Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta menggelar Ceramah Motivasi bagi mahasiswa baru dan civitas akademika sebagai bagian dari rangkaian penyambutan mahasiswa tahun akademik 2026/2027. Ceramah motivasi ini disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Rachmat Pambudy.
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk memperoleh wawasan, motivasi, serta perspektif mengenai peran generasi muda dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan Indonesia khususnya di bidang perkebunan dan perhutanan. Acara diikuti 1.135 mahasiswa baru Instiper.
Rektor Instiper, Harsawardana menyampaikan bahwa bidang perkebunan memiliki peranan krusial terhadap pembangunan Indonesia. Sumbangan terhadap devisa negara, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung pembangunan di remote area.
“Oleh karena itu keputusan Saudara semua untuk kuliah di Instiper Yogyakarta merupakan keputusan yang tepat karena saat Saudara lulus nantinya akan menjadi SDM unggul yang akan berperan aktif dalam pembangunan perkebunan dan kehutanan Indonesia yang merupakan core competency dari Instiper Yogyakarta,” kata dia di depan para mahasiswa baru Instiper.
Sementara Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy memberikan penguatan kepada mahasiswa baru Instiper sebagai ruang untuk membangun kompetensi, karakter, serta kesiapan menghadapi dunia kerja dan berbagai persoalan nyata di masyarakat.
“Indonesia membutuhkan kalian, generasi muda yang siap berkarya membangun Indonesia. Bidang perkebunan dan kehutanan merupakan bidang yang terus berkembang dan telah mendukung pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, jadilah pembelajar yang baik dan saat lulus nanti berikan kontribusi terbaik untuk membangun negeri,” ujarnya.
Kehadiran Menteri PPN/Kepala Bappenas juga memberikan pesan penting bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan, tetapi juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berinovasi, dan mampu mengimplementasikan ilmu dalam kehidupan nyata.
Selain memberikan ceramah motivasi, kehadiran Menteri di Grha Instiper juga dalam rangka Launching Sekolah Kopi Nusantara (SKN). Yakni salah satu langkah strategis Instiper dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di sektor perkopian Indonesia.
Lounching Sekolah Kopi Nusantara ditandai dengan menuangkan kopi hasil roasting secara bersama-sama ke dalam mesin grinder yang menjadi simbol bahwa semua pihak yang terlibat memberikan kontribusi untuk Sekolah Kopi Nusantara. Penyalaan mesin grinder oleh Menteri PPN/ Kepala Bappenas merupakan simbol bahwa Sekolah Kopi Nusantara ini akan dikawal oleh menteri tersebut.
Pihak-pihak yang terlibat dalam Sekolah Kopi Nusantara adalah Dewan Kopi Indonesia serta INSTIPER dan AKPY yang akan mengoperasikan program Sekolah Kopi Nusantara.
Sekolah Kopi Nusantara sendiri dirancang sebagai satu ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan jalur pendidikan formal dan nonformal. Melalui skema tersebut, kompetensi yang diperoleh melalui pembelajaran nonformal dapat diakumulasi, direkognisi, dan dilanjutkan menuju jenjang pendidikan formal melalui mekanisme Recognition of Prior Learning (RPL).
Pada jalur nonformal, Sekolah Kopi Nusantara memiliki tiga tingkatan program, yakni Micro Skill Program selama 3–5 hari, Applied Coffee Skills selama 10–12 hari, serta Professional Coffee Academy selama 10–12 minggu. Ketiga program tersebut dirancang berbasis kompetensi dengan porsi pembelajaran yang lebih banyak pada praktik, yaitu 25 persen teori dan 75 persen praktik.
Sementara itu, jalur pendidikan formal dikembangkan secara bertingkat melalui D1 Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY STIPER), D3 Politeknik Industri Perkebunan (PIP STIPER), dan S1 INSTIPER. Struktur tersebut memungkinkan pengembangan kompetensi dari tingkat operator terampil, supervisor unit, hingga analis, perancang, dan inovator dalam sistem kopi berkelanjutan.
“Sekolah Kopi Nusantara dirancang untuk menjawab kebutuhan pengembangan sumber daya manusia perkopian secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Peserta tidak hanya belajar tentang budidaya, tetapi juga pengolahan, mutu, roasting, brewing, barista, hingga bisnis kopi, demikian konsep yang dikembangkan dalam desain kurikulum Sekolah Kopi Nusantara”, jelas Purwadi dalam paparannya menjelaskan konsep Sekolah Kopi Nusantara.
Ekosistem pembelajaran tersebut didukung oleh berbagai fasilitas pendidikan dan praktik yang dimiliki YPKPY/Instiper, mulai dari SEAT Ungaran untuk pembelajaran di sektor hulu, Pilot Plant Pengolahan Hasil Perkebunan untuk proses pengolahan dan pengembangan mutu, hingga Instiper Lab Coffee untuk pembelajaran sektor hilir seperti brewing, espresso, sensori, layanan, dan bisnis kopi.
Pengembangan Sekolah Kopi Nusantara juga diarahkan untuk membangun keterhubungan yang lebih kuat antara pendidikan tinggi, dunia industri, dan kebutuhan masyarakat. Pembelajaran dirancang melalui kombinasi kegiatan di kampus, praktik lapangan, proyek industri, serta asesmen berbasis bukti kompetensi.
Kurikulum Sekolah Kopi Nusantara mencakup berbagai blok kompetensi, mulai dari Fondasi Kopi Nusantara dan Profesionalisme, Agroekosistem dan Pembentukan Kebun, Produksi Kopi Berkelanjutan, Panen dan Pengolahan Pascapanen, Mutu dan Traceability, Roasting dan Sensori, Brewing dan Espresso, Barista dan Operasi Layanan, Bisnis dan Rantai Nilai Kopi, hingga Immersi Industri dan Proyek Akhir.
Dengan pendekatan tersebut, Sekolah Kopi Nusantara diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelatihan, tetapi berkembang sebagai ekosistem pembelajaran yang menghasilkan sumber daya manusia profesional sekaligus mendorong inovasi dan penguatan industri kopi nasional.
Launching Sekolah Kopi Nusantara dalam momentum penyambutan mahasiswa baru Instiper juga menjadi simbol bahwa mahasiswa sejak awal memasuki lingkungan pendidikan yang dekat dengan persoalan nyata, industri, teknologi, dan kebutuhan pembangunan.
Melalui kegiatan ini, Instiper menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif, aplikatif, berbasis industri, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, sekaligus membekali generasi muda agar mampu mengambil peran dalam kemajuan sektor pertanian dan agroindustri Indonesia.
Andri Tiyo





