Palembang, KabarTerkiniNews.co.id – Asap tipis masih menggantung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Di tengah hamparan lahan yang sebagian mulai mengering, upaya untuk memastikan api tidak kembali menjalar terus dilakukan.
Bagi para petugas di lapangan, karhutla bukan sekadar persoalan munculnya titik api, tetapi ancaman yang harus dihadapi bersama sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Pada Selasa (15/9), perhatian pemerintah kembali tertuju ke Sumatera Selatan. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos, M.M., hadir di Palembang untuk mengikuti Rapat Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera Selatan yang digelar di Kantor BPBD Provinsi Sumatera Selatan.
Rapat tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perkembangan penanganan karhutla sekaligus memastikan langkah yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah berjalan dalam satu koordinasi.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru menyampaikan perkembangan penanganan karhutla di wilayahnya. Sementara BMKG memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca dan potensi yang dapat memengaruhi perkembangan kebakaran. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi penanganan di lapangan.
Berdasarkan data rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera Selatan per Selasa (15/9), terpantau 1.737 titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Selatan.
Namun, angka hotspot bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan. Setiap titik harus diverifikasi karena kondisi di lapangan dapat berbeda. Terlebih, karakteristik lahan gambut membuat api memiliki kemampuan untuk bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu, ketika api terlihat padam, pekerjaan belum tentu selesai.
Petugas masih harus melakukan pembasahan, pendinginan dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Di sejumlah lokasi, proses tersebut bahkan membutuhkan waktu berhari-hari.
Data Posko Satgas Karhutla Sumatera Selatan per (14/9) mencatat luas lahan terbakar mencapai 404,22 hektare. Pada periode tersebut, wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Palembang menjadi beberapa wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla.
Di balik angka-angka tersebut terdapat pekerjaan panjang yang dilakukan banyak pihak. Personel BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan serta masyarakat bergerak sesuai peran masing-masing. Dari darat, petugas melakukan pemadaman dan pendinginan. Dari udara, pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan titik api dan kondisi wilayah yang sulit dijangkau.
Di sisi lain, BMKG terus memberikan informasi mengenai kondisi cuaca, hari tanpa hujan dan potensi curah hujan. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas operasi sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.
Karhutla juga bukan hanya persoalan api.
Ketika asap menyebar, kualitas udara dan jarak pandang masyarakat dapat terganggu. Pada 13 September, jarak pandang di kawasan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, sempat berada pada kisaran 2–4 kilometer pada dini hingga pagi hari akibat dampak asap karhutla.
Kondisi tersebut mengingatkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan jauh melampaui lokasi kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti kondisi angin dan memengaruhi aktivitas masyarakat, transportasi hingga kesehatan.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat hanya mengandalkan petugas pemadam.
Rapat evaluasi yang digelar di Palembang menjadi ruang untuk menyatukan berbagai informasi tersebut. Pemerintah pusat dan daerah mengevaluasi kondisi terkini, melihat efektivitas operasi yang telah dilakukan, sekaligus menentukan langkah yang diperlukan untuk menghadapi perkembangan karhutla ke depan.
Kepala BNPB dan Menteri Kehutanan memberikan arahan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif.
Penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, percepatan respons dan memastikan api benar-benar padam menjadi bagian penting dalam strategi penanganan.
Sebab, menghadapi karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa dini api dapat dicegah untuk membesar.
Di tengah musim kemarau, satu titik api yang terlambat ditangani dapat berubah menjadi kebakaran yang lebih luas. Sebaliknya, satu laporan masyarakat yang cepat, satu patroli yang tepat waktu, atau satu proses pendinginan yang dilakukan secara menyeluruh dapat mencegah api berkembang.
Sumatera Selatan masih harus terus waspada.
Angka hotspot memang menunjukkan penurunan, tetapi ancaman belum sepenuhnya berakhir. Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana terus memantau perkembangan di lapangan untuk memastikan kebakaran tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.
Pada akhirnya, menjaga Sumatera Selatan tetap bernapas bukan hanya tugas mereka yang berada di garis depan pemadaman.
Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila melihat kepulan asap atau indikasi kebakaran.
Karena dalam menghadapi karhutla, setiap menit berarti.
Dan setiap api yang berhasil dipadamkan sejak dini adalah satu langkah untuk menjaga hutan, lahan, udara, dan kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.
Redaksi





