Sekolah Muhammadiyah Didorong Bertransformasi dari ‘Mengajar’ Menjadi ‘Menghidupkan’

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id — Pendidikan Indonesia tengah memasuki era baru melalui penguatan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Momentum ini dinilai menjadi peluang strategis bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk meredefinisi peran dan kualitas pendidikannya, beranjak dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi laboratorium kehidupan yang mencetak generasi unggul.

Gagasan tersebut ditegaskan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Andreast Wahyu Sugiyarta, M.Pd. Ia menilai bahwa ukuran keberhasilan sekolah tidak boleh lagi berpatokan sebatas pada nilai rapor, angka kelulusan, atau deretan piala prestasi.

Bacaan Lainnya

“Belajar tidak cukup membuat anak tahu. Belajar harus membuat anak berubah—dari tahu menjadi paham, dari mampu melakukan hingga mampu memberikan manfaat bagi sesama,” tegas Andreast.

Menjadikan Muhammadiyah sebagai Rujukan Quality, Bukan Sekadar Quantity
Sebagai salah satu pilar pendidikan nasional yang memiliki ribuan sekolah dan madrasah, Muhammadiyah menghadapi tantangan besar untuk tidak hanya unggul dari segi kuantitas. Pada tahun 2026, Pimpinan Muhammadiyah kembali menekankan pentingnya keunggulan yang utuh: mengawinkan prestasi akademik dengan keimanan, kecerdasan intelektual, akhlak, dan keterampilan hidup.

Di era gempuran Kecerdasan Artifisial (AI), peran sekolah bergeser dari sekadar penyedia jawaban menjadi wadah yang mengasah kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan empati sosial. Teknologi dimanfaatkan sebagai alat, sementara nilai-nilai Islam Berkemajuan bertindak sebagai kompas penunjuk arah.

Integrasi dan Keunggulan Khas Sekolah
Menghadapi horizon tahun 2036, transformasi pendidikan Muhammadiyah mengarah pada integrasi antara ilmu pengetahuan, iman, dan teknologi. Dalam kasus SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, integrasi ini diwujudkan melalui layanan kelas Tahfidz dan Desain Komunikasi Visual (DKV), serta pergeseran ekosistem belajar dari teaching oriented menjadi learning oriented.

Guna mewujudkan paradigma ini, kunci utama perubahan berada di tangan para guru. Pendidik masa depan dituntut untuk berperan sebagai fasilitator dan pembimbing yang terus belajar bersama siswa, bukan lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan di kelas.

“Masa depan sekolah dibangun ketika setiap ruang kelas mampu menghidupkan rasa ingin tahu, daya pikir, akhlak, dan kepedulian siswa. Bukan sekadar sekolah yang mengajar, tetapi sekolah yang menghidupkan,” pungkasnya.

Nurul Abadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *