BRIN Dampingi IKM Etanol Polokarto, Bidik Pasar Kosmetik dan Farmasi

SUKOHARJO – Industri kecil dan menengah atau IKM etanol di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mulai didorong untuk naik kelas.

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN untuk mencari solusi atas berbagai kendala produksi yang selama ini dihadapi para perajin etanol.

Pendampingan tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperbaiki proses produksi, pengelolaan limbah, hingga membuka peluang masuk ke pasar industri yang lebih luas.

Salah satu target yang mulai dibidik adalah sektor kosmetik dan farmasi.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Aris Mukimin, mengatakan observasi ke sentra IKM etanol Ngombakan dilakukan pada Selasa, 15 September 2026.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut permintaan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja atau Disperinaker Sukoharjo kepada Badan Riset dan Inovasi Daerah atau Brida Jawa Tengah. Selanjutnya, Brida berkolaborasi dengan BRIN untuk mengkaji persoalan yang ditemukan di lapangan.

BRIN Temukan Proses Produksi Masih Konvensional

Dari observasi awal, BRIN menemukan sebagian besar proses produksi etanol IKM di Polokarto masih dilakukan secara konvensional.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kualitas hasil fermentasi maupun proses pemurnian atau purifikasi.

Aris menjelaskan, salah satu persoalan terdapat pada proses fermentasi yang idealnya dilakukan dalam kondisi tertutup. Namun, masih ditemukan bagian proses yang memungkinkan udara masuk sehingga fermentasi belum berlangsung secara optimal.

Persoalan juga ditemukan pada tahap destilasi. Proses pemurnian etanol belum sepenuhnya menggunakan pengaturan suhu yang terkontrol.

Akibatnya, sejumlah komponen lain dari hasil fermentasi berpotensi ikut menguap dan kembali terkondensasi dalam proses destilasi.

Menurut Aris, persoalan tersebut menjadi penting apabila produk etanol ingin diarahkan untuk memenuhi standar industri dengan kebutuhan spesifikasi lebih tinggi, termasuk sektor kosmetik dan farmasi.

“Untuk menghasilkan alkohol dengan kadar tinggi, terutama jika ingin memenuhi standar industri kosmetik atau farmasi, ada parameter yang tidak boleh tinggi,” ujar Aris, seperti dikutip Radar Solo.

Sampel Produksi Akan Diuji di Laboratorium

BRIN selanjutnya akan melakukan pengujian terhadap sampel hasil produksi IKM etanol di Ngombakan.

Sampel yang diambil, termasuk hasil fermentasi atau yang disebut baceman, akan diuji di laboratorium untuk melihat kemungkinan peningkatan kadar etanol melalui sistem destilasi yang lebih terstandar.

Langkah tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi teknis yang dapat diterapkan oleh para pelaku IKM tanpa harus meninggalkan karakter produksi skala kecil.

Kepala Bidang Perindustrian Disperinaker Sukoharjo, Marjono, mengatakan kolaborasi dengan BRIN dan Brida Jawa Tengah merupakan bagian dari upaya membantu industri etanol lokal agar naik kelas.

Dalam jangka panjang, Pemkab Sukoharjo berharap produk dari IKM etanol tersebut dapat memenuhi persyaratan untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Salah satu peluang yang dibidik adalah menjadi pemasok bagi industri kosmetik dan farmasi.

Persoalan Limbah Menjadi Tantangan Lama

Selain kualitas produk, persoalan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan industri etanol di Polokarto.

Kajian yang dipublikasikan pada 2025 mengenai Desa Ngombakan mencatat bahwa pengelolaan limbah produksi etanol masih membutuhkan penguatan. Pemerintah desa sebelumnya telah merencanakan pembangunan instalasi pengolahan air limbah atau IPAL komunal, tetapi menghadapi persoalan ketersediaan lahan dan pendanaan.

Persoalan IPAL komunal sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah sejak beberapa tahun sebelumnya. Pada 2019, Pemkab Sukoharjo menyebut Ngombakan sebagai salah satu wilayah yang banyak terdapat industri pengolahan etanol dan merencanakan pengelolaan limbah secara komunal.

Dengan demikian, kedatangan BRIN tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kadar dan kualitas etanol, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong proses produksi yang lebih tertata dan ramah lingkungan.

Dari Industri Rumahan Menuju Rantai Industri

Pengembangan IKM etanol Polokarto kini menghadapi dua kebutuhan sekaligus.

Pertama, meningkatkan kualitas dan konsistensi produk melalui perbaikan proses fermentasi serta destilasi.

Kedua, memastikan aspek lingkungan dan tata kelola produksi berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas usaha.

Jika tahapan tersebut dapat dipenuhi, produk etanol dari IKM lokal berpeluang masuk ke rantai pasok industri yang membutuhkan spesifikasi lebih tinggi.

Bagi Pemkab Sukoharjo, pengembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi mampu menciptakan model pembinaan industri kecil yang dapat diterapkan pada sektor UMKM lainnya.

Dengan dukungan riset BRIN, IKM etanol Polokarto kini mendapat peluang untuk bertransformasi dari industri berbasis produksi konvensional menjadi industri yang lebih terstandar, memiliki daya saing, dan membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Tio Nusa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *