KLATEN Kabarterkininews.co.id– Puluhan ekor kambing disembelih dan dimasak menjadi gulai untuk dinikmati bersama ribuan warga dalam tradisi Bersih Sendang Sinongko di Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud syukur masyarakat, khususnya para petani, atas hasil pertanian yang melimpah serta ketersediaan air dari Sendang Sinongko yang selama ini dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
Dalam pelaksanaan tahun ini, sedikitnya 23 ekor kambing disembelih. Kambing tersebut merupakan hasil swadaya warga dan pemerintah desa. Setelah disembelih, daging kambing dimasak oleh warga menjadi gulai untuk kemudian dibagikan dan dinikmati secara gratis oleh masyarakat yang hadir.
Tradisi tersebut berlangsung di kawasan Sendang Sinongko, Desa Pokak. Warga dari berbagai wilayah datang dan berkumpul untuk mengikuti rangkaian acara sekaligus makan bersama.
Tradisi Syukur atas Panen dan Air
Bagi masyarakat Desa Pokak, Bersih Sendang Sinongko bukan sekadar pesta makan bersama. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan pertanian warga.
Sendang Sinongko selama bertahun-tahun menjadi sumber air yang digunakan untuk mengairi sawah masyarakat. Karena itu, tradisi bersih sendang sekaligus menjadi ungkapan syukur atas ketersediaan air yang mendukung aktivitas pertanian.
Sejumlah sumber pemberitaan sebelumnya mencatat bahwa tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan setiap tahun. Pada 2023, misalnya, warga menyembelih 13 ekor kambing dan menyediakan sekitar 150 tenong dalam kegiatan yang dihadiri sekitar 1.000 orang.
Pada 2024, jumlah kambing yang disembelih tercatat 20 ekor. Warga juga membawa ratusan tenong berisi makanan untuk kemudian dibawa pulang.
Sementara pada 2025, tradisi tersebut kembali digelar dengan puncak acara berupa penyembelihan 50 ekor kambing dan dihadiri sekitar 2.000 warga.
Tenong Jadi Bagian Penting Tradisi
Selain gulai kambing yang disantap bersama, masyarakat juga membawa tenong, yakni wadah makanan berbentuk bulat yang terbuat dari anyaman bambu.
Tenong tersebut biasanya berisi nasi, lauk, ingkung, buah, dan jajanan pasar. Setelah acara makan bersama, makanan yang dibawa dalam tenong dapat dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga.
Dengan demikian, tenong merupakan bagian dari pelaksanaan tradisi, bukan nama utama tradisinya.
Sejumlah dokumentasi ANTARA bahkan menyebut kegiatan di Pokak sebagai Kenduri Sendang Sinongko, sementara pemberitaan lain menggunakan istilah Bersih Sendang Sinongko atau Merti Sendang Sinongko. Semuanya merujuk pada tradisi masyarakat di kawasan Sendang Sinongko yang berkaitan dengan rasa syukur atas sumber air dan hasil pertanian.
Menjaga Tradisi, Merawat Sumber Kehidupan
Tradisi Bersih Sendang Sinongko menunjukkan kuatnya hubungan antara budaya masyarakat dan kehidupan pertanian.
Sendang bukan hanya dipandang sebagai sumber air, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya warga. Air yang mengaliri sawah menjadi salah satu alasan masyarakat terus menjaga tradisi syukuran tersebut.
Melalui makan bersama, berbagi makanan, dan membawa pulang hidangan untuk keluarga, rasa syukur atas hasil bumi diwujudkan dalam semangat kebersamaan.
Bagi masyarakat Pokak, tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa hasil panen tidak hanya tentang apa yang diperoleh dari tanah, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga sumber air dan berbagi hasilnya bersama-sama.
Prabowo Aji -Klaten





