Undana Sebut Mahasiswi Bukan Depresi, Namun Kelelahan dan Kecemasan yang Berdampak ke Kesehatan Fisik

Kupang, KabarTerkiniNews.co.id – Pihak kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait kasus Jessica Sofia Tunardjo, seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat yang diklaim gagal ujian 12 kali dan viral di media sosial serta memicu perhatian luas masyarakat. Melalui konferensi pers yang disiarkan secara langsung (live streaming) lewat kanal YouTube, Rabu (5/8/2026), pihak kampus menegaskan bahwa kondisi mahasiswi tersebut bukan mengalami depresi, melainkan kelelahan dan kecemasan yang berdampak pada kesehatan fisiknya

Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Universitas Nusa Cendana.

Bacaan Lainnya

” Kami bersyukur karena berdasarkan hasil pemeriksaan, mahasiswa kami yang viral itu tidak sampai pada tahap depresi seperti yang diberitakan di media. Mahasiswa kami mengalami kelelahan dan kecemasan yang berdampak terhadap kesehatan fisiknya,” ujar Prof. Philiphi.

la juga menjelaskan bahwa kondisi mahasiswi JST saat ini telah berangsur membaik dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah untuk menjalani masa pemulihan.

Ia juga menegaskan bahwa yang terjadi adalah penyesuaian jadwal seminar proposal dan seminar hasil, bukan pembatalan ujian skripsi.

“Tahapan penyelesaian tugas akhir terdiri dari seminar proposal, seminar hasil, kemudian ujian skripsi. Yang terjadi adalah penyesuaian jadwal seminar, bukan pembatalan ujian skripsi sebanyak 12 kali seperti yang berkembang di media sosial,” jelasnya.

Pihak kampus juga sudah membuat tim investigasi untuk mengusut hal ini, selain itu, Undana juga melakukan telaah terhadap dokumen akademik, termasuk standar operasional prosedur (SOP), mekanisme penjadwalan seminar, surat penugasan dosen, hingga sistem pelayanan akademik. Prof. Philiphi menegaskan bahwa pimpinan Undana berkomitmen menjadikan peristiwa ini sebagai momentum evaluasi untuk memperbaiki tata kelola akademik.

Dalam konferensi pers itu, Undana juga memastikan bahwa selain memberikan pendampingan kepada mahasiswi, pihak kampus turut memberikan perhatian kepada dosen yang menjadi sorotan publik dalam kasus tersebut.

Menurut Prof. Philiphi, baik mahasiswa maupun dosen sama-sama membutuhkan ruang pemulihan secara psikologis. “Kami berharap masyarakat dan media dapat bersama-sama membantu proses pemulihan ini. Mahasiswa dan dosen merupakan bagian dari keluarga besar Undana yang sama-sama perlu mendapatkan pendampingan,” tutupnya.

Rudy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *