaming. Pemain sudah berubah menjadi data.

Dan bukan cuma itu. Untuk pertama kalinya di Piala Dunia, kamera body-cam wasit dipakai secara serius dengan teknologi stabilizer berbasis AI (Artificial Intelligence). Di situsnya FIFA menyebut teknologi ini dikembangkan bersama Lenovo agar gambar tetap halus meski wasit berlari cepat.

Maka jangan heran kalau beberapa angle tayangan semalam terasa, “Kayak video game first-person shooter,” kata keponakan penulis. Kita benar-benar melihat pertandingan seolah dari mata wasit.

Di sisi lain, jumlah kamera juga makin absurd. Beberapa laporan menyebut setiap pertandingan kini memakai 45 sampai 50 kamera, termasuk spidercam, polecam, cablecam, sampai kamera 360 derajat. Tulis creativesunite.eu.

Menariknyalagi, FIFA tampaknya sadar bahwa generasi penonton sekarang hidup di TikTok, Instagram dan YouTube. Bukan generasi TV kayak babenya.

Karena itu visual pertandingan dibuat lebih vertikal, lebih cinematic, lebih mudah dipotong menjadi konten pendek. Karena sepak bola hari ini makin bukan cuma pertandingan 90 menit. Bola sepak global adalah bahan baku konten penduduk bumi.

Ada lagi nih, FIFA kini punya sistem bernama Football AI Pro. Semacam asisten analisis berbasis AI yang membantu semua tim peserta membaca data pertandingan, taktik lawan, hingga simulasi permainan. Situs FIFA mengatakan teknologi ini dibuat agar negara kecil sekalipun bisa memiliki akses analisis setara negara besar.

Kedengarannya mulia. Tapi di saat bersamaan, kita juga sedang melihat sesuatu yang menarik, bahwa sepak bola perlahan berubah menjadi industri algoritma.

Mungkin beberapa orang akan bilang ini terlalu berlebihan. Bahwa teknologi membuat sepak bola kehilangan romantismenya.

Bisa dipahami dan dimengerti. Karena sebagian keindahan sepak bola memang lahir dari kekacauan, kesalahan manusia, dan drama spontan yang tidak sempurna.

Tetapi industri olahraga modern tidak lagi berpikir soal romantisme. “Enggak maju-maju kalau mabuk romantisme mulu,” kata anak muda pedagang warung Madura, kawan penulis.

Pemangku kepentingan sepak bola sekarang sudah berpikir tentang pengalaman penonton, akurasi data, engagement digital dan… jangan lupa, miliaran dolar hak siar dengan segala aspek turunannya.

Itulah sebabnya pertandingan semalam terasa begitu “rapi” secara visual. Para pemain yang merumput,juga ditingkahi oleh teknologi AI engineer demi memperkuat operator replay, pengolah data, sutradara broadcast, software tracking, dan equipment yang bekerja senyap di balik layar.

Sekali lagi, mungkin inilah momen ketika kita harus menerima satu kenyataan, bahwa Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar turnamen sepak bola. Ia sudah menjadi festival teknologi terbesar yang kebetulan dimainkan dengan cabor bernama sepak bola.

Yusuf Ibrahim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *