Jakarta, KabarTerkiniNews.coid – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana yang menimbulkan dampak cukup signifikan di berbagai wilayah Indonesia hingga Rabu (6/5/2026) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun Direktorat Koordinasi dan Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops), bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor masih menjadi jenis bencana yang paling dominan terjadi di sejumlah daerah.
Salah satu kejadian banjir tercatat terjadi di wilayah Jakarta yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada Senin (4/5) malam sekitar pukul 19.10 WIB. Sedikitnya 28 kelurahan yang tersebar di 12 kecamatan di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur terdampak banjir.
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD DKI Jakarta, tercatat sebanyak 1.582 kepala keluarga (KK) atau 4.755 jiwa terdampak akibat kejadian tersebut. Selain itu, lebih dari 1.582 unit rumah dilaporkan terdampak banjir. BPBD juga telah melakukan berbagai langkah penanganan di lokasi, termasuk kaji cepat serta koordinasi dengan instansi terkait. Hingga Selasa (5/5), kondisi banjir di sebagian besar wilayah Jakarta dilaporkan mulai berangsur surut.
Kejadian serupa juga terjadi di Kota Tangerang, Banten, pada Senin (4/5) sekitar pukul 10.10 WIB. Banjir merendam permukiman warga akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.
BPBD Kota Tangerang melaporkan sebanyak 60 kepala keluarga (KK) terdampak banjir di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh. Akibat kejadian ini, warga terpaksa mengungsi, dengan 45 KK menempati lokasi pengungsian sementara di area Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan 15 KK lainnya berada di rumah ibadah. Kedua lokasi tersebut merupakan titik aman dari banjir dan telah rutin digunakan sebagai tempat pengungsian saat terjadi genangan.
Pada sore hari, kondisi banjir mulai berangsur surut sehingga warga yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Meski demikian, BPBD Kota Tangerang tetap dalam kondisi siaga dan terus berkoordinasi dengan instansi terkait di wilayah terdampak.
Selain di Jakarta dan Banten, banjir juga terjadi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Senin (4/5) akibat hujan berintensitas tinggi. Sebanyak 63 KK di Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang, terdampak kejadian tersebut.
BPBD Kabupaten Bandung juga mencatat sebanyak 61 unit rumah serta dua fasilitas ibadah terendam banjir. Dalam merespons kejadian ini, BPBD telah melakukan koordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Barat, melaksanakan kaji cepat, serta melakukan penanganan di lokasi terdampak. Kondisi banjir dilaporkan berangsur surut pada Selasa (5/5).
Selain banjir, sejumlah wilayah di Jawa Barat juga mengalami bencana tanah longsor. Salah satu kejadian terjadi di Kota Bogor pada Senin (4/5). BPBD Kota Bogor bersama BPBD Provinsi Jawa Barat mencatat sebanyak 17 KK atau 54 jiwa terdampak.
Kerugian materiil akibat kejadian tersebut meliputi satu unit rumah rusak berat, delapan unit rumah rusak sedang, dua unit fasilitas umum rusak sedang, serta dua unit fasilitas umum lainnya rusak berat.
Wilayah terdampak mencakup Kelurahan Tanah Baru di Bogor Utara, Kelurahan Sukasari di Bogor Timur, Kelurahan Mulyaharja, Ranggamekar, dan Cikaret di Bogor Selatan, serta Kelurahan Pasir Jaya, Gunung Batu, Cilendek Barat, dan Pasir Kuda di Bogor Barat.
Selain di Kota Bogor, tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Bogor pada Selasa (5/5) pukul 13.30 WIB, tepatnya di Desa Petir, Kecamatan Dramaga. Peristiwa ini menyebabkan satu orang meninggal dunia setelah tertimbun material longsor saat melakukan aktivitas penebangan pohon di area tebing.
Setelah dilakukan operasi pencarian dan pertolongan (SAR), korban berhasil ditemukan pada hari yang sama sekitar pukul 17.25 WIB dan selanjutnya dibawa ke rumah duka.
Kejadian tanah longsor yang juga menimbulkan korban jiwa dilaporkan terjadi di Kabupaten Cianjur pada Senin (4/5), tepatnya di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet.
Peristiwa tersebut bermula dari longsornya tembok penahan tanah setinggi kurang lebih 2,5 meter setelah diguyur hujan berintensitas tinggi yang disertai angin kencang. Tembok tersebut kemudian roboh dan menimpa seorang petugas yang tengah melakukan perbaikan gorong-gorong. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa (5/5).
Memasuki periode peralihan musim, peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor. Kondisi tanah yang jenuh air di daerah lereng dan perbukitan, ditambah dengan sistem drainase yang kurang optimal, menjadi faktor yang memperbesar risiko terjadinya bencana.
BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi seperti BMKG dan BNPB, menjaga kebersihan saluran air, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila muncul tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, suara gemuruh dari arah lereng, atau kenaikan muka air sungai secara cepat.
Pemerintah daerah juga didorong untuk memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal, menyiapkan jalur evakuasi dan logistik darurat, serta meningkatkan sosialisasi terkait mitigasi bencana kepada masyarakat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
KabarTerkiniNews.co.id







