Yogyakarta, kabarTerkiniNews.co.id – Mengusung tema “Harmonizing Georesources, Geohazard, and Heritage Conservation to Promote Sustainable Development”, ratusan ahli geologi yang tergabung dalam Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berkumpul di Yogyakarta, 3-5 November 2026.
Mereka menyelenggarakan 55th IAGI Annual Scientific Meeting, Convention, and Exhibition (PIT IAGI) – GEOSEA XIX Regional Congress di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, peneliti, praktisi, organisasi profesi, serta mahasiswa dari Indonesia dan kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat kolaborasi dan membahas berbagai tantangan dalam pengembangan ilmu kebumian.
Ketua Umum IAGI STJ Budi Santoso mengatakan penyelenggaraan PIT IAGI ke-55 yang dirangkaikan dengan GEOSEA XIX Regional Congress merupakan momentum penting bagi komunitas geosains untuk memperluas jejaring profesional, bertukar pengetahuan, serta mendorong sinergi lintas sektor dan lintas negara.
“Berbagai isu strategis menjadi fokus pembahasan, mulai dari eksplorasi dan pengelolaan sumber daya geologi, ketahanan energi, transisi energi, mitigasi bahaya geologi, hingga konservasi warisan geologi (geoheritage) dan pengembangan geopark,” kata Budi Santoso.
Sebagai salah satu forum geosains regional di Asia Tenggara, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah dan strategis, tetapi juga mencakup berbagai agenda pengembangan profesional, pameran industri, presentasi hasil penelitian, kompetisi mahasiswa, workshop, serta kegiatan organisasi profesi.
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari manfaat ekonomi, tetapi juga dari keselamatan manusia dan keseimbangan lingkungan.
“Keberhasilan pembangunan, karenanya, harus diukur dari manfaat ekonomi yang dihasilkan, keselamatan manusia yang terlindungi, dan keseimbangan ekologis yang terpelihara,” ujarnya.
“Saya berharap, Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-55 IAGI dan GEOSEA ke-19, memperkokoh kolaborasi internasional, mempertemukan ketajaman riset dengan kebijaksanaan, serta melahirkan inovasi yang menjaga keberlanjutan kehidupan,” pungkasnya.
Sultan mengingatkan bahwa kekayaan geologi merupakan warisan bumi yang dapat dimanfaatkan, tetapi pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana dan memperhatikan dampaknya. Melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, masyarakat diajak mengedepankan kearifan dalam mengelola alam, termasuk memahami potensi dan risiko yang menyertainya.
Menurutnya, pengalaman hidup berdampingan dengan Gunung Merapi menjadi pelajaran penting bahwa pengetahuan kebumian harus diwujudkan dalam kesiapsiagaan dan pengambilan keputusan yang melindungi masyarakat.
Andri Tiyo





