Harhubnas ke-55, Dishub Boyolali Catat Fatalitas Kecelakaan Turun 42,1 persen

Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id  – Angka fatalitas kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, turun 42,1 persen pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Data tersebut disampaikan Dinas Perhubungan (Dishub) Boyolali bertepatan dengan peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026.

Berdasarkan data Jasa Raharja yang menjadi bahan kajian keselamatan lalu lintas Dishub Boyolali, sepanjang Agustus 2026 tercatat 292 korban kecelakaan. Rinciannya, 281 korban mengalami luka-luka dan 11 orang meninggal dunia.

Bacaan Lainnya

Jumlah tersebut menurun dibandingkan Juli 2026 yang mencatat 309 kejadian kecelakaan, dengan 290 korban luka-luka dan 19 korban meninggal dunia.

Dengan demikian, jumlah kecelakaan pada Agustus turun sekitar 5,5 persen, korban luka-luka turun 3,1 persen, sedangkan korban meninggal dunia turun hingga 42,1 persen.

Fatalitas pada Agustus 2026 juga menjadi yang terendah sepanjang tahun ini, setara dengan capaian Januari 2026.

Meski demikian, Dishub Boyolali mengingatkan agar penurunan tersebut tidak membuat kewaspadaan terhadap keselamatan lalu lintas menurun.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat 2.129 kejadian kecelakaan di Kabupaten Boyolali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.035 korban mengalami luka-luka dan 94 orang meninggal dunia.

Jumlah kecelakaan tertinggi terjadi pada Mei 2026 dengan 355 kejadian. Sementara fatalitas tertinggi tercatat pada Juli 2026 dengan 19 korban meninggal dunia.

Angka fatalitas sebanyak 94 korban dalam delapan bulan pertama 2026 tersebut telah mencapai sekitar 84 persen dibandingkan total fatalitas sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 112 korban.

Karena itu, Dishub Boyolali menilai empat bulan terakhir pada 2026 perlu diantisipasi dengan peningkatan kewaspadaan dan intervensi keselamatan lalu lintas.

JALAN KABUPATEN DOMINASI KECELAKAAN

Berdasarkan kajian keselamatan lalu lintas Agustus 2026, kejadian kecelakaan paling banyak terjadi di jalan kabupaten, yakni 205 kejadian atau sekitar 70,7 persen.

Selanjutnya, jalan desa atau lingkungan mencatat 55 kejadian atau 19 persen, jalan nasional 18 kejadian atau 6,2 persen, serta jalan provinsi sebanyak 12 kejadian atau 4,1 persen.

Jika dilihat berdasarkan fungsi jalan, Jalan Lokal Primer (JLP) menjadi lokasi dengan jumlah kecelakaan terbanyak, yakni 123 kejadian atau 42,4 persen.

Sementara itu, jalan nasional memiliki rasio kejadian per kilometer tertinggi meski jumlah ruasnya relatif terbatas. Sejumlah titik menjadi perhatian, di antaranya Simpang Tiga Wika dan Tol KM 481+400 yang masing-masing mencatat empat kejadian kecelakaan.

Titik rawan lainnya berada di Dk. Pomah dan Tol KM 481+400 A, Dk. Kebakan, yang keduanya berada di Kecamatan Mojosongo.

Untuk ruas jalan, JL Cepogo–Boyolali atau JLP Nomor 244 memiliki rasio kecelakaan tertinggi, yakni 1,72 kejadian per kilometer. Sementara ruas JL Solo–Semarang mencatat 12 kejadian dan menjadi ruas dengan jumlah kecelakaan tertinggi secara absolut.

USIA 15-24 TAHUN PALING RENTAN

Dari karakteristik korban, kelompok usia 15 hingga 24 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terlibat kecelakaan pada Agustus 2026.

Tercatat 112 korban atau 38,4 persen berasal dari kelompok usia tersebut. Kemudian kelompok usia 25 hingga 34 tahun sebanyak 48 korban atau 16,4 persen, serta kelompok usia 0 hingga 14 tahun sebanyak 28 korban atau 9,6 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, korban laki-laki tercatat lebih banyak, yakni 168 orang atau 57,5 persen. Sementara korban perempuan sebanyak 124 orang atau 42,5 persen.

Adapun berdasarkan sifat kecelakaan, tabrakan depan-belakang menjadi jenis kecelakaan yang paling dominan dengan 98 kejadian atau 33,8 persen.

Disusul tabrakan depan-depan sebanyak 62 kejadian atau 21,4 persen dan tabrakan depan-samping sebanyak 57 kejadian atau 19,7 persen.

DISHUB PERKUAT INTERVENSI KESELAMATAN

Dishub Boyolali menyatakan terus melakukan berbagai intervensi untuk menekan angka kecelakaan dan fatalitas lalu lintas.

Upaya tersebut antara lain pemasangan pita penggaduh, penataan marka jalan, zebra cross, garis stop, rambu peringatan, peningkatan fasilitas keselamatan di kawasan sekolah, hingga optimalisasi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) di persimpangan rawan kecelakaan.

Kampanye keselamatan lalu lintas juga dilakukan di lingkungan sekolah dan komunitas.

Dalam pelaksanaannya, Dishub Boyolali berkoordinasi dengan sejumlah instansi sesuai kewenangan masing-masing, di antaranya BBPJN Jawa Tengah-DI Yogyakarta, BPTD Kelas II Jawa Tengah, DPUBMCK Provinsi Jawa Tengah, Dishub Provinsi Jawa Tengah, DPUPR Kabupaten Boyolali, hingga pemerintah desa.

Dishub bersama Satlantas Polres Boyolali juga akan mengoptimalkan sejumlah rekomendasi teknis, seperti pemasangan rambu dan marka jalan, pita penggaduh, penerangan jalan, APILL, perbaikan geometri jalan, penataan akses masuk, pemasangan guardrail, serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas.

Berbagai langkah tersebut diharapkan dapat menekan angka kecelakaan sekaligus mencegah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Dalam momentum Harhubnas 2026 yang mengusung tema “Menghubungkan Indonesia Untuk Masa Depan Lebih Maju”, masyarakat Boyolali juga diimbau berperan aktif menjaga keselamatan di jalan.

Pengguna jalan diminta mematuhi rambu dan marka, menggunakan helm, menjaga jarak aman, tidak menerobos lampu merah, serta meningkatkan kewaspadaan ketika melintas di titik-titik rawan kecelakaan.

Masyarakat juga diimbau melaporkan kondisi jalan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan kepada instansi terkait.

Peringatan Harhubnas ke-55 di wilayah Solo Raya sendiri digelar secara sederhana di Halaman Depan Sport Hall Terminal Tipe A Tirtanadi. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan transportasi yang aman, nyaman, dan selamat bagi masyarakat.

Taufik Irvani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *