Dugaan Kekerasan di SMPN 11 Pekalongan, Sekolah Tegaskan Bukan Pengeroyokan : Berawal dari Ucapan yang Memicu Emosi

Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id  — Heboh kabar dugaan kekerasan di lingkungan SMPN 11 Kota Pekalongan akhirnya mendapat klarifikasi dari pihak sekolah. Insiden yang sempat menjadi perhatian tersebut ditegaskan bukan merupakan pengeroyokan, melainkan perkelahian yang melibatkan dua siswa.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, saat SMPN 11 Kota Pekalongan tengah menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya

Kepala SMPN 11 Kota Pekalongan, Nurlaely Herawati, membenarkan adanya insiden tersebut. Namun, dia meluruskan informasi yang berkembang dengan menegaskan bahwa kejadian hanya melibatkan dua siswa.

“Memang betul adanya perkelahian di SMPN 11 Kota Pekalongan. Jadi ada dua anak. Yang satu mengucapkan kata-kata yang tidak disukai, sehingga yang satunya merasa emosi,” jelas Nurlaely, Kamis (20/8/2026).

Berawal dari Ucapan, Berujung Pukulan

Menurut penjelasan pihak sekolah, perselisihan bermula ketika salah seorang siswa mengucapkan kata-kata yang dianggap tidak menyenangkan oleh temannya.

Ucapan tersebut kemudian memicu emosi hingga terjadi cekcok. Dalam situasi tersebut, salah seorang siswa akhirnya menonjok bagian pipi temannya. Akibat pukulan itu, siswa yang menjadi korban mengalami memar ringan.

Setelah kejadian, siswa tersebut langsung menuju Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendapatkan pertolongan. Pihak sekolah kemudian segera mengambil langkah dengan membawa siswa ke Puskesmas.

“Anaknya langsung menuju ke UKS untuk meminta bantuan. Lalu sekolah langsung menindaklanjuti dan mengantar ke Puskesmas. Orang tua masing-masing juga langsung kami beri tahu,” terang Nurlaely.

Sekolah Turun Tangan, Kedua Keluarga Dipertemukan

Pihak SMPN 11 Kota Pekalongan tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.

Sekolah memfasilitasi pertemuan antara keluarga kedua siswa untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Dalam pertemuan tersebut turut hadir orang tua kedua siswa, pihak Kelurahan Medono, serta *Bhabinkamtibmas.

Hasilnya, kedua pihak sepakat untuk berdamai.

Kedua siswa juga menandatangani surat perdamaian yang berisi komitmen untuk tidak mengulangi kejadian serupa.

“Alhamdulillah sudah bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Dari pihak Kelurahan Medono dan Bhabinkamtibmas juga hadir. Keduanya sepakat berdamai dan menandatangani surat perdamaian berisi komitmen tidak akan mengulangi lagi,” kata Nurlaely.

Sekolah juga meminta orang tua siswa yang melakukan pemukulan untuk bersilaturahmi ke keluarga siswa yang menjadi korban. “Alhamdulillah pihak orang tua korban sudah memaafkan,” imbuhnya.

Kepala Sekolah : Keduanya Tetap Salah

Nurlaely menegaskan bahwa sekolah melihat insiden tersebut sebagai pembelajaran penting bagi seluruh warga sekolah.

Ia mengatakan, persoalan bermula dari ucapan yang tidak disukai, kemudian berkembang menjadi cekcok hingga akhirnya terjadi perkelahian.

“Harapan dari sekolah, kejadian ini ada hikmahnya. Kejadian ini murni akibat omongan yang tidak disukai sehingga ada cekcok dan menimbulkan perkelahian. Bukan pengeroyokan,” tegasnya.

Menurutnya, baik siswa yang melakukan pemukulan maupun siswa yang mengucapkan perkataan yang memicu emosi sama-sama perlu mendapatkan pembinaan.

“Saya selaku kepala sekolah menyampaikan, baik yang memukul maupun yang mengucapkan kata-kata tidak baik, itu salah semua. Harapannya ke depan tidak terjadi lagi hal-hal seperti ini,” pungkas Nurlaely.

Sekolah Perkuat Pembinaan Karakter

Pasca kejadian, SMPN 11 Kota Pekalongan menyatakan akan memperkuat pembinaan karakter dan komunikasi antarsiswa.

Langkah tersebut dinilai penting agar persoalan kecil yang muncul di lingkungan sekolah tidak berkembang menjadi konflik fisik.

Pihak sekolah berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh siswa untuk lebih mampu mengendalikan emosi, menjaga ucapan, serta menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang baik.

Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat tetap menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa untuk belajar dan berkembang.

Kermit

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *