Sagon Gulung, Camilan Tradisional Khas Bantul Tetap Eksis Bersaing Dengan Jajanan Modern

Bantul, KabarTerkiniNews.co.id – Yogyakarta, memang dikenal memiliki keaneragaman budaya yang masih melekat dalam kehidupan masyarakatnya.

Salah satunya, makanan serta camilan tradisionalnya, yang mungkin tidak akan ditemui di negara lain. Diantaranya, Sagon Gulung.

Panganan jadul berbahan campuran kelapa, gula jawa, dan tepung ketan ini, selalu melekat di hati penikmatnya, karena tekstur rasanya yang unik, perpaduan manis gurih, dan bau sangit pembakaran.

Kelapa, gula jawa, dan tepung ketan, telah menjadi denyut nadi keseharian Muryanti. Tak hanya sekedar sebagai seumber penghidupan, namun dari ketiga bahan itulah, warga Sanden, Bantul ini, mempertahankan warisan perjalanan sejarah kebudayaan Jawa.

Di dapur sederhananya ini, ibu dua anak berusia 63 tahun ini sehari-hari mengolah ketiga bahan itu, menjadi camilan Sagon Gulung, dibantu kedua anaknya, serta satu orang tetangganya. Namun, dibaliik keunikan citarasnya, ada proses panjang dalam pembuatannya.

Parutan kelapa yang bercampur tepung ketan halus, dikukus hingga kenyal selama 30 menit. Hasil kukusan itu, kemudian dipadukan dengan larutan cairan gula jawa, hingga mengental, kemudian dicetak menyerupai gulungan, selagi masih panas.

Proses pembuatan sagon tergolong sederhana, meski terdapat variasi teknik di tiap daerah. Yang membedakan, Sagon gulung ini dibungkus dengan taburan tepung ketan halus, yang digulungkan diatas tungku pembakaran.

Saat dibakar, tepung ketan tersebut mengalami karamelisasi yang menghasilkan aroma harum khas, menjadi daya tarik utama kue tradisional ini.

Ketrampilan Muryanti mengolah Sagon Gulung, ia dapat dari orangtua. Meneruskan usaha keluarga, yang telah digeluti sejak belasan tahun lalu.

“Dulu ibu yang aktif membuat, saya Cuma membantu, namun karena usia sudah tidak bisa lagi meneruskan, akhirnya saya coba teruskan, hingga sekarang,”tuturnya saat dijumpai di rumahnya, Pedukuhan Wonorejo 2, Kalurahan Gadingsari, Selasa (13/10/2026).

Bagi Muryanti, mempertahankan produksi camilan tradisional ini, tak sekedar sebagai penerus warisan budaya jawa, namun juga telah menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.

“Yang membuat Sagon Gulung di Yogyakarta setahu saya Cuma saya, jadi masih menjanjikan untuk dipasarkan, meski hanya skala lokal DIY saja,”ujarnya.

Dalam sehari, Muryanti mampu memproduksi 250-300 biji Sagon Gulung dari bahan baku 5-6 kilogram, dengan satunya dijual Rp 2 ribu.

“Penjualannya saya masih titipkan di warung-warung jajajan pasar, toko camilan dan oleh-oleh, dan terkadang ada pesanan juga,”imbuhnya.

Muryanti menyebut Sagon Gulungnya ini hanya mampu bertahan 2 – 3 hari, karena seluruh bahan bakunya masih menggunakan bahan pangan organic, tanpa campuran bahan kimia.

Kue kering berbahan dasar kelapa dan tepung ketan ini, dikenal luas di berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Yogyakarta, terutama sebagai camilan hangat yang akrab menemani waktu sore bersama secangkir teh atau kopi.

Sagon merupakan penganan sederhana yang sejak dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat kebanyakan. Meski tidak tercatat secara pasti kapan pertama kali hadir, sagon telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Jawa, khususnya dalam aktivitas pasar dan perayaan hari-hari tertentu.

Salah satu kudapan tradisional khas budaya Jawa yang tetap eksis, bersaing di tengah gempuran jajanan modern.

Joko Pramono

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *