Lingo, Media Belajar Literasi Anak Usia Dini Hasil Inovasi Mahasiswa UGM

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Kesiapan literasi anak usia dini menjadi salah satu perhatian dalam masa transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar. Di tengah penggunaan gawai sebagai sarana belajar yang semakin umum, ketersediaan Alat permainan edukatif (APE) yang interaktif dan mampu memberikan respons masih menjadi tantangan bagi guru maupun orang tua.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan Lingo, Literasi Interaktif Non-Gawai Berbasis Teknologi Pengenalan Ucapan sebagai Permainan Edukatif Pra dan Awal Sekolah Guna Meningkatkan Kecerdasan Linguistik Anak.

Bacaan Lainnya

Inovasi ini dirancang sebagai media belajar literasi yang memadukan permainan edukatif dengan teknologi pengenalan ucapan tanpa bergantung pada layar gawai.

Lingo dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Inovatif (PKM-KI) dengan melibatkan mahasiswa dan dosen UGM. Tim terdiri atas dosen pendamping Dina Fitriana Rosyada, SKM., MKL serta empat mahasiswa, yakni Miftahul Khaira, Billy Rizky Ramadhan, Rozaqiya Hanifa, dan Aphrodity Nirmala Putri.

Perangkat tersebut dirancang untuk membantu anak mengenali abjad, melatih pengucapan suku kata, serta menstimulasi kemampuan motorik dan auditori selama proses belajar membaca.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar literasi yang interaktif melalui permainan, sehingga anak dapat berlatih tanpa harus bergantung pada gawai,” ujar Dina selaku dosen pendamping, Jumat (11/9).

Dari sisi teknologi, Lingo memanfaatkan sejumlah komponen yang memungkinkan perangkat merespons aktivitas anak selama bermain. Sensor keypad membrane, mikrofon INMP441, speaker, DFMiniplayer, dan mikrokontroler ESP32-S3 digunakan untuk mendukung proses pengenalan serta evaluasi pelafalan. Sistem tersebut dirancang untuk menganalisis pengucapan anak dan memberikan umpan balik audio secara real-time.

“Ketika anak mencoba mengucapkan suku kata, sistem akan memproses suara yang diterima dan memberikan umpan balik sehingga anak dapat mengetahui respons dari latihan yang dilakukan,” tutur Dina.

Dina menjelaskan pembelajaran melalui Lingo juga terhubung dengan sistem pemantauan berbasis situs web melalui teknologi Internet of Things (IoT). Riwayat belajar dan nilai evaluasi anak dapat dicatat secara real-time sehingga perkembangan latihan dapat dipantau oleh guru maupun orang tua.

Fitur tersebut dirancang untuk memberikan gambaran mengenai ketercapaian belajar anak secara bertahap. “Data hasil latihan dapat menjadi bahan bagi guru dan orang tua untuk melihat perkembangan literasi anak dan menentukan pendampingan yang sesuai,” ungkapnya.

Miftahul menambahkan pengembangan Lingo juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembelajaran anak pada masa awal perkembangan. Tim merancang perangkat agar stimulasi literasi berlangsung melalui aktivitas bermain yang melibatkan kemampuan bahasa, pendengaran, dan gerak.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif kegiatan belajar yang menyenangkan dengan mengurangi ketergantungan pada layar.

“Kami merancang Lingo sebagai media yang dapat membuat proses belajar membaca terasa seperti bermain, sehingga anak tetap mendapatkan stimulasi sambil berinteraksi langsung dengan alat,” katanya.

Untuk memastikan rancangan sesuai dengan karakteristik pengguna, tim telah melakukan pengujian interaksi lapangan di TK Budi Mulia Al Bayaan.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat kesesuaian desain dan fungsi Lingo dengan pola interaksi anak usia dini. Dokumentasi pada naskah memperlihatkan anak-anak menggunakan perangkat secara langsung dalam kegiatan bersama tim mahasiswa.

“Pengujian di lapangan membantu kami melihat bagaimana anak berinteraksi dengan Lingo sekaligus menjadi bahan untuk menyempurnakan desain dan fungsinya,” ujar Miftahul.

Saat ini, prototipe Lingo sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Desain Industri. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi karya sekaligus membuka peluang pemanfaatan inovasi dalam pendidikan anak usia dini.

Pengembangan Lingo juga sejalan dengan perhatian terhadap penguatan pendidikan, sains, dan teknologi serta program Transisi PAUD ke SD dan Gerakan Literasi Nasional. Melalui integrasi teknologi pengenalan ucapan, umpan balik audio, dan IoT, tim UGM berharap Lingo dapat terus dikembangkan menjadi alat permainan edukatif yang mendukung guru dan orang tua dalam mendampingi literasi dasar anak.

Triya Andriyani/ Redaksi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *