Labuan Bajo, KabarTerkiniNews.co.id – Selama 10 hari operasi, tim SAR gabungan telah mengerahkan puluhan personel dan teknologi pencarian bawah laut modern, namun satu korban yang masih dinyatakan hilang belum berhasil ditemukan.
Operasi pencarian korban kecelakaan tenggelamnya kapal KM Feronia di perairan Taman Nasional Komodo (TN Komodo), Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dihentikan pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda NTT turut mengambil bagian dalam operasi tersebut dengan mengerahkan armada laut dan peralatan khusus untuk mendukung pencarian di kawasan perairan yang dikenal memiliki arus bawah laut dinamis.
Operasi ini melibatkan 76 personel gabungan dari unsur TNI-Polri, Basarnas, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pelindo, serta potensi masyarakat setempat.
Pencarian difokuskan pada pemetaan dan penyisiran bawah laut di sejumlah titik yang dinilai rawan arus deras, termasuk kawasan yang diperkirakan menjadi lokasi pergeseran korban mengikuti dinamika arus laut.
Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, S.I.K., M.H., mengatakan pihaknya telah mengerahkan sejumlah alat utama dan peralatan berteknologi modern untuk membantu proses pencarian korban KM Feronia.
Armada yang diterjunkan meliputi satu unit Kapal Pemburu Cepat (KPC) 2007, satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) 02, satu unit sistem sonar single beam, serta drone bawah air untuk mendukung pemindaian dasar laut.
“Dari kepolisian, kami turut membantu dengan mengerahkan satu unit KPC 2007, satu unit RIB 02, serta teknologi bawah laut modern berupa Sonar Single Beam dan drone bawah air untuk memindai titik-titik krusial di dasar laut,” ujar Irwan.
Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pencarian, terutama untuk menjangkau area bawah laut yang sulit diperiksa melalui penyisiran permukaan.
Pencarian bawah air menggunakan sistem sonar difokuskan pada koordinat awal tenggelamnya kapal, kemudian diperluas dengan mempertimbangkan radius pergeseran akibat arus laut.
Sejumlah lokasi yang menjadi fokus penyisiran meliputi perairan Tatawa Besar, Batu Bolong, Mawan, Batu Tiga, dan Sebayur.
Sejak hari kedua hingga hari kesepuluh operasi, tim SAR gabungan turut memanfaatkan berbagai peralatan pendukung, di antaranya satu unit Remotely Operated Vehicle (ROV) milik PT Farmindo dan satu unit Side Scan Sonar milik Koarmada II TNI AL Surabaya.
Peralatan tersebut dioperasikan dengan dukungan armada KM Hiu Macan 03 milik KKP Kupang, RIB Lanal Labuan Bajo, serta pengerahan KRI Pulau Fani-731.
Pengerahan berbagai perangkat tersebut dilakukan untuk membantu pemetaan dasar laut dan mengidentifikasi kemungkinan keberadaan korban maupun bangkai kapal di lokasi yang menjadi sasaran pencarian.
Dalam operasi pencarian tersebut, satu korban yang masih dinyatakan hilang diketahui berinisial VBJ (23), seorang dive master yang berdomisili di Kompleks Bandara Batu Cermin, Labuan Bajo.
Hingga operasi resmi dihentikan oleh Basarnas Maumere pada Kamis sore, keberadaan korban maupun bangkai utama KM Feronia belum berhasil ditemukan.
Irwan menjelaskan, keputusan penghentian operasi dilakukan setelah evaluasi terhadap hasil pencarian, termasuk analisis rekaman drone bawah air dan pemindaian menggunakan sonar.
“Berdasarkan evaluasi dan analisis hasil rekaman drone bawah air serta pencarian menggunakan sonar hingga Kamis sore, keberadaan korban maupun bangkai kapal KM Feronia masih nihil. Faktor arus bawah laut yang dinamis menjadi salah satu tantangan terbesar di lapangan,” jelasnya.
Kondisi perairan yang memiliki dinamika arus kuat menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam melakukan penyisiran, pemetaan, dan identifikasi objek di dasar laut.
Sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan belasungkawa, doa bersama dijadwalkan berlangsung di Pelabuhan Marina Labuan Bajo.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendoakan korban serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan setelah rangkaian upaya pencarian dilakukan.
Irwan menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah yang terjadi. Ia berharap korban mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Meski operasi pencarian secara resmi telah ditutup, Ditpolairud Polda NTT melalui personel Marnit Labuan Bajo tetap melaksanakan patroli rutin di perairan Taman Nasional Komodo.
Patroli tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menyampaikan imbauan keselamatan kepada kapal wisata dan kapal nelayan yang beraktivitas di kawasan perairan tersebut.
Personel juga akan terus menjalin komunikasi dengan masyarakat dan nelayan setempat guna mengantisipasi apabila ditemukan tanda-tanda yang berkaitan dengan KM Feronia.
“Kami mengimbau kapal-kapal wisata, kapal nelayan, dan masyarakat yang beraktivitas di perairan Taman Nasional Komodo agar segera menginformasikan kepada petugas Polair apabila menemukan tanda-tanda atau petunjuk terkait KM Feronia,” ujar Irwan.
Masyarakat yang menemukan informasi terkait dapat melaporkannya kepada petugas Polair atau melalui layanan Call Center 101 SPKT Polres Manggarai Barat, sebagaimana disampaikan pihak Ditpolairud Polda NTT.
Dengan berakhirnya operasi SAR tersebut, upaya pemantauan melalui patroli rutin dan komunikasi dengan masyarakat setempat tetap menjadi bagian dari langkah kewaspadaan di perairan Taman Nasional Komodo.
Rudy





