Apel Siaga Karhutla Satukan Seluruh Kekuatan di Lereng Gunung Lawu, Sinergi Jadi Kunci Cegah Kebakaran Hutan

KARANGANYAR – Kabarterkininews.co.id,  Ratusan personel dari berbagai unsur berdiri berbaris di Lapangan Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Senin (3/8/2026). Di bawah langit musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama Perhutani, Polres Karanganyar, Kodim 0727/Karanganyar, BPBD, Damkar, relawan, serta sejumlah instansi terkait menggelar Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi kebakaran di kawasan lereng Gunung Lawu.

Apel siaga tersebut menjadi penegasan bahwa menghadapi ancaman kebakaran hutan tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Dibutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kerja sama lintas sektor agar pencegahan maupun penanganan dapat dilakukan secara cepat dan terpadu ketika muncul titik api.

Momentum ini sekaligus menjadi ajang memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian kawasan Gunung Lawu yang menjadi salah satu kawasan hutan penting di Jawa Tengah. Selain pengecekan kesiapan personel, kegiatan juga diisi pemeriksaan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan kebakaran hutan.

Administratur Perhutani KPH Surakarta, Agus Supriyanto Ganasari, mengatakan sinergi seluruh pemangku kepentingan merupakan langkah paling mendasar dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, Perhutani tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pemerintah desa, relawan, hingga masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan menjadi faktor penting dalam menjaga Gunung Lawu tetap aman selama musim kemarau.

Selain memperkuat koordinasi antarinstansi, Perhutani juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan hutan agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami berharap dengan dukungan seluruh stakeholder dan kesiapan yang sudah dilakukan, kebakaran hutan tidak terjadi tahun ini,” kata Agus.

Ia menambahkan, kesadaran masyarakat di sekitar Gunung Lawu terus meningkat. Aktivitas pembuatan arang yang sebelumnya sempat menjadi salah satu pemicu kebakaran kini mulai berkurang berkat pembinaan yang dilakukan secara bersama oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas, pemerintah desa, dan masyarakat.

Terkait upaya jangka panjang, Agus menyampaikan pembangunan embung sebagai sumber cadangan air untuk mendukung pemadaman kebakaran memungkinkan dilakukan sesuai regulasi. Namun usulan tersebut harus diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar kepada Kementerian Kehutanan.

“Perhutani siap memberikan dukungan apabila usulan resmi dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah diajukan. Namun hingga saat ini kami belum menerima proposal tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti menegaskan bahwa potensi kebakaran hutan masih cukup tinggi selama puncak musim kemarau berlangsung. Karena itu masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berisiko memicu kebakaran, termasuk para pendaki yang beraktivitas di kawasan Gunung Lawu.

Patroli gabungan akan terus diintensifkan pada jam-jam rawan, yakni pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Personel Polri, TNI, Perhutani, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga relawan akan terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat sebagai langkah deteksi dini munculnya titik api.

Hingga saat ini, Polres Karanganyar belum menerima laporan adanya kebakaran hutan selama musim kemarau tahun ini. Meski demikian, seluruh personel beserta armada dan peralatan pendukung tetap disiagakan agar dapat bergerak cepat apabila terjadi keadaan darurat.

Bupati Karanganyar Rober Christanto mengatakan apel siaga ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi wujud kesiapan seluruh unsur dalam menjaga kawasan Gunung Lawu dari ancaman kebakaran. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, Perhutani, TNI, Polri, BPBD, Damkar, relawan, dan masyarakat harus terus diperkuat karena perlindungan hutan merupakan tanggung jawab bersama.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar juga akan kembali menindaklanjuti rencana pembangunan embung sebagai salah satu langkah mendukung ketersediaan sumber air untuk penanganan kebakaran hutan di masa mendatang.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta apel menyaksikan simulasi sederhana penanganan kebakaran semak belukar. Dalam simulasi tersebut, petugas memperagakan cara memadamkan api menggunakan peralatan manual serta melakukan proses pendinginan di area yang terbakar agar api tidak kembali menyala. Meski berlangsung singkat, simulasi tersebut menjadi pengingat bahwa kecepatan respons dan koordinasi antarpetugas menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas di kawasan hutan. ( Her / KTN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *