Sleman, KabarTerkiniNews.co.id – Penghargaan Best Airmanship and Safety dalam Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Tim ABIMANYU Universitas Islam Indonesia (UII) meraih
Penghargaan tersebut diraih pada debut tim di tingkat nasional setelah melalui serangkaian riset, pengujian pesawat, dan perbaikan mekanisme peluncuran.
KRTI 2026 diselenggarakan pada 21–25 September 2026 di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan. Kompetisi ini diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bekerja sama dengan Otorita IKN dan Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Tim ABIMANYU mengikuti dua divisi, yakni Racing Plane dan Fixed Wing. Keberhasilan melaju ke tingkat nasional menjadi pencapaian penting bagi tim yang baru terbentuk pada akhir 2024 di bawah UNISI Robotic, sebagai wadah mahasiswa untuk mengembangkan inovasi pesawat di Laboratorium Inovasi dan Robotik UII.
Tim ABUMANYU terdiri dari 29 mahasiswa UII dari berbagai latar belakang program studi. Latifah Citra Mahkota dari Teknik Elektro mengatakan tahun ini merupakan debut pertama ABIMANYU di ajang nasional KRTI dan berhasil meraih 1 penghargaan.
“Ini di luar ekspektasi kami karena tahun pertama masih banyak trial and error tidak disangka akan membuahkan hasil seperti ini,” kata dia, Selasa (26/10/2026).
Dirinya menjelaskan, perjalanan tim tidak selalu berjalan mulus. Pada KRTI 2025, pesawat yang dipersiapkan untuk divisi Fixed Wing mengalami kecelakaan saat latihan terbang sebelum seleksi wilayah.
Kegagalan tersebut mendorong tim melakukan persiapan lebih intensif sejak April 2026, mulai dari riset desain pesawat, pemilihan komponen elektronik, hingga pengujian mekanisme peluncuran.
Upaya tersebut dilakukan di tengah keterbatasan fasilitas pada masa awal pembentukan tim. Anggota tim bahkan pernah melakukan riset dan perakitan pesawat hingga malam hari dengan penerangan laboratorium yang minim.
Mereka membagi pekerjaan ke dalam tim riset, desain, elektronik, dan mekanik untuk memastikan setiap komponen dapat berfungsi sebagai satu kesatuan.
“Pulang malam menjadi sesuatu yang sangat biasa sekali bagi kami, kemudian pagi harinya lanjut kelas setelah itu lanjut ngoprek (riset) kembali dan hari hari sampai mendekati nasional,” ujarnya.
Salah satu momen penentu terjadi sehari sebelum perlombaan nasional. Saat uji terbang, juri menilai mekanisme launcher atau alat peluncur pesawat belum memenuhi aspek keselamatan.
Tim kemudian memperbaiki mekanisme tersebut sepanjang malam. Bahkan, pada pukul 07.00 sebelum perlombaan, anggota tim masih melakukan pengelasan untuk menyempurnakan sistem peluncuran.
Perbaikan itu membuahkan hasil. Mekanisme peluncur berhasil menerbangkan pesawat saat perlombaan dan mendapat apresiasi juri.
Ke depan, tim ABIMANYU berharap pencapaian ini mendorong lebih banyak mahasiswa UII terlibat dalam ekosistem riset dan kompetisi.
Mereka menargetkan prestasi yang lebih tinggi pada KRTI berikutnya serta kesempatan berkompetisi di tingkat internasional.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari penghargaan Best Airmanship and Safety yang diraih tim pada divisi Racing Plane.
“Selain keterampilan teknis, kompetisi ini mengasah kemampuan kerja sama, pemecahan masalah, manajemen waktu, dan kompromi antaranggotanya. Tim juga memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan aerodinamika, elektronika, serta mekanika yang tidak seluruhnya dipelajari secara langsung di ruang kuliah,” terangnya.
Andri Tiyo





