Jombang, KabarTerkiniNews.co.id – Tidak seperti biasanya, pagi itu Minggu (10/6) halaman Gedung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, Jombang, Jawa Timur dipadati oleh ratusan umat dengan membawa berbagai hasil bumi , seperti padi, sayur-sayuran dan umbi-umbian dalam bentuk gunungan dan bangunan yang dibuat semenarik mungkin.
Tidak hanya hasil pertanian saja, ada juga yang membawa hewan ternak seperti ayam dan kambing. Hari itu, pihak Gereja mengadakan acara Hari Raya Unduh-unduh GKJW Mojowarno.
Rangkaian tradisi Hari Raya Unduh-unduh GKJW Mojowarno, dimulai dari acara jalan sehat, malam seni dan budaya. Umat gereja dari berbagai sektor pun dilibatkan untuk merangkai aneka bentuk ornamen bangunan unduh-unduh yang diisi dengan berbagai macam hasil bumi.
Acara puncaknya pun dimulai, ornamen bangunan undhu-undhu yang berasal dari berbagai sektor seperti, Mojowarno, Mojorota, Mojodukuh, Mojojejer dan Mojotengah mulai diarak satu kilometer menuju pelataran dan masuk gedung gereja. Hal bertujuan agar masyarakat sekitar bisa menyaksikan secara langsung tradisi yang sudah terjalin sejak turun temurun ini.
Setelah tradisi arak-arakan hari raya unduh-unduh, acara kemudian dilanjutkan di dalam gedung gereja. Puncak acaranya adalah ibadah bersama seluruh umat kristen anggota gereja GKJW Mojowarno. Menariknya, dari nyanyian, kotbah hingga doa disampaikan dengan Bahasa Indonesia.
Setelah ibadah selesai moment yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu lelang hasil bumi, ternak dan makanan yang dibawa dalam arak-arakan hari raya unduh-unduh. Umat pun bersahut-sahutan untuk menawar hasil lelang, mulai dari puluhan sampai jutaan rupiah.
Bagi warga yang membeli, hasil lelang tersebut bukan sekadar transaksi jual beli. Namun tersimpan keberkahan dan kelangsungan rezeki yang terus mengalir. Unduh-unduh Mojowarno bukti nyata bagaimana agama dan tradisi bisa hidup berdampingan, saling menguatkan dan terus lestari dari generasi ke generasi.
Uniknya, pada tahun 2019 tradisi unduh unduh GKJW Mojowarno, telah tercatat di Kementerian Pendidikan Budaya dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia.
Seperti diketahui, gedung gereja GKJW Mojowarno dibangun pada tahun 1879. Pembangunan ini diprakasai oleh seorang pengajar Injili asli pribumi pertama di Mojowarno bernama Paulus Tosari.
Bangunan tersebut baru rampung sepenuhnya pada tahun 1881 dan diresmikan langsung oleh pendeta yang memimpin gereja saat itu yaitu pendeta Kruyt.
Mengingat usianya sudah ratusan tahun, GKJW Mojowarno disebut sebagai gereja Jawa tertua yang ada di Indonesia. Bahkan sempat menjadi pusatnya Sinode Gereja Jawa Timur sebelum akhirnya dipindahkan ke Malang tahun 1930-an.
Daniel Siahaan







