SRAGEN Kabarterkininews.co.id — Pulang dari perantauan dengan membawa pengalaman dan modal hasil bekerja di luar negeri, pasangan suami istri Beni Puwono dan Sri Wahyuni justru harus menghadapi kenyataan bahwa modal tersebut perlahan habis sebelum mereka menemukan usaha yang tepat.
Beni sebelumnya bekerja sebagai pekerja migran di Korea Selatan, sedangkan Sri Wahyuni pernah bekerja di Taiwan. Setelah kembali ke Indonesia, keduanya sempat bingung menentukan usaha yang akan dijalankan.
Di tengah kondisi tersebut, mereka kemudian memilih menekuni usaha kerupuk yang sudah cukup dikenal oleh Beni dari lingkungan keluarganya.
Perjalanan membangun usaha ternyata tidak mudah. Beni mengawali usahanya dengan berjualan dari pasar ke pasar, terutama menyasar para pedagang sayur di wilayah Sragen.
“Awalnya kita mulai dari modal seadanya. Tidak semulus yang saya bayangkan. Tanpa doa orang tua, saya merasa tidak mampu dan hampir menyerah,” ujar Beni Puwono.
Berawal dari Pasar di Sragen
Bersama istrinya, Beni perlahan mengembangkan usaha yang kemudian diberi nama Sri Agung.
Sri Wahyuni mengaku perjalanan tersebut penuh dengan jatuh bangun. Setelah pulang dari perantauan, keduanya harus kembali membangun kehidupan ekonomi dari awal.
Menurutnya, ide untuk menekuni usaha kerupuk juga muncul setelah melihat banyaknya pedagang kerupuk ketika dirinya berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya.
Awalnya mereka hanya menjadi pedagang. Namun, seiring berjalannya waktu, keduanya mulai memproduksi kerupuk sendiri.
Produk yang dihasilkan kini cukup beragam, antara lain kerupuk Bandung, kerupuk warna-warni, kerupuk perung dan kerupuk jari.
Dari sejumlah produk tersebut, kerupuk perung menjadi salah satu yang paling banyak diminati.
Pasar Meluas, Produksi Capai 7 Kuintal Per Hari
Usaha yang semula menyasar pasar di wilayah Sragen tersebut kemudian berkembang.
Pemasaran produk Sri Agung kini telah menjangkau sejumlah wilayah, termasuk Wonogiri hingga Grobogan.
Pertumbuhan pasar tersebut juga diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi. Saat ini, produksi kerupuk Sri Agung disebut mencapai sekitar 7 kuintal per hari.
Berkembangnya usaha juga membuat kebutuhan modal semakin meningkat.
Dalam perjalanan tersebut, Beni dan Sri Wahyuni mulai mendapatkan dukungan pembiayaan dari Bank Daerah Joko Tingkir sebagai mitra usaha.
Pembiayaan awal yang diterima sekitar Rp20 juta. Seiring perkembangan usaha, plafon pembiayaan kemudian meningkat sehingga dapat mendukung pengembangan usaha dan kapasitas produksinya.
“Awalnya kami mendapat pembiayaan sekitar Rp20 juta. Kemudian plafonnya terus meningkat seiring usaha kami berkembang,” kata Sri Wahyuni.
Dari Usaha Kecil hingga Libatkan 40 Orang
Perkembangan usaha Sri Agung kini tidak hanya berdampak pada perekonomian keluarga Beni dan Sri Wahyuni.
Usaha tersebut telah melibatkan sekitar 40 orang dalam proses produksinya.
Bagi pasangan ini, perjalanan tersebut menjadi pengalaman panjang. Dari menjadi pekerja migran di luar negeri, kembali ke tanah air, sempat kehilangan modal karena uang hasil perantauan habis, hingga akhirnya membangun usaha sendiri.
Perjalanan Sri Agung juga menunjukkan bagaimana sebuah usaha dapat tumbuh secara bertahap, dimulai dari berjualan di pasar dengan modal terbatas hingga memiliki kapasitas produksi dan jaringan pemasaran yang lebih luas.
Kini, Beni dan Sri Wahyuni memilih terus mengembangkan usaha kerupuk tersebut, sembari mempertahankan pasar yang telah mereka bangun di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Reporter / Editor : Heru Warsito





