Bantul, KabarTerkiniNews.co.id — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat skema desa binaan di Pendopo Pasar Blumbang Mataram, Kalurahan Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UMY dalam mendampingi penguatan desa wisata, transformasi digital, dan pembenahan kelembagaan desa secara berkelanjutan.
Program pengabdian ini bersifat kolektif dengan melibatkan 11 dosen UMY, yaitu Prof. Dr. Dyah Mutiarin, M.Si., Prof. Dr. Ulung Pribadi, M.Si., Sakir Ridho Wijaya, S.IP., M.IP., Dr. phil. Anwar Kholid, S.IP., M.IP., Dr. Reni Budi Setianingrum, S.H., M.Kn., Aswad Ishak, S.IP., M.Si., Shanti Wardaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep.Sp.Jiwa., Ph.D., Dr. Nur Hayati, S.T., M.T., Muhammad Annas, S.H., M.Hum., Novita Kurnia Sari, Ns., M.Kep., dan Dr. Awang Darumurti, S.IP., M.Si.
Kegiatan ini juga dihadiri unsur Pemerintah Kalurahan Wirokerten dan para pemangku kepentingan desa, mulai dari Carik Kalurahan Wirokerten, Ulu-Ulu Kalurahan Wirokerten, pengurus BUMDes Wirajaya Makmur Wirokerten, pengurus Pokdarwis Wira Jaya, pengurus Desa Wisata Wirokerten, hingga pengurus rintisan desa budaya. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa program desa binaan ini dirancang dengan pendekatan kolaboratif dan partisipatif.
Dalam sesi materi, tim UMY mengangkat tema “Pendampingan Desa Wisata Wirokerten dalam Transformasi Digital melalui Penguatan Keamanan Siber”. Dr. Nur Hayati, S.T. sebagai narasumber ini menyoroti pentingnya kesiapan desa wisata dalam menghadapi risiko keamanan digital seiring meningkatnya penggunaan platform digital untuk promosi, reservasi, peta lokasi, ulasan pengunjung, website, hingga pembayaran non-tunai berbasis QRIS.
Dalam pemaparan materi, Nur Hayati menegaskan, “Semakin tinggi penggunaan digital, semakin tinggi pula risiko keamanan digital.” Pernyataan ini menjadi penekanan penting bahwa transformasi digital desa wisata tidak cukup hanya fokus pada promosi dan layanan, tetapi juga harus dibarengi dengan perlindungan akun, data, sistem, dan transaksi online.
Tim pengabdian juga memaparkan sejumlah ancaman yang dapat dihadapi pengelola desa wisata, seperti peretasan akun media sosial, cloning nomor WhatsApp admin untuk penipuan, QRIS palsu, hingga pencurian data pelanggan. Risiko tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap reputasi desa wisata dan tingkat kepercayaan publik. Dalam materi disebutkan, “Dampak terbesar: hilangnya kepercayaan wisatawan (trust).”
Sebagai bagian dari edukasi, tim UMY juga menekankan pentingnya praktik dasar keamanan digital, seperti penggunaan password yang kuat, aktivasi two factor authentication (2FA), serta kewaspadaan terhadap berbagai modus phishing. Pendekatan ini diharapkan menjadi fondasi awal agar pengelolaan desa wisata digital dapat berjalan dengan lebih aman dan profesional.
Tidak hanya berhenti pada isu digital, kegiatan desa binaan ini juga dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Solusi Permasalahan Kelembagaan BUMDes, Desa Wisata, dan Rintisan Desa Budaya”. FGD membahas sejumlah persoalan yang masih dihadapi, seperti belum terbentuknya NIB BUMDes/BUMKal, belum lengkapnya aspek administrasi kelembagaan, serta perlunya penguatan dokumen kerja sama, branding, NPWP, dan pengembangan website kelembagaan desa.
Dalam pembahasan rintisan desa budaya, tercatat pula tanggapan dari Dr. phil. Anwar Kholid, S.IP., M.IP. yang menekankan pentingnya tata kelola kelembagaan budaya. Ia menyampaikan bahwa “perlu pengelolaan (manajemen) NIK kelompok kebudayaan agar lebih tertata.” Kutipan ini menegaskan bahwa pengembangan desa tidak hanya menyangkut aspek ekonomi dan digital, tetapi juga penguatan organisasi sosial budaya di tingkat lokal.
Sebagai tindak lanjut, tim UMY bersama Kalurahan Wirokerten merumuskan beberapa agenda strategis, antara lain penyusunan MoU kerja sama pada awal April, pemetaan ulang potensi BUMKal, pembenahan kelembagaan internal, penguatan roadmap desa wisata, serta penyusunan branding baru untuk pengembangan program ke depan.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat skema desa binaan ini, UMY berharap Kalurahan Wirokerten dapat berkembang sebagai desa yang semakin siap menghadapi tantangan transformasi digital, memiliki kelembagaan yang lebih kuat, serta mampu membangun ekosistem desa wisata dan desa budaya yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan.
Dhani







