JEPARA Kabarterkininews.co.id– Duka mendalam menyelimuti keluarga Syabila Rizkia Putri Raharja, atlet selam laut yang meninggal dunia saat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.
Di tengah kehilangan tersebut, sang ayah, Ajar Tri Raharjo, masih mengingat pesan putrinya sebelum mengikuti pertandingan. Sebuah kalimat sederhana yang kini menjadi kenangan mendalam bagi keluarga.
Sebelum berlomba, Syabila sempat meminta ayahnya agar tidak menangis apabila dirinya berhasil menyelesaikan pertandingan.
Pesan tersebut sempat membuat Ajar heran. Ia tidak menyangka kalimat itu kelak menjadi kenangan yang begitu membekas setelah putrinya meninggal dunia.
Ajar yang mendampingi Syabila sejak Kamis mengaku masih mengingat kondisi putrinya sebelum bertanding. Saat itu, Syabila tetap berkomunikasi dan terlihat sehat.
Namun, pertandingan selam laut di perairan Awann Costa, Semarang, pada Minggu pagi berakhir dengan duka bagi keluarga.
Di tengah kesedihan, Ajar berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Ia juga menyatakan keikhlasannya atas kepergian sang putri.
Syabila Dikenang atas Perjuangannya
Kepergian Syabila turut mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Ia juga memberikan apresiasi atas perjuangan Syabila yang berhasil menorehkan prestasi dengan meraih medali emas dalam ajang Porprov Jawa Tengah 2026.
Menurut Taj Yasin, peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan olahraga, khususnya terkait keselamatan dan perlindungan atlet.
Evaluasi tersebut mencakup kondisi fisik dan kesehatan atlet sebelum mengikuti pertandingan. Pemeriksaan kesehatan serta pengukuran kemampuan fisik dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Ia mengingatkan bahwa berbagai tahapan persiapan yang telah dilakukan sebelum pertandingan tetap perlu dievaluasi agar potensi risiko dapat diantisipasi dengan lebih baik.
Keselamatan Atlet Jadi Prioritas
Selain pemeriksaan kesehatan, evaluasi juga akan diarahkan pada penyelenggaraan pertandingan di perairan terbuka.
Menurut Taj Yasin, pertandingan di lokasi perairan memiliki risiko tersendiri sehingga membutuhkan langkah antisipasi dan sistem pengamanan yang memadai.
Ia menambahkan, penyelenggara Porprov telah melakukan sejumlah langkah perlindungan, termasuk mendaftarkan atlet dalam program perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
Meski demikian, kejadian yang menimpa Syabila menjadi pengingat bahwa perlindungan atlet tidak cukup hanya melalui administrasi dan jaminan pembiayaan. Kesiapan fisik, pemeriksaan kesehatan, pengawasan, serta mitigasi risiko selama pertandingan juga harus menjadi perhatian.
Kepergian Syabila meninggalkan duka bagi keluarga dan dunia olahraga Jawa Tengah. Namun, tragedi ini juga membawa pesan penting: prestasi olahraga harus berjalan beriringan dengan jaminan keselamatan bagi setiap atlet.
Jangan sampai perjuangan seorang atlet untuk mengharumkan nama daerah justru harus dibayar dengan kehilangan nyawa.
Repcam : Yovi Nugroho, Editor : Heru Warsito





