Mendidik Polymath di Era AI : SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Siapkan Kader Visioner

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id — Di era kecerdasan artifisial, Sekolah Muhammadiyah ditantang mencetak kader yang tidak hanya fasih teknologi, tapi juga mampu berpikir lintas disiplin. Konsep inilah yang diusung SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta melalui gagasan “Polymath di Era AI”.

Kepala SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Fitri Sari Sukmawati, http://M.Pd, menyebut polymath adalah pembelajar yang menguasai banyak bidang dan mampu mengintegrasikannya untuk menciptakan solusi baru.

“AI bisa membantu mencari data dan membuat karya. Tapi manusia yang harus menentukan pertanyaan, nilai, dan maknanya. Karena itu kita butuh generasi yang multiperspektif, bukan sekadar multitalenta,” ujar Fitri, kepada wartawan , Kamis (10/9/2026)

Menurut Fitri, pendekatan ini sejalan dengan Pembelajaran Mendalam. Contohnya: saat membahas perubahan iklim, siswa belajar IPA, matematika, kebijakan sosial, menulis kampanye digital, hingga menelaah nilai Islam tentang tanggung jawab terhadap lingkungan.

Islam Berkemajuan + Teknologi
Bagi Muhammadiyah, pendidikan polymath ditempatkan dalam kerangka Islam Berkemajuan. Tujuannya: melahirkan manusia berilmu, beramal, berakhlak, dan bermanfaat.

Sekolah tidak memaksa siswa memilih “sains atau seni”, “teknologi atau agama”. Semua bidang didialogkan. Matematika bisa bertemu seni. Sains bisa bertemu AI. Semua bermuara pada membangun manusia yang utuh.

Peran Guru dan Sekolah Berubah
Dalam model ini, guru bertransformasi dari sumber informasi menjadi learning designer, mentor, dan pembangun karakter. Kepala sekolah berperan sebagai learning leader yang membangun budaya eksperimen dan kolaborasi antarmata pelajaran.

SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta sudah mulai menerapkan. Contohnya pembelajaran STEAM dengan strategi project-based learning. Ada juga sistem “kelas bergerak” atau moving class sesuai minat jurusan kuliah, serta penggabungan mata pelajaran lewat lesson study dan kegiatan kokurikuler.

“Visi kami 2045: siswa meneliti, membuat proyek, menggunakan AI secara etis, berkolaborasi global, tapi tetap berakar pada nilai lokal dan keislaman,” kata Fitri.

Tantangan Terbesar
Tantangan pendidikan di era AI bukan mengalahkan mesin, tapi memastikan manusia tetap manusiawi. Dibutuhkan kader yang cerdas akademik, berempati, berintegritas, kreatif, dan menggunakan ilmu untuk kemaslahatan.

“Masa depan bukan milik yang paling banyak tahu. Masa depan milik mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan, menciptakan makna, dan mengubahnya jadi manfaat,” tegasnya.

Dengan ekosistem Tajdid ini, Sekolah Muhammadiyah berharap melahirkan kader polymath yang siap menghadapi tantangan zaman dan membawa kemajuan bagi umat.

Nurul Abadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *